Kapasitas Farmasis Optimalkan Pemanfaatan Obat Herbal Indonesia
Tanggal Posting : Selasa, 30 November 2021 | 04:24
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 411 Kali
Kapasitas Farmasis Optimalkan Pemanfaatan Obat Herbal Indonesia
Profesi Farmasis memiliki peran sangat strategis di dalam pengembangan dan pemanfaatan Obat Herbal Indonesia untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Ketua Masyarakat Farmasi Indonesia (MFI), Brigjen Pol (P) Drs. H. Mufti Djusnir, MSi., Apt. menegaskan bahwa Farmasis memiliki kapasitas yang tinggi dalam upaya mengoptimalisasikan pengembangan dan pemanfaatan obat herbal Indonesia.

Farmasis/Apoteker memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya-upaya kemandirian obat nasional, yang berbasis biodiversitas yang sangat banyak sumber daya alamnya tumbuh di Indonesia.

"Dalam draft RUU yang diusulkan oleh MFI, Pelayanan Farmakoterapi dengan  Obat herbal Indonesia merupakkan salah satu bentuk dan jenis Praktik Mandiri dari Apoteker Indonesia. Pelayanannya bersifat komprehensif, mulai dari pemilihan bahan sesuai keahlian Apoteker, peracikan, pengemasan, konsultasi, pendampingan selama proses terapi dan dokumentasi," ungkap Mufti Djusnir menjawab pertanyaan Redaksi JamuDigital.Com pada Senin, 29 November 2021.

RUU dari MFI, lanjut Mufti Djusnir, sudah memasukkan Jamu/obat tradisional, dan uraiannya sudah sangat jelas.

Apa peran apoteker untuk mendukung pengembangan obat herbal Indonesia? "Menggunakannya sebagai pilihan terapi oleh apoteker,  ini yang diinisiasi oleh RUU Farmasi & Praktek Keapotekeran," imbuhnya.

OMAI Mendunia

Lantas kenapa Fitofarmaka yang telah lulus uji klinis, bagaimana agar dapat menjadi pengobatan dalam sistem JKN? Kenapa  obat herbal teruji klinis belum dapat masuk FORNAS?

Selain masih minim EBM (evidence based medicine) juga karena klaim khasiatnya belum menyentuh pengobatan penyakit katastropik.

Apa kendala obat herbal teruji klinis belum dapat masuk dalam formularium nasional? Jamu itu masih minim EBM, padahal untuk masuk dalam FORNAS harus didukung dengan EBM.

Jawaban pertanyaan terkait kenapa ada kendala pengembangan obat herbal di Indonesia, tetapi kita sebenarnya dapat belajar dari Tiongkok, Jepang dan Korea yang sukses mengintegrasikan obat herbalnya ke dalam sistem kesehatan nasionalnya.

Dana riset digelontorkan besar-besaran oleh pemerintah mereka masing-maing, Mufti Djusnir menambahkan.

Kondisi di Indonesia, pada umumnya narasi yang dikembangkan adalah apoteker ikut mengembangkan obat tradisional dengan membanggakan banyaknya penelitian tentang obat tradisional di kampus-kampus.

Padahal penelitian-penelitian tersebut tatarannya masih pra klinis, bahkan invitro yang sangat jauh dari EBM yang dibutuhkan sejawat medis dalam penggunaannya.

Bukan sekedar riset-riset biasa yang biasanya dikerjakan di kampus-kampus di Indonesia, riset-riset di kampus itu terus terang banyak membuang uang saja.

"Di dalam RUU Farmasi & Praktek Keapotekeran, pelayanan obat tradisional menjadi salah satu jenis pelayanan kefarmasian oleh Apoteker.  Selain itu, di Bab Farmasi, obat tradisional kita berikan bahasan pada BAB tersendiri," papar Mufti Djusnir menegaskan.

Itulah kenapa dalam draft RUU dari MFI, kita menginisiasi Apoteker dapat menggunakan Jamu sebaga pilihan obat untuk terapinya. Insyaa Allah dengan UU Farmasi dan Praktik Keapotekeran, perkembangan Jamu di Indonesia menjadi andalan dalam pengobatan nasional. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: