Keberpihakan Mengembangkan Jamu Indonesia
Tanggal Posting : Selasa, 28 April 2020 | 16:32
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 454 Kali
Keberpihakan Mengembangkan Jamu Indonesia
Semua komponen bangsa seharusnya mendukung Keberpihakan Mengembangkan Jamu Indonesia agar kuat di pasar nasional dan mendunia.

JamuDigital.Com -PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Ditengah situasi bangsa Indonesia menghadapi pandemi ’Virus COVID-19’,  ada momentum yang tepat untuk mengokohkan brand Jamu Indonesia berkibar tinggi di langit Indonesia, kalaupun saat ini belum mampu berkibar di langit dunia.

"Diperlukan keberpihakan semua komponen bangsa untuk megembangkan Jamu Indonesia sebagai komoditas unggulan berdaya saing tinggi- yang memiliki aspek dimensi yang lengkap, yaitu: dimensi kesehatan, ekonomi, teknologi, dan sosial-budaya."

Semua ahli kesehatan dunia, sepakat bahwa dengan belum ditemukannya obat COVID-19, maka peningkatan daya tahan tubuh seseorang akan jadi benteng untuk menangkal virus Corona. Jamu Indonesia dengan dukungan sumber daya alam yang berlimpah, tersedianya produk untuk meningkatkan imunitas tubuh yang dihasilkan para produsen Jamu- tentunya dapat menjadi pilihan utama.

PERTAMA-PERKUAT BRAND. Pada awal-awal kasus COVID-19 diumumkan pemerintah, brand Jamu meningkat signifikan. Pasar-pasar tradisional yang menjual empon-empon mendadak laris-manis. Layaknya hukum ekonomi, begitu demand meningkat, sementara supply tetap, maka harga akan merambat naik. Namun, kenaikan harga itu relatif masih terjangkau bagi masyarakat.

Namun, euphoria ini mendapat gangguan yang serius dengan beredarnya informasi yang tidak akurat tentang empon-empon yang menyebut bahwa tidak baik JIKA DIMINUM SAAT ADA PANDEMI COVID-19.

Kendati sudah banyak klarifikasi tentang tidak akuratnya informasi tersebut, tetapi masyarakat sudah terlanjur terbelah. Yang awalnya menjadikan Jamu sebagai pilihan untuk meningkatkan imunitas tubuh, mendadak menjadi ragu-ragu bahkan langsung melupakan. Yang lain, tetap bertahan, karena percaya terhadap manfaat Jamu.

Sebagai media online khusus Jamu, JamuDigital.Com termasuk yang paling cepat dan lengkap dalam memberikan klarifikasi tentang Empon-Empon dengan menampilkan para profesor farmasi dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Setelah klarifikasi itu, perlahan brand Jamu kembali pulih, walau tetap meninggalkan ’cacat’ persepsi yang tidak serta merta terhapus begitu saja. Persepsi publik itu sangat subyektif- dan tidak mudah dengan cepat membalikkan, jika ada kabar yang ’menyesatkan’ untuk dipulihkan kembali. Perlu waktu dan proses. Inilah serangan pertama terhadap Jamu, saat pandemi COVID-19.

Berita Terkait: Empon-Empon Aman Dikonsumsi Saat Pandemi Corona

Berita Terkait: HerbaVid-19 dari Satgas DPR, Mayoritas dari Herbal Indonesia

KEDUA KEBERPIHAKAN. Dalam era perdagangan bebas, sekat-sekat antar negara memang sudah tidak memungkikan diadakan lagi dalam platform perdagangan. Tetapi, keberpihakan kepada potensi dalam negeri, tetap menjadi priotitas, dan itu pasti dilakukan oleh semua negara.

Termasuk dalam hal potensi Jamu, semestinya juga mendapat political will yang kuat dari semua komponen bangsa: birokrat, legislator, akademisi, komunitas, asosiasi dan juga media sebagai salah satu ujung tombak membangun branding.

Menjadi kewajiban Ketua Umum GP Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman untuk menyampaikan tuntutuan, agar Jamu Indonesia mendapat tempat yang sama terhormatnya dengan produk impor, sehingga produk nasional dapat terus tumbuh dan berkembang.

Tuntutan kesamaan perlakuan itu, juga pasti menjadi tuntutan bersama dari para pengusaha Jamu se Indonesia, yang sudah berskala internasional, nasional, atau UMKM yang berbasis ekonomi kerakyatan.

Para anggota GP. Jamu dengan sungguh-sungguh mematuhi regulasi, tentu juga ingin produknya mendapat kesempatan berkembang. "Kalau saya sebagai Ketua Umum GP. Jamu mempertanyakan adanya produk herbal yang dapat masuk di rumah sakit untuk pasien COVID19 tentu hal wajar saja. Wajar anggota kami cemburu," urai Dwi Ranny Pertiwi saat berdiskusi pada Selasa petang, 28 April 2020.

Dalam pandangan Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr. Inggrid Tania, M.Si (Herbal), adanya kesamaan pemberlakuan aturan untuk semua pengusaha Jamu tentu sangat penting. Misalnya, sediaan Jamu yang beredar di Indonesia harus mencantumkan komposisi dan manfaatnya, diproduksi oleh siapa.

"Sehingga masyarakat mengetahui produk yang digunakan. Kalau kita tidak tahu komposisinya, diproduksi oleh siapa dan dimana tempatnya, terus gimana?" papar dr. Inggrid Tania pada Selasa siang, 28 April 2020.

Ada 3 produk herbal yang didonasikan Satgas Lawan COVID19 DPR ke rumah sakit rujukan pasien COVID19, yaitu: Lianhua Qingwen Capsules (POM TI 144 348 471), Huo Xiang Qi Kou Fu Ye (POM TI 144 645 381), dan HerbaVid19- ramuan cair yang menurut peramunya William Adi Teja terbuat dari 11 simplisia, 8 dari herbal Indonesia, 3 simplisia masih import., diracik di Indonesia.

Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, pasti semua elemen masyarakat ingin saling berkontribusi. Namun, untuk hal-hal yang memang harus mengikuti regulasi, memang sudah sewajarnya melalui proses yang sudah ditetapkan dan diberlakukan oleh otoritas terkait. Keberpihakan untuk mengembangkan Jamu Indonesia, tentu juga bagian dari memajukan bangsa.

Salam Sehat, Jamu Indonesia Mendunia!

Karyanto, Founder JamuDigital

Depok, 28 April 2020


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: