Riset Biodiversitas Tersulit untuk Dikolaborasikan. Baru Sedikit Spesies Menjadi Bahan Baku Obat
Tanggal Posting : Kamis, 5 Mei 2022 | 21:31
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 42 Kali
Riset Biodiversitas Tersulit untuk Dikolaborasikan. Baru Sedikit Spesies Menjadi Bahan Baku Obat
Baru sedikit biodiversitas Indonesia yang diproduksi menjadi bahan baku obat. Padahal potensinya sangat besar. Apa kendalanya? Simak paparan Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko.(Foto: Dok. ObatNews)

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Indonesia sebagai negara mega biodiversitas sejatinya sangat pontsial dijadikan sumber bahan obat-obatan. Namun, dari lebih 30.000 spesies di daratan, hanya sekitar 50 yang benar-benar telah menjadi obat.

Salah satu kendalanya, riset bidang biodiversitas dan energi merupakan riset yang sulit dikolaborasikan.

Demikian diungkapkan oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko saat menjadi narasumber program RRI- Indonesia Menyapa Pagi, Rabu, 4 Mei 2022.

Pada dialog bertema "G20 Perlu Rumuskan Kerja Spesifik Riset Kehati (Biodiversitas) dan Energi," Laksana Tri Handoko menyebutkan kendala utamanya sulitnya dikolaborasikan riset bidang biodiversitas dan energi.

Bagaimana kendala, dan solusi terbaik untuk mengatasinya? Berikut ini, kutipan pendapat Kepala BRIN, sebagaimana dipublish di web BRIN.

Indonesia masih memiliki kegiatan besar di penghujung 2022, yaitu G20. Sebagai tuan rumah, Indonesia masih memiliki waktu mempersiapkan segala sesuatu, meskipun sudah banyak juga kegiatan menuju puncak perhelatan Presidensi G20 Indonesia dilakukan oleh berbagai pihak.

Kepala BRIN menjelaskan, dalam kesempatan Presidensi G20 Indonesia, BRIN melakukan pertemuan Research and Innovation Initiative Gathering (RIIG), sebuah pertemuan para menteri riset dan inovasi dari berbagai negara.

Handoko menegaskan, BRIN lembaga baru bagi Indonesia dan dunia. "BRIN sebagai role model lembaga yang melakukan aktivitas riset dan inovasi, bukan hanya di Indonesia melainkan juga di dunia," ulasnya.

Melalui RIIG, BRIN membangun dan melakukan kolaborasi. "Kami berinisiatif menjual kolaborasi potensi riset yang dilakukan bersama Indonesia, khususnya di topik pangan dan energi," jelasnya.

Laksana menguraikan, ada dua fokus yang ditekankan dalam RIIG. Pertama, bagaimana Indonesia dapat memperkuat kolaborasi sharing fasilitas.

Kedua, bagaimana mengatur tata kelola kolaborasi riset multinegara. "Keduanya difokuskan agar kita bisa melakukan kolaborasi riset di masa mendatang," paparnya.

Handoko mengungkapkan bahwa pangan dan energi adalah dua topik yang tersulit dilakukan selama ini.

"Karena pangan dan energi, termasuk biodiversitas adalah modal dasar di negara masing-masing. Sehingga, ia menyebutkan, ada kekhawatiran di masing-masing negara dan potensi penyalahgunaan tinggi. Energi juga demikian. Energi terkait kedaulatan negara," urainya.

Mengenai kolaborasi, menurutnya, komunitas periset sudah mulai menyadarinya sejak mulai pandemi. "Sejak itu, kita mulai mengubah cara berfikir bahwa kita tidak bisa berjalan sendirian," ungkapnya.

Setelah pandemi ada perang, menurut Handoko, itu menunjukkan hal yang berbeda. Namun ini membuktikan energi dan pangan biodiversitas memang sesuatu yang sulit dikolaborasikan, karena tata kelolanya juga belum pernah ada.

"Untuk itu momen G20 dinilai tepat untuk mendukung inisiatif Indonesia melakukan tata kelola tersebut," tambahnya.
Konkretnya, ia menyebutkan, Indonesia memiliki 30 ribuan species di darat, belum di laut. Hanya 50 species yang sudah benar-benar jadi obat.

"Mengapa hanya sedikit? Karena kita belum mampu melakukan riset sendirian hingga menjadi produk. Untuk itu perlu kolaborasi," tegasnya.

"Sekarang, kita sudah jauh lebih percaya diri karena kita punya kapasitas dan kompetensi dan sumber daya yang sudah terintegrasi. Kita punya standing position yang lebih kuat sebagai inisiator dan leader tata kelola riset kolaborasi," tandasnya.

Setelah integrasi di BRIN, Indonesia punya fasilitas infrastruktur riset yang diperhitungkan. Misalnya, Indonesia memiliki armada kapal riset yang terbesar di antara negara G20. "Kita berharap hasil riset berskala global yang bukan hanya untuk Indonesia tapi juga dunia," pungkasnya. (Sumber Berita: https://www.obatnews.com/figure/pr-4463345223/biodiversitas-bidang-riset-tersulit-dikolaborasikan-masih-sedikit-spesies-diproduksi-menjadi-obat......). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: