Potensi Minyak Atsiri Untuk COVID-19
Tanggal Posting : Senin, 25 Mei 2020 | 06:21
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 542 Kali
Potensi Minyak Atsiri Untuk COVID-19
apt. Prof. Dra. Zullies Ikawati, PhD., Ketua Program Studi Magister Farmasi Klinik-Farmasi UGM, pada webinar Pemanfaatan minyak atsiri dalam penanganan COVID-19.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MAKETPLACE JAMU INDONESIA. apt. Prof. Dra. Zullies Ikawati, PhD.,  Dosen Farmasi UGM, Ketua Program Studi Magister Farmasi Klinik menilai bahwa minyak atsiri berpotensi untuk dikembangkan menjadi obat dalam perawatan COVID-19

Namun, perlu dipertimbangkan "posisi" yang akan diambil dalam terapi COVID-19. Perlu dipertimbangkan status penggolongan obat herbal dalam pendaftaran di BPOM, sebab mempengaruhi uji-uji apa saja yang harus dilakukan untuk mendukung registrasinya (aspek farmakologi dan toksikologi)

"Klaim yang disampaikan harus sesuai dengan data yang tersedia, jangan over klaim. Perlu informasi yang tepat kepada masyarakat, agar tidak misleading, yang mengarah kepada penggunaan yang salah- yang justru merugikan," ujarnya saat Webinar "Pemanfaatan Minyak Atsiri dalam Penanganan COVID-19", pada Rabu, 20 Mei 2020.

Pada webinar tersebut dibahas sejumlah topik, yaitu:

  • Kajian Potensi Minyak Atsiri sebagai Sediaan Obat dalam Perawatan COVID-19 (Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt)
  • Pengujian Minyak Atsiri dan Ekstrak Herbal sebagai Antivirus (Dr. drh. Nlp. Indi Dharmayanti, M.Si)
  • Sharing Komersialisasi Produk Berbasis Minyak Atsiri (Edy H.T., Penasehat PT Eagel Indo Pharma)
  • Moderator (Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc)
  • Testimoni Pasien COVID-19 dengan Treatment Minyak  Atsiri (Prof. Dr. dr. Idrus A. Patarusi, SP.BO)

Berita Terkait: Antivirus COVID-19 dari Eucalyptus

Prof. Zullies Ikawati memaparkan pada awal presentasinya bahwa terapi farmakologis untuk pasien COVID-19 secara umum adalah dengan terapi antivirus. Saat ini belum ada satu pun obat ant ivirus spesifik untuk virus Covid-19 yang terbukti efektif dan secara resmi direkomendasikan.

Antivirus yang digunakan mengacu pada terapi ketika epidemi SARS dan MERS, atau jenis flu lain. Setiap negara memiliki panduan sendiri, mendasarkan pada pertimbangan masing-masing (pengalaman, ketersediaan obat). Di Indonesia, setiap RS memiliki panduan sendiri-sendiri berdasarkan pengalaman dan ketersediaan obatnya

Lebih dari 300-an uji klinik di seluruh dunia saat ini dilakukan dengan berbagai obat, yang sebagian besar adalah drug repurposing, menggunakan obat yang sudah ada untuk indikasi lain sebagai terapi COVID sebagai antivirus, antiinflamasi, imunomodulator

Pemberian yang dapat dilakukan untuk minyak atsiri:

  • Topical: balsam, krim, salep
  • Inhalasi: hirupan melalui hidung
  • Oral: tidak disarankan, kecuali dengan pengawasan ahli, dosis tertentu

Penggolongan obat herbal:

  • Jamu: Khasiat dan keamanannya didasarkan pengalaman empiris pada manusia selama puluhan/ratusan tahun
  • Obat Herbal Terstandar (OHT): Khasiat dan keamanannya didasarkan uji preklinik menggunakan hewan (efek farmakologi dan toksikologi), Bahan bakunya telah terstandarisasi
  • Fitofarmaka: Khasiat dan keamanannya didasarkan praklinik dan uji klinik pada manusia, Bahan baku dan produk jadinya telah terstandarisasi, Penggolongan ini akan berpengaruh terhadap KLAIM Produk

Keputusan Kepala BPOM RI Nomor HK. 00.05.4.2411 Tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia. Contoh klaim OHT: Secara tradisional digunakan dan terbukti secara uji pra klinik untuk membantu meringankan gejala selesma.

Sebagai Obat Herbal Terstandar, harus dilakukan uji pra klinik yang protokolnya dievaluasi dulu oleh BPOM, Bahan baku distandardisasi dengan marker terstandar. Klaim efek antivirus merupakan klaim yang membutuhkan tingkat pembuktian tinggi: Pra klinik dan klinik.

Tahap apa selanjutnya untuk menunjukkan efikasinya? Jika ada "klaim" berefek antivirus, perlu pembuktian dengan uji klinik (uji pada manusia) dengan disain yang memenuhi syarat untuk menyatakan efikasi/kemanjurannya.

Dalam sebuah uji klinik perlu diperhatikan:

  • Jumlah subyek minimal
  • Kriteria inklusi dan eksklusi subyek yang akan diberi perlakuan
  • Perbandingan dengan kontrol/placebo
  • Cara pemberiannya (perlakuan yang diberikan harus sama)
  • Parameter yang diamati harus jelas dan terukur dalam durasi waktu tertentu
  • Dan lain-lain

Potensi mencegah infeksi COVID-19 atau antivirus?

  • Virus SARS-CoV2 masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lender seperti rongga mulut, hidung, mata.
  • Di mana posisi minyak atsiri dalam penggunaan pada manusia untuk perawatan COVID-19?
  • Obat antivirus? Terapi suportif? Terapi simtomatik? Pencegahan?
  • Efek apa yang diutamakan?
  • Antivirus?
  • Melegakan pernafasan? Mengencerkan lendir/mucus?
  • Bagaimana cara penggunaannya?

Merancang Uji Klinik minyak atsiri untuk perawatan COVID (1)

  • Ditujukan kepada subyek uji/pasien dengan kriteria apa?
  • Orang sehat untuk pencegahan?
  • Pasien dalam pemantauan (PDP) yang belum terkonfirmasi positif COVID-19?
  • Pasien terkonfirmasi positif COVID-19?
  • Orang tanpa gejala?
  • Pasien positif dengan gejala pneumonia ringan?
  • Pasien positif dengan gejala pneumonia berat?
  • Bagaimana cara pemberiannya?
  • Topikal (dioleskan di mana?)
  • Inhalasi (dihirup dengan cara apa? Berapa kali sehari? Kapan?)
  • Untuk berkumur? Caranya? Dosisnya?
  • Diffuser: sasarannya kemana? Ruangan? Orang?

Merancang Uji Klinik minyak atsiri untuk perawatan COVID (2)

  • Apa parameter efikasinya? Apa parameter keamanannya?
  • Pada orang sehat untuk pencegahan: agak sulit untuk menetapkan ukurannya, terlalu banyak faktor perancu
  • Untuk pasien COVID-19, parameter harus tepat untuk mengukur khasiat:
  • Mempercepat kesembuhan pasien COVID-19 ?
  • Ukuran sembuh: RT-PCR negatif 2 kali? Hilang sesak nafas? Hasil rontgen normal?
  • Memperpendek durasi sakit? Dibandingkan dengan terapi apa?
  • Mengurangi gejala COVID-19? Gejala yang mana? Melegakan pernafasan?
  • Atau apa?
  • Bagaimana jika dibandingkan dengan placebo/tanpa obat?

Harus diperhatikan penggunaan minyak atsiri untuk kesehatan:

  • Minyak atsiri merupakan senyawa yang sangat pekat
  • Exp. satu tetes minyak atsiri setara dengan 15 -40 cangkir obat, atau hingga 10 sendok the tingtur(Krumbeck, 2014), satu tetes minyak esensial peppermint setara dengan26 cangkir peppermint.
  • Dengan demikian, minyak atsiri harus digunakan dan diaplikasikan dengan hati-hati, pertimbangan yang cermat dan dalam jumlah sedang.
  • Bersifat iritatif dan dapat memicu alergi
  • Minyak atsiri tidak boleh dikonsumsi secara internal kecuali diresepkan ahli yang terlatih dan memenuhi syarat
  • Minyak atsiri tidak boleh ditelan tanpa diencerkan karena dapat menyebabka niritasi selaput lendir yang parah.
  • Meskipun minyak atsiri dapat dieliminasi dari tubuh dengan cukup cepat, ada peningkatan risiko yang menyebabkan kerusakan ginjal dan hati dan iritasi internal pada organ-organ lain dari sistem pencernaan.
  • Dapat berinteraksi dengan obat lainnya jika digunakan per oral. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: