HerbaVid-19 dari Satgas DPR, Diproduksi dan Mayoritas dari Herbal Indonesia
Tanggal Posting : Selasa, 28 April 2020 | 00:05
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 6562 Kali
HerbaVid-19 dari Satgas DPR, Diproduksi dan Mayoritas dari Herbal Indonesia
HerbaVid-19 yang didonasikan oleh Satgas Lawan COVID-19 DPR RI. kepada RS Rujukan yang merawat pasien COVID-19.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Pandemi COVID-19 di tanah air, mendorong banyak pihak saling berpartisipasi menunjukkan kepeduliannya. Termasuk DPR RI. yang membentuk Satgas Lawan Covid-19 DPR RI. yang dipimpin Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI.

Atas pengalaman pribadinya sembuh dari COVID-19, dengan mengkonsumsi ramuan yang komposisinya mirip dengan herbal China yang digunakan di Wuhan, dari seorang Pakar TCM (Traditional Chinese Medicine) di Jakarta, maka Sufmi Dasco Ahmad memesan 3.000 paket herbal yang diberi nama HerbaVid-19, dan diserahkan ke Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta pada Selasa, 14 April 2020.

Gonjang-ganjing kemudian mengemuka, pada saat Komisi VI DPR RI. mengadakan RDPU dengan sejumlah asosiasi, termasuk dengan GP. Jamu, pada Senin, 27 April 2020, dan beritanya dalam waktu singkat tampil di sejumlah media online. Detik.com, misalnya menulis berita berjudul: "Pengusaha Kritik Satgas COVID-19 DPR Impor Jamu dari China," berikut ini kutipan beritanya:

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) Dwi Ranny Pertiwi menuding Satuan Tugas (Satgas) Lawan Covid-19 DPR RI mengimpor obat tradisional asal China sehingga membuat jamu buatan lokal kalah pamor di tengah pandemi COVID-19.

"Saya melihat Satgas DPR RI mengimpor jamu dari luar secara besar, sehingga saya orang Indonesia Ketua GP Jamu saya terus terang keberatan dengan hal ini, karena yang saya tahu formula yang ada di dalam jamu impor itu yang diberikan oleh Satgas DPR RI itu juga kami bisa buat," kata dia dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi VI DPR RI secara virtual, Senin (27/4/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Dr. Inggrid Tania mengungkapkan, berdasarkan temuan pihaknya, obat tradisional dari China itu mulai digunakan untuk pasien Corona di Indonesia.

"Ini fenomena kenapa bisa ada obat tradisional China di rumah sakit rujukan COVID-19, sementara jamu kita tidak mendapatkan kesempatan untuk diberikan kepada pasien di rumah sakit rujukan COVID-19. Sementara obat impor dari China mendapat kesempatan itu," jelasnya, sebagaimana diberitakan oleh www.detik.com (https://finance.detik.com/industri/d-4993210/pengusaha-kritik-satgas-covid-19-dpr--impor-jamu-dari-china)

Berita Terkait: DPR Serahkan Panduan Penanganan Corona

HerbaVid-19 Komposisinya Mayoritas Herbal Indonesia

Untuk mengurai ’kisruh’ kehadiran HerbaVid-19 ditengah pandemi Corona ini, Redaksi JamuDigital.Com menyisir sumber-sumber informasi yang dapat memastikan seluk-beluk HerbaVid-19. Pada Senin malam, 27 April 2020, berhasil mendapatkan kontak dari pakar TCM yang memformulasikan HerbaVid-19, dan kemudian menyiapkan sebanyak 3.000 paket yang dipesan oleh Sufmi Dasco Ahmad. Dia adalah: William Adi Teja, tinggal di Jakarta. William mengambil kuliah S-1 di Beijing University of Chinese Medicine, dan melanjutkan kuliah S-2 di China Academy of Chinese Medical Science.

Berikut ini, penjelasan William Adi Teja kepada Redaksi JamuDigital.Com:

"Saya cerita dulu kalau gitu Pak. Jadi, sejak munculnya buku Panduan penanganan COVID-19 yang disusun oleh otoritas kesehatan China, yang didalamnya ada beberapa resep herbal China. Maka Pak Dasco meminta saya untuk mempelajari isi dan membuat ramuan herbal yang cocok buat di Indonesia.

Dari buku tersebut, resep-resep yang digunakan itu menurut saya ada beberap masalah:

  • Resep itu tidak cocok digunakan di Indonesia karena perbedaan cuaca, lingkungan dan karakteristik penduduknya. Pepatah kuno mengatakan: "obat kita itu yach ada disekitar kita." "tanah kita itu yang memberi makan kepada kita."
  • Semua resep yang digunakan dalam buku panduan tersebut, ada 2 macam obat yang tidak boleh dipakai di Indonesia.
  • Bahan obat yang dipakai harus import, sehingga kita akan sangat tergantung sekali dengan negara lain. Bukannya kita anti import, tapi dengan keadaan lalu lintas selama pandemi ini, ketergantungan bahan impor itu akan membuat kita semakin sulit.

Jadi bukan resep di panduan itu yang tidak bagus. Itu kan resep-resep yang sudah terbukti juga di China pada saat pandemi di Wuhan. Tapi Pak Dasco berpesan, dan ingin kalau bisa jangan 100 persen import. Maka saya mencoba mencari formulasi yang ada jurnalnya sebagai bukti bahwa bisa dipakai di Indonesia. Nah ketemulah Formula Yin qiao san (honeysuckle and forsythia formula).

Formula ini juga sudah ada sejak tahun 1798 di China sana, pada saat ada pandemi. Dan ada jurnal merekomendasikan formula tersebut untuk treatment COVID-19.

Dari formula tersebut, ada 8 jenis bahannya yang ada di indonesia, hanya 3 jenis yang harus import yaitu: honeysuckle, forsythia dan biji burdock. Saya tidak berani mengubah ketiga bahan resep itu, karena kalau diubah dengan bahan herbal Indonesia, saya takut akan mengubah fungsi dan efektifitas formula keseluruhan.

Tapi saya juga sampai sekarang terus mencoba mencari pengganti ketiga bahan tersebut, dengan harapan kita bisa membuat formula yang fungsinya sama dengan formula sekarang, tetapi 100 persen bahannya dari lokal. Ramuan HerbaVid-19 yang bahannya dari Indonesia, yaitu: Alang alang, Kemangi, Nilam, Jali-jali, Temulawak, Daun mint, Akar manis, Daun bambu.

Jadi itu kan sebenarnya bahan obat yang biasanya kita jual untuk dimasak sendiri di rumah. Tapi dangan kemajuan teknologi dan orang-orang zaman sekarang mereka malas masak dan takut gosong dan lain-lain.

Oleh karena itu, kita bantu mereka masak dan dipacking kemasan plastik, isinya 170 ml. Satu  bungkus, 1 kali minum. Sehari 2 kali.

Ini kan ceritanya sejak sebelum COVID-19 merebak di Indonesia, Pak Dasco sekeluarga minum resep ini. Dan kadang sudah dibagi0bagikan ke teman-teman beliau. Nah waktu Lak Dasco kena (COVID-19, Red), gejalanya tidak parah dan hanya beberapa hari saja. Oleh karena itu, Pak Dasco berinisiatif membagikannya."

Penegasan DPR, Tentang HerbaVid-19

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI., Melki Laka Lena saat dikonfirmasi oleh Redaksi JamuDigital.Com, pada Senin malam, 27 April 2020 menjelaskan bahwa HerbaVid-19 itu diproduksi di Indonesia, oleh orang Indonesia dan bahan-bahannya sebagian besar dari herbal Indonesia. "Bahan untuk ramuannya ada 11 jenis. Delapan jenis ada di Indonesia dan 3 lainnya diimpor dari China, karena belum ditemukan bahan apa yang pas untuk mengganti 3 herbal itu dengan herbal yang ada Indonesia.

"Kenapa harus gunakan tiga bahan obat tersebut yang masih diimport, karena mengacu kepada publikasi jurnal ilmiah internasional untuk mengobati COVID-9. Meramu obat herbal itu, kan harus ada dasar ilmiahnya," Melki Laka Lena menegaskan.

Tidak benar, lanjut Melki, jika bahan baku dalam HerbaVid-19 ada yang dilarang oleh pemerintah Indonesia. Jika ada, silahkan sebut bahan apa yang dilarang. Saat ini sedang berproses untuk mendapatkan izin edar dari Badan POM. Namun sudah konsultasi dan tidak ada bahan baku yang dilarang.

"Harusnya orang Jamu ini sinergi dengan DPR RI., malah Pak Dasco yang inisiasi penggunaan Jamu herbal lewat Satgas Lawan COVID-19 DPR Rl.," urai Melki Laka Lena. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: