Dampak Pandemi COVID-19 Pada Ibu Menyusui
Tanggal Posting : Kamis, 6 Agustus 2020 | 11:00
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 273 Kali
Dampak Pandemi COVID-19 Pada Ibu Menyusui
dr. Fenny Yunita, M.Si., Ph.D. saat melakukan kegiatan Edukasi ASI di Jakarta beberapa waktu lalu.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Tema Pekan ASI Sedunia 2020 "Support Breastfeeding for a healthier planet". Bagaimana dampak pandemi COVID-19 terhadap ibu menyusui? Herbal alami Indonesia apa yang cocok untuk memperlacar produksi ASI?

Berikut ini, artikel: dr. Fenny Yunita, M.Si., Ph.D., Konselor Laktasi, Dosen & Peneliti Bahan Alam, Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) & Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional Komplementer Indonesia (PPKESTRAKI).

ASI adalah makanan alami yang diproduksi dan diberikan pada konsumennya tanpa mengakibatkan polusi, tanpa kemasan dan limbah. Jika kita mendukung ibu menyusui maka kita juga mengurangi polusi udara, air, dan tanah kita, melindungi generasi muda di masa depan. Menyusui juga menjamin ketahanan pangan bagi generasi muda kita pada kondisi gawat darurat maupun kondisi bencana alam. Maka marilah kita bersama mendukung menyusui demi melestarikan bumi kita tercinta.

Pandemi COVID-19 membawa dampak negatif bagi keberhasilan menyusui. Kunjungan ibu hamil dibatasi sehingga layanan konseling laktasi sebelum melahirkan yang merupakan salah satu kunci keberhasilan menyusui juga terhambat. IMD tidak berjalan karena menghindari kontak erat dengan ibu yang positif COVID-19.

Menyusui sesering mungkin sesuai kebutuhan bayi juga tak terlaksana. Pemberian ASI perah juga sulit terlaksana. Ibu dengan COVID-19 akan menerima obat-obat yang kemanannya pada bayi juga masih dipertanyakan. Pemberian ASI donor juga belum dapat terlaksana karena belum adanya Bank ASI. Penggunaan botol/dot meningkatkan risiko bayi bingung puting dan kontaminasi.

Apabila ibu terkonfirmasi positif COVID-19, maka bayi termasuk kontak erat risiko tinggi, sehingga IMD dan rawat gabung tidak dianjurkan, bayi diberikan ASI perah dengan protokol ASI perah yang benar, dan dilakukan swab. Bila ibu adalah suspek/tersangka COVID-19 maka bayi termasuk kontak risiko rendah yang juga tidak dianjurkan IMD dan rawat gabung, dan diberikan juga diberikan ASI perah, dan dilakukan swab.

Pemberian ASI perah dilakukan karena hingga saat ini penelitian membuktikan bahwa tidak ditemukan virus SARS COV-2 pada ASI ibu yang positif COVID-19. Bayi dapat menyusu langsung setelah hasil swab ibu negatif, dan diperlukan pendampingan untuk relaktasi. Apabila ibu memutuskan tidak memberikan ASI selama perawatan, maka tetap dianjurkan memerah ASI agar ketika telah pulih dan ingin menyusui kembali, produksi ASI tetap terjaga.

Bila ibu adalah termasuk katagori kontak erat, tidak positif,  maka dapat dilakukan IMD dan rawat gabung, serta boleh menyusui langsung atau minum ASI perah. Keputusan untuk IMD dan rawat gabung serta menyusui diserahkan pada ibu / keluarga dan disertai informed consent setelah memberikan informasi terkait manfaat menyusui dan potensi risiko penularan melalui kontak erat.

Apabila ibu memutuskan tetap melakukan IMD  dan rawat gabung, ibu bisa terus menyusui sambil menerapkan protokol higiene pernafasan meliputi penggunaan masker selama menyusui, cuci tangan dengan sabun sebelum dan setelah menyusui, membersihkan dan desinfeksi permukaan yang bersentuhan secara rutin.

Dalam setiap kondisi, peran konseling dan dukungan psikososial sangat penting. Termasuk untuk mendorong pelaksanaan IMD, rawat gabung dan menyusui pada ibu dan bayi bila tidak ada kontraindikasi.

Dalam perjuangan menyusui ada kalanya ibu-ibu menghadapi kesulitan. Merasa ASI-nya kurang, merasa kurang percaya diri, sehingga seringkali terjebak pada pemberian makanan selain ASI kepada bayinya. Beberapa ibu memilih menggunakan laktagogue untuk meningkatkan produksi ASI. Baik yang berupa bahan alami, maupun dari bahan kimia obat. Indonesia adalah negara dengan kekayaan budaya berlimpah, termasuk dalam hal menyusui, setiap daerah memiliki kebijaksanaan lokal yang telah dipercaya dapat meningkatkan keberhasilan menyusui.

Berita Terkait: Instruksi Presiden Tekan Stunting dan OMAI Pelancar ASI

Berita Terkait: Herba ASIMOR, OMAI Melancarkan ASI

Bahan Alami untuk Perlancar ASI

Ada beberapa bahan alam yang lazim digunakan, misalnya daun katuk, daun torbangun (bangun-bangun), daun kelor, klabet,  kacang-kacangan dan berbagai jenis bahan lainnya. Beberapa di antaranya telah diteliti dan terbukti meningkatkan kadar prolaktin, oksitosin, maupun volume ASI, dan peningkatan berat badan bayi. Selain konsumsi bahan-bahan alam maupun obat yang ditujukan untuk merangsang ASI, ada juga teknik lain yang lazim dilakukan, misalnya dengan akupunktur ataupun pijat laktasi yang juga terbukti efektif meningkatkan produksi ASI.

Namun kunci dari keberhasilan ASI bukan bersandar pada konsumsi bahan-bahan ini, melainkan berlakunya prinsip supply & demand. Makin banyak ASI digunakan (disusui dan diperah) maka produksi akan semakin meningkat. Serta pemahaman bagi para ibu dan keluarga mengenai kapasitas lambung bayi juga akan meredakan kepanikan di minggu awal yang biasanya merupakan masa kritis. Bila ibu dan keluarga memahami bahwa bayi belum membutuhkan volume ASI yang berlimpah, dan kapasitas lambungnya masih sekecil kelereng pada 3 hari awal, maka pemberian alternatif selain ASI di hari-hari awal dapat diantisipasi.

Peran konseling laktasi amat penting, memotivasi ibu untuk terus menyusui semau bayi dan rajin memerah. Karena stress pada sang ibu dapat menghambat hormon oksitosin yang juga berdampak pada berkurangnya ASI yang dikeluarkan. Teknik menyusui yang tepat, posisi dan pelekatan yang baik, akan membuat ibu dapat menikmati proses menyusuinya, dan mendorong peningkatan hormon prolaktin dan oksitosin yang pada akhirnya membuat produksi ASI pun meningkat seiring pula dengan bertambahnya kapasitas lambung sang bayi.

Apabila konseling dan dukungan psikososial telah diberikan untuk ibu menyusui, maka pemberian laktagogue adalah opsional. Boleh dikonsumsi , apalagi bila memang itu bisa menambah kepercayaan diri ibu juga. Namun bukanlah merupakan suatu keharusan. Konsumsi laktagogue tanpa disertai menyusui dan memerah pun tidak dapat serta merta meningkatkan produksi ASI-nya.  Maka mari kita besama memberi dukungan psikososial untuk setiap ibu dapat menyusui bayinya, dan bila mengalami kesulitan dapat menemui konselor laktasi agar bisa memperoleh bantuan yang diperlukan. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: