Keamanan dan Efektivitas Obat Tradisional Vs Obat Sintetik
Tanggal Posting : Selasa, 12 November 2019 | 08:08
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 129 Kali
Keamanan dan Efektivitas Obat Tradisional Vs Obat Sintetik
Husniah Rubiana T. Akip. dari lkatan Dokter Indonesia DKI Jakarta, saat presentasi pada Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia ke-57 di UHAMKA Jakarta, 11 Oktober 2019.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Dr. Husniah Rubiana T. Akip., SpF., M.Kes., Sp.Ak., dari lkatan Dokter Indonesia DKI Jakarta, tampil pada Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia ke-57 di Kampus UHAMKA Jakarta, tangal 11 Oktober 2019 dengan menyampaikan materi tentang "Keamanan dan Efektivitas Obat Sintetik Dibanding Obat Tradisional terhadap Berbagai Penyakit."

Bahan obat tradisional dari tanaman, buah, bunga dan akar sebagai bahan baku yang telah digunakan sejak lama sebagai campuran formula obat herbal. Obat yang berasal dari alam ini dipercaya hampir tidak memiliki efek samping, sehingga memiliki nilai tambah dibanding obat kimia.

Pada awal presentasinya, Husniah Rubiana menjelaskan pengertian obat tradisional, obat herbal menurut WHO dan pengobatan tradisional. WHO Tradisional Medicine Strategy 2014-2023 memiliki tujuan mendorong penggunaan obat herbal yang aman dan efektif melalui regulasi, riset dan integrasi produk obat herbal, praktik dan praktisinya ke dalam sistem kesehatan.

WHO Tradisional Medicine Strategy 2014-2023 juga fokus mengembangkan norma, standard dan dokumen teknis berdasar data & informasi yang dapat dipercaya, untuk mendorong negara anggota menyediakan pelayanan OT yang aman, bermutu dan efektif dan integrase ke dalam sistem kesehatan untuk mencapai Universal health coverage and the sustainable development goals.

WHO menyampaikan hampir ¼ dari semua obat modern berasal dari bahan alam yang banyak diantaranya, sebelumnya secara empiris digunakan dalam pengobatan tradisional. Obat herbal merupakan sumber daya untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), juga untuk inovasi dan penemuan baru.

Husniah Rubiana juga menyampaikan keuntungan obat herbal: Penerimaan yang tinggi oleh pasien, relatif aman dan relatif murah, bagi banyak komunitas dan keluarga herbal banyak tersedia, harga terjangkau, bermanfaat dan dapat diterima secara kultural sebagai modalitas Yankes, Penggunaan obat herbal dapat memenuhi kebutuhan pelayanan terutama di daerah rural dan terpencil.

Syarat obat tradisional menurut Permenkes No. 007/2012 tentang Registrasi OT: Aman, Bermutu, dan Bermanfaat. Obat tradisional yang diedarkan di wilayah Indonesia wajib memiliki izin edar. Dan menurut dokumen teknis registrasi 2019, keamanan dan kemanfaatan Jamu harus dibuktikan secara empiris, sedangkan OHT harus dibuktikan secara ilmiah melalui uji pra klinik. Untuk Fitofarmaka harus dibuktikan secara uji klinik.

Obat herbal tidak selalu aman hanya karena berasal dari alam. Beberapa menimbulkan Efek Samping dan sebagian mengandung zat kimia yang dapat menimbulkan Efek Samping jangka panjang seperti karsinogen & hepatotosik. Obat herbal hanya mendatangkan manfaat apabila digunakan secara benar. Karenanya perlu pengawasan mutu dan standarisasi.

Mengenai toksisitas obat herbal, obat herbal mempunyai efek toksik yang melekat yang menimbulkan risiko tergantung penggunaan dan bentuk formulasinya.

Penggunaan obat herbal dalam sistem kesehatan konvensional memiliki beberpa kriteria diantaranya:

  • Menggunakan obat herbal asli Indonesia
  • Menggunakan obat herbal yang terbukti efektifitasnya melalui uji klinik
  • Mempunyai data keamanan paling tidak data toksisitas akut
  • Terjamin mutunya, diproduksi minimal secara CPOTB
  • Sediaan berbentuk formulasi modern.

Ketentuan umum formularium obat herbal asli Indonesia:

  • Formularium berisi daftar tanaman obat pilihan asli Indonesia yang secara ilmiah terbukti aman dan bermanfaat.
  • Herbal di dalam formularium digunakan dalam pelayanan kesehatan konvensional sebagai pelengkap yaitu digunakan bersamaan dengan obat konvensional, atau sebagai pengganti yaitu digunakan dalam keadaan obat konvensional tidak dapat diberikan.
  • Merupakan obat herbal tunggal, produk dibuat minimal berdasarkan CPOTB dan menggunakan bahan baku sesuai standar Farmakope herbal Indonesia.

Tingkat pembuktian ditetapkan (Level of Evidence) dengan standard/Harvard Medical School yang memusatkan informasi berbasis evidence mengenai keamanan, bahaya, interaksi, dan dosis dibagi menjadi 5 tingkat pembuktian:

  • Grade A: Bukti ilmiah kuat (Strong Scientific Evidence)
  • Grade B: Bukti ilmiah baik (Good Scientific Evidence)
  • Grade C: Pembuktian yang tidak jelas atau bukti ilmiah yang diperdebatkan (Unclear or Conflicting Scientific Evidence)
  • Grade D: Pembuktian ilmiah sangat negative (Fair Negative Scientific Evidence)
  • Grade E: Pembuktian ilmiah sangat negative (Strong Negative Scientific Evidence)

Di akhir presentasinya, Husniah Rubiana menyimpulkan bahwa paradigma kedokteran konvensional melalui evidence based medicine (EBM). Obat herbal yang digunakan difasilitas pelayanan kesehatan konvensional adalah obat herbal asli Indonesia yang ada evidencenya. Obat herbal yang dapat digunakan di fasyankes konvensional adalah obat herbal yang tercantum dalam formularium obat herbal asli Indonesia.

Perlu dikembangkan program penelitian yang intensif yang melibatkan berbagai pihak terkait tentang herbal, kedua sistem pengobatan konvensional dan tradisional ini, maka tempat pelayanannya harus dipisahkan pada fasilitas yang berbeda. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2019. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: