Peluang Praktek Dokter Saintifikasi Jamu di Era BPJS
Tanggal Posting : Senin, 21 Oktober 2019 | 07:47
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 179 Kali
Peluang Praktek Dokter Saintifikasi Jamu di Era BPJS
Panitia dan Narasumber: Kuliah Tamu Blok Pengobatan Komplememter Herbal, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, di Solo pada Rabu, 16 Oktober 2019.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Dokter yang memiliki kompetensi Saintifikasi Jamu berpeluang untuk menggunakan herbal/Jamu pada praktek mandiri, namun penggunaan Jamu dibutuhkan EBM (Evidence Based Medicine ) melalui penelitian.

Demikian dikemukan oleh dr. Danang Ardiyanto, Peneliti dan Koordinator Rumah Riset Jamu Hortus Medicus, B2P2TOOT, Tawangmangu pada Kuliah Tamu Blok Pengobatan Komplememter Herbal, Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, di Solo pada Rabu, 16 Oktober 2019.

Tampil pada kegiatan ini dua narasumber yaitu Prof. Dr, Edy Meiyanto, M.Si, Apt.- Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, dengan judul presentasi: Potensi Tanaman Obat Asli Indonesia sebagai Anti Kanker, dan dr. Danang Ardiyanto- B2P2TOOT, Tawangmangu, dengan presentasi berjudul: Peluang Praktek Dokter Saintifikasi Jamu d Era BPJS.

Mengawali presentasinya, dr. Danang Ardiyanto menjelaskan bahwa Jamu sebagai Obat Asli Indonesia, dalam sejarahnya dapat ditelusuri antar lain telah terdapat pada: 1. Relief Karmawibhangga Candi Borobudur, 2. Jamu (Jampi): Bahasa Jawa, dapat ditemukan pada naskah kuno, seperti Ghatotkacasraya (Mpu Panuluh), 3. Serat Centhini (1814.), 4. Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi (1831).

Sedangkan dari Hasil RISKESDAS Upaya Kesehatan Tradisional: RISKESDAS 2010: 59,12% orang Indonesia konsumsi herbal untuk menyehatkan, RISKESDAS 2013: 30,4% rumah tangga menggunakan cara tradisional untuk kesehatannya, RISKESDAS 2018: 44,3% masyarakat menggunakan yankestrad baik melalui praktisi kestrad maupun upaya sendiri.

Secara empiris, lanjut dr. Danang Ardiyanto, bahwa Jamu berkhasiat turun-temurun, sedikit data ilmiah, kemudikan dilakukan proses LITBANG- Program Saintifikasi Jamu, sehingga diperoleh Evidence Based Medicine (EBM) untuk pelayanan kesehatan formal yang menuntut bukti ilmiah.

Tujuan dan Manfaat Saintifikasi Jamu (Permenkes 003 Tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu). Pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan:

  • Memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu
  • Mendorong jejaring peneliti dan pelayanan jamu (dual system)
  • Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, bermutu dan berkhasiat

Saintifikasi Jamu: program Kementerian Kesehatan berupa upaya dan proses pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.Tujuannya untuk meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan.

Jamu Saintifik: hasil penelitian program Saintifikasi Jamu berupa ramuan jamu yang dinyatakan aman dan berkhasiat setara dengan obat standar berdasarkan hasil uji klinik.

Metodologi Penelitian Saintifikasi Jamu. Data Dasar: Studi Etnomedisin & Etnofarmakologi. Evaluasi Manfaat & Keamanan: 1. Formula Empiris: Uji Klinik Fase 2 (Pre-Post), Uji Klinik Fase 3 (desain RCT tanpa ketersamaran). 2. Formula Baru: Uji Praklinik, Uji Klinik Fase 1,2,3. Orientesi Produk Komersil: Produk Fitofarmaka (UJI Praklinik, Uji Klinink Fase 1, Uji Klinik Fase 2, Uji Klinik Fase 3). Tahapan dan persyaratan uji pra klinik dan uji klinik sesuai aturan yang berlaku (Badan POM).

Hasil Penelitian. Tga Parameter Utama: Safety (Keamanan), Efficacy (khasiat dan manfaat), Patient Report Outcome (QoL).

Parameter efikasi/khasiat: Gejala Klinis, Laboratoris. Parameter KEAMANAN/SAFETY: Efek Samping KTD, Fungsi Hati, Fungsi Ginjal. Parameter Pro (Patient Reported Outcome): Parameter Kualitatif, Mengukur Kualitas Hidup. Contoh : SF 36.

Bahan Baku: Untuk mendapatkan respon klinik yang bagus diperoleh dari bahan baku yang berkualitas, Prinsip GAP, GMP, Quality control pada setiap proses penyiapan bahan baku.

Standar Pelayanan: Prinsip Pasien Safety : Jenis penyakit yang ditangani, Informed Consent, Formularium Obat Tradisional yang dipakai. Promosi & Informasi: Peluang Pengembangan Wisata Kesehatan Tradisional.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) adalah satuan kerja di Bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. yang memiliki tugas melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang tanaman obat dan obat tradisional

Visi: Menjadi institusi rujukan penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional
Misi: Meningkatkan mutu litbang, Mengembangkan hasil litbang, Meningkatkan pemanfaatan hasil litbang.

Menurut PERPRES NO. 111 Tahun 2013, Pasal 25, Pelayanan yang Tidak Dijamin BPJS, antara lain: Pengobatan komplementer, alternatif dan tradisional, termasuk akupuntur, shin she, chiropractic, yang belum dinyatakan efektif berdasarkan penilaian teknologi kesehatan (health technology assessment). Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2019. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: