Hipmi Optimis Bangkitkan Industri Herbal di Indonesia
Tanggal Posting : Minggu, 14 Februari 2021 | 08:51
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 1218 Kali
Hipmi Optimis Bangkitkan Industri Herbal di Indonesia
Hipmi kunjungan ke tempat produksi obat dari bahan dasar herbal bersama Pakar Tanaman Obat/Herbal di Apotik Herbal dr. Johnny Sidhajatra, Tangerang Selatan, Sabtu, 13 Februari 2021.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Prospek industri herbal dan jamu diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan pesat, baik di pasar domestik maupun global. Sayangnya peluang itu belum dapat dimanfaatkan maksimal, meskipun Indonesia mempunyai varietas bahan baku untuk produk jamu dan herbal terbesar di dunia.

Ketua Bidang Kemaritiman, Pertanian, Kehutanan & Lingkungan Hidup Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) Robert Muda Hartawan mengatakan, peluang sektor industri herbal yang menjadi salah satu primadona di pasar domestik maupun ekspor masih belum optimal.

Tapi Ia optimistis, potensi industri sektor tersebut di Indonesia akan terus tumbuh dan berkembang. Hal ini seiring bertambahnya jumlah penduduk terutama adanya bonus demografi dan peningkatan daya beli masyarakat.

"Dalam kondisi pandemi Covid-19, kami melihat banyak bisnis yang tidak jalan. Salah satu bisnis yang tidak terganggu pandemi yaitu di bidang kesehatan," ujar Robert, saat melakukan kunjungan ke tempat produksi obat dari bahan dasar herbal bersama Pakar Tanaman Obat/Herbal, di Apotik Herbal dr. Johnny Sidhajatra, Cirendeu, Tangerang Selatan, Sabtu, 13 Februari 2021.

Menurutnya, budaya hidup sehat terbagi menjadi dua versi, yaitu pengobatan yang menggunakan kimiawi dan pengobatan herbal seperti jamu-jamuan. Pengobatan herbal merupakan suatu budaya yang memiliki nilai bisnis yang besar jika digali potensinya.

"Barangkali bisa kita kerjasamakan untuk terlibat di dalam bisnis herbal ini. Sektor industri ini menjadi andalan, karena pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi. Apalagi produknya lagi diminati di pasar global," ucapnya.

Selain itu, lanjut Robert, Indonesia mempunyai potensi karena bahan bakunya banyak serta tumbuhnya masyarakat kelas menengah. Industri obat tradisional menjadi salah satu sektor andalan.

"Artinya, kelompok industri ini diprioritaskan pengembangannya karena berperan besar sebagai penggerak utama perekonomian nasional di masa yang akan datang. Selain pemenuhan terhadap regulasi dari sisi kesehatan, juga diperlukan fasilitasi atau pembinaan untuk menjamin standar dan kualitas produk," ungkapnya.

Apalagi, kata Robert, peluang besar di pasar Indonesia juga hadir lantaran adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yang jumlah pesertanya melebihi 200 juta jiwa. Tentunya, pemerintah tidak bisa jalan sendiri untuk mengawal kebijakan industri tersebut.

"Peran kementerian dan lembaga terkait seperti Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sangat penting sebagaimana peran asosiasi dunia usaha sebagai mitra pemerintah dalam memberikan masukan serta evaluasi kebijakan kepada pemerintah," tuturnya.

Oleh karena itu, Robert menambahkan, era industri 4.0 merupakan momentum untuk melakukan transformasi digital yang akan dapat menciptakan nilai tambah baru dalam industri herbal. Misalnya, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan digital mulai dari proses produksi dan distribusi ke tingkat konsumen melalui e-commerce.

"Dengan adanya e-commerce, penjualan dari pelaku industri ke konsumen akan semakin mudah sehingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga bisa bersaing dengan industri skala besar," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Herbalis sekaligus Pemilik PT. Terapi Alam Nabati dengan brand Herbacure Adriana Indrajatri Suwono mengatakan, Indonesia perlu lebih agresif mengembangkan penelitian terhadap tanaman dan bahan baku herbal yang bisa dimanfaatkan pelaku industri mengembangkan produknya.

Ke depan, kerja sama balai penelitian dan pengembangan milik pemerintah, perguruan tinggi maupun pelaku industri menjadi sangat penting dan langkah strategis, agar nilai tambah sumber daya alam yang semakin meningkat tidak menjadi sia-sia.

"Herbal di Indonesia yang kaya ini tidak bisa berkembang seperti di China, terbatas untuk jamu-jamuan saja tapi tidak bisa sampai ke level pengobatan. Industri di sektor ini masih terabaikan oleh berbagai pihak terkait. Saat trend dunia kian mengarah ke produk herbal, industri herbal dan jamu nasional masih belum bisa berkembang sesuai dengan potensi sesungguhnya," ujarnya.

Ia mengimbau, jika bisa dipertimbangkan obat-obatan herbal masuk ke dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), barangkali bisa mengurangi beban di JKN.

"Akan banyak dihadapkan pada tantangan mengelola program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)," ucapnya.

Kemudian, Pakar Herbal sekaligus Anggota Asosiasi Pengobat Tradisional Indonesia (Aspetri) Lukas Tersono Adi mengatakan, untuk meningkatkan standar produk herbal dan jamu, sejak 2011 BPOM sebagai lembaga yang berwenang mengawasi obat dan makanan telah mengeluarkan aturan berupa Persyaratan Teknis Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Tujuannya antara lain meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk obat tradisional Indonesia dalam menghadapi persaingan global.

"Namun, langkah meningkatkan standar mutu produk herbal dan jamu juga perlu diikuti oleh pengembangan produk sejalan dengan kian beragamnya kebutuhan dan konsumen. Sebagai gambaran, Tiongkok yang hanya memiliki 13.000 jenis herbal mampu membuat lebih dari 10.000 resep obat herbal. Namun di Indonesia, resep ini masih terbatas," ungkap Konsultan Herbal Herbacure itu. (Sumber: https://investor.id/business/hipmi-yakin-bisa-bangkitkan-industri-herbal-di-indonesia). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: