Kajian Ilmiah Herbal dan Food Supplement untuk Tangkal COVID-19
Tanggal Posting : Kamis, 16 April 2020 | 07:15
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 597 Kali
Kajian Ilmiah Herbal dan Food Supplement untuk Tangkal COVID-19
Drs. apt. Bambang Priyambodo pada saat melakukan kegiatan di luar negeri.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Salah satu upaya yang direkomendasikan untuk menangkal Virus COVID-19 adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas tubuh) dengan mengkonsumsi herbal dan food supplement.

Berikut ini, ringkasan artikel berjudul "Manfaat Herbal dan Food Supplement untuk Tingkatkan Imunitas Tubuh di Tengah Wabah Virus Corona", yang ditulis oleh Drs. apt. Bambang Priyambodo (Alumnus Fakultas Farmasi UGM, kini sebagai GM Manufacture PT. Air Mancur). Tulisan ini merupakan pendapat pribadi. Naskah lengkap di muat di: https://farmasi.ugm.ac.id/id/manfaat-herbal-dan-food-supplement-untuk-tingkatkan-imunitas-tubuh-di-tengah-wabah-virus-corona

Sekilas COVID-19 merupakan kependekan dari COrona VIrus Diseases 2019, penyakit menular yang disebabkan oleh salah satu jenis coronavirus yaitu SARS-COV-2. Mengutip penelitian dari Kahn, dkk (2005), virus corona pada manusia pertama kali diidentifkasi pada tahun 1965 ketika Tyrrell dan Bynoe menemukan sebuah virus yang diberi nama B814 yang menyebabkan sebagian besar infeksi saluran pernafasan atas pada anak-anak.

Kemudian, sejak tahun 2003, setidaknya terdapat 5 jenis virus corona baru pada manusia yang berhasil diidentifikasi. Termasuk virus corona yang menyebabkan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Sedangkan virus corona penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS) ditemukan pada tahun 2012 oleh seorang ahli virus dari Rumah Sakit Dr. Soliman Fakeeh di Jeddah, Arab Saudi, yang bernama Dr. Ali Mohamed Zaki (Zaki, et.al., 2012). Jadi, sebenarnya virus corona ini sudah ada sejak lama. Namun virus corona ini terus melakukan mutasi menjadi lebih kuat dan lebih infeksius seperti yang kita kenal sekarang ini.

Hingga saat ini terdapat tujuh tipe virus corona yang dapat menginfeksi manusia saat ini yaitu dua alphacoronavirus (229E dan NL63) dan empat betacoronavirus, yakni OC43, HKU1, Middle East respiratory syndrome-associated coronavirus (MERS-CoV), dan severe acute respiratory syndrome-associated coronavirus (SARSCoV). Yang ketujuh adalah virus corona tipe baru yang menjadi penyebab kejadian luar biasa di Wuhan, yakni SARS-CoV-2. Isolat 229E dan OC43 ditemukan sekitar 50 tahun yang lalu. NL63 dan HKU1 diidentifikasi mengikuti kejadian luar biasa SARS. Sedangkan NL63 dikaitkan dengan penyakit akut laringotrakeitis (croup).

Virus corona merupakan virus RNA strain tunggal positif, berkapsul dan tidak bersegmen. Virus ini tergolong dalam ordo Nidovirales, keluarga Coronaviridae. Coronaviridae dibagi dua subkeluarga dibedakan berdasarkan serotipe dan karakteristik genom. Terdapat empat genus yaitu alphacoronavirus, betacoronavirus, deltacoronavirus dan gammacoronavirus (Wang, 2020).

Fatality Rate, Tingkat Penularan (Ro), dan Masa Inkubasi

Pada 10 Januari 2020, sekuensing pertama genom SARS-CoV-2 teridentifikasi dengan 5 subsekuens dari sekuens genom virus yang dirilis. Sekuens genom dari Coronavirus baru (SARS-CoV-2) diketahui hampir mirip dengan SARS-CoV dan MERS-CoV. Secara pohon evolusi juga sama dengan SARS-CoV dan MERS-CoV tetapi tidak tepat sama persis. Nah, dari genome sekuens ini  bisa dilihat bagaimana tingkat/derajat penularannya, tingkat keganasannya, target/tempat aksinya, dan lain sebagainya.  Ternyata virus ini jauh diketahui lebih mudah menular dan jauh lebih berbahaya dibanding dengan virus influenza biasa.

Apabila dilihat dari Fatality Rate,  virus SARS-CoV-2  ini sebenarnya jauh lebih "ramah" dibanding dengan virus penyebab SARS atau MERS. Dikutip dari Reuters, untuk MERS, dari 50 orang yang terinfeksi, 17 orang meninggal dunia. SARS, 5 orang; sedangkan COVID-19 "hanya" 1 orang.

Namun dari tingkat velosity, virus corona terbaru ini terlihat bahwa hanya perlu waktu 48 hari untuk menginfeksi 1.000 orang, dibanding dengan SARS yang memerlukan waktu 130 hari atau bahkan 2,5 tahun untuk virus MERS. Jadi, memang virus ini jauh lebih mudah menular dibanding dengan SARS maupun MERS. Hal ini terkait dengan Ro (dibaca : R naught) dari virus corona ini. Ro mendeskripsikan seberapa banyak orang-orang bisa tertular virus dari mereka yang terinfeksi.  Sebagai contoh, Ro pada pandemi flu Spanyol 1918 dan wabah Ebola 2014, yakni ketika seorang individu menularkan virus kepada satu atau dua orang lainnya. Namun, sementara flu Spanyol menyebabkan pandemi, Ebola tidak terlalu menginfeksi banyak orang. Mengapa begitu?

Menurut Samuel Scarpino, ahli pemodelan penyakit menular dari Northeastern University yang dikutip dari laman National Geographic, ada satu perbedaannya, Ro flu Spanyol konsisten menularkan virus dari orang ke orang, sementara Ro Ebola lebih sporadis. Superspreader Ebola bisa menginfeksi 20-30 orang lainnya. Meski banyak yang sakit dalam satu waktu, tapi mereka tidak membawa virusnya lagi ke orang lain, berhenti di satu titik. Dikutip dari Bloomberg, World Health Organization, Centers for Disease Control, King Saud University, Nature melaporkan bahwa Ro dari Covid-19 ini adalah 2,8 sedangkan flu "biasa" memiliki Ro = 1,3. Sedangkan MERS, memiliki Ro sebesar 0,8.

Ini juga yang salah atu alasan mengapa SARS dan MERS tidak ditetapkan oleh WHO sebagai bencana pandemi Global, padahal SARS dan MERS jauh lebih mematikan dibanding COVID-19.

Hal lain yang juga perlu menjadi perhatian adalah sifat dari SARS-CoV-2 ini adalah masa inkubasinya. Masa inkubasi adalah saat pasien pertama kali tertular/terpapar virus, hingga menunjukkan gejala awal. Dikutip dari Vox,  berbeda dengan virus influensa biasa yang memiliki masa inkubasi sangat pendek (1 - 2 hari) sehingga apabila seseorang terkena infeksi, maka dalam waktu tidak terlalu lama kemudian timbul gejala-gejala dari infeksi tersebut.

Sedangkan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 ini, menurut banyak penelitian, memiliki masa inkubasi yang cukup panjang, yaitu antara 5 - 14 hari. Pada masa ini, maka seseorang yang terkena infeksi tidak menunjukan gejala apapun (OTG = orang tanpa gejala) yang bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain. Ini yang sangat berbahaya sehingga penyebaran virus ini menjadi kian masif.

Dari uraian tersebut di atas paling tidak ada 5 alasan, mengapa Covid-19 ini begitu "istimewa" dibanding dengan corona virus yang lain, yaitu antara lain karena :

  • Tingkat penularannya (Ro)
  • Masa inkubasi
  • Tingkat fatality rate
  • Tingkat immunity dari populasi
  • Keberadaan obat dan vaksin yang hingga saat ini belum ada atau diketemukan.

Atas dasar itulah maka pada tanggal 11 Maret 2020, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai sebuah wabah (pandemi) yang berskala global.

Mekanisme Imun

Herbal dan Suplemen Makanan Peningkat Sistem Imun

Selain langkah pencegahan utama seperti yang disebutkan tadi, satu hal lagi yang krusial untuk dilakukan adalah menjaga sistem imun atau daya tahan tubuh agar tetap sehat. Mengukur imun sehat atau tidak pun tentu sulit dilakukan. Yang terpenting adalah sebisa mungkin menghindari paparan virus tersebut, serta menjaga imun tubuh tetap sehat dan fit.

Ada banyak cara untuk meningkatkan sistem imun dalam tubuh. Beberapa upaya untuk meningkatkan imun antara lain adalah istirahat (tidur) yang cukup, rajin berolah raga, mengurangi stres, berjemur di bawah sinar matahari serta menjauhi makanan yang mengandung lemak jahat. Sistem imun dapat juga ditingkatkan dengan konsumsi berbagai macam herbal dan suplemen makanan yang sudah kita kenal baik untuk meningkatkan sistem imun.

Di antara suplemen makanan yang bisa digunakan untuk meningkatkan sistem imun serta mengurangi tingkat keparahan akibat infeksi virus corona tersebut antara lain adalah vitamin C, vitamin E, dan zinc (Zn). Sedangkan herbal yang dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh (sistem imun), antara lain adalah Echinaceae, kurkumin dan madu.

Vitamin C. Vitamin C sudah lama dikenal sangat perperan dalam pembentukan B-CELL dan T-CELL. Dengan asupan vitamin C yang cukup maka sumsum tulang belakang sebagai "pabrik pembuat"-nya bisa dipacu untuk memproduksi B-CELL dan T-CELL yang cukup agar bisa melawan virus jahat ini. Selain itu secara klinis Vitamin C juga mencegah terjadinya inflamasi. Kekurangan vitamin C mengakibatkan gangguan imunitas dan kerentanan yang lebih tinggi terhadap infeksi.

Carr dan Maggini, (2017) menyebutkan bahwa Vitamin C merupakan mikronutrien penting bagi manusia, dengan fungsi pleiotropik terkait dengan kemampuannya untuk menyumbangkan elektron. Vitamin C juga merupakan antioksidan yang sangat kuat dan merupakan co-factor untuk biosintesis dan enzim pengatur gen.

Vitamin C berkontribusi untuk pertahanan kekebalan dengan mendukung berbagai fungsi seluler, baik sistem kekebalan tubuh bawaan (innate immune) dan kekebalan adaptif (adaptive immune). Vitamin C mendukung fungsi penghalang epitel terhadap patogen dan mempromosikan aktivitas pemulungan oksidan kulit, sehingga berpotensi melindungi terhadap stres oksidatif lingkungan.

Vitamin C terakumulasi dalam sel fagosit, seperti neutrofil, dan dapat meningkatkan kemotaksis, fagositosis, generasi spesies oksigen reaktif, dan akhirnya membunuh mikroba. Hal ini juga diperlukan untuk apoptosis dan pembersihan neutrofil bekas dari tempat infeksi oleh makrofag, sehingga mengurangi nekrosis (NETosis) dan kerusakan jaringan yang potensial. Peran vitamin C dalam limfosit kurang jelas, tetapi telah terbukti meningkatkan diferensiasi dan proliferasi sel B dan sel T, kemungkinan karena efek pengatur gennya. Kekurangan vitamin C mengakibatkan gangguan imunitas dan kerentanan yang lebih tinggi terhadap infeksi.  

Selain itu, suplementasi dengan vitamin C juga dapat mencegah dan mengobati infeksi pernapasan dan sistemik. Pencegahan infeksi profilaksis memerlukan asupan vitamin C dalam jumlah yang memadai, setidaknya kadar plasma jenuh (yaitu, 100-200 mg/hari), yang mengoptimalkan tingkat sel dan jaringan. Sebaliknya, pengobatan infeksi yang sudah ada memerlukan dosis vitamin yang jauh lebih tinggi untuk mengimbangi peningkatan respons peradangan dan kebutuhan metabolisme.

Vitamin E. Vitamin E juga sangat berperan penting dalam sistem imunitas (kekebalan) tubuh, terutama dalam proses pematangan T-CELL di Thymus. Kekurangan Vitamin E bisa menyebabkan penurunan kualitas dari T-CELL atau dengan kata lain menurunkan "kesaktian" T-CELL dalam berperang melawan COVID-19.

Manfaat vitamin E terhadap sistem kekebalan tubuh hewan dan manusia, dipublikasikan dalam jurnal Nutriens dengan judul The Role of Vitamin E in Immunity, menyebutkan bahwa Vitamin E telah terbukti meningkatkan respon kekebalan pada model hewan dan manusia dan untuk memberikan perlindungan terhadap beberapa penyakit menular. Mekanisme peningkatan respon tersebut antara lain adalah pengurangan produksi PGE2 oleh penghambatan aktivitas COX2 yang dimediasi melalui penurunan produksi NO, peningkatan pembentukan sinaps imun yang efektif dalam T-cell yang naif dan inisiasi sinyal aktivasi T-cell, dan  modulasi keseimbangan Th1/Th2.

Aktivitas NK yang lebih tinggi dan perubahan fungsi dendritik seperti produksi IL-12 yang lebih rendah juga diamati dengan adanya vitamin E, tetapi mekanisme yang mendasarinya perlu dijelaskan lebih lanjut. Efek imunomodulator vitamin E pada sel-sel kekebalan tubuh. Singkatan: PGE2, prostaglandin E2; COX2, Cyclooxygenase 2; NO, Nitric oxide; CD, Clusters of Differentiation; DCs,Dendritic cells; IL-12, Interleukin-12; Ab, antibody; NK, Natural killer (Lee and Han, 2018)

Zinc (Zn). Zink memegang peranan penting terhadap fungsi timus. Timus merupakan organ tempat pematangan sel T. Mineral ini berperan sebagai kofaktor esensial terhadap hormon timulin (ZnFTS) yang dihasilkan timus melalui sel epitel timus. Zat ini berperan tidak hanya pada proses diferensiasi sel T yang belum matang, tetapi juga mengatur pelepasan sitokin oleh sel mononuklear perifer dalam darah, merangsang pembentukan sel T CD8, bersama dengan interleukin 2 (IL-2),serta menjaga aktifitas reseptor untuk IL-2 pada sel T yang matang (Yan, et.al., 2017)

Pengaruh sinyal Zn pada jalur pensinyalan sel T. Gambar ini menyajikan gambaran reseptor sel T (TCR) -, reseptor Interleukin-1 (IL-1R) -, IL-2R-, IL-4R-, Transforming growth factor β1 receptor (TGF-β1R)-signaling in T cells, dan zinc flux via zinc transporter ZIP6 (Maywald, Wessels and Rink, 2017). Ketiga Vitamin dan mineral ini adalah KOMPONEN utama dalam membangun sistem pertahanan tubuh kita dalam menghadapi serbuan virus corona. Istilahnya adalah "pertahanan lapis pertama" dalam pertempuran melawan COVID-19.

Echinaceae.Echinacea adalah sejenis tanaman herbal yang dipercaya dapat meningkatkan imunitas tubuh. Penggunaan tanaman bernama lain Purple Coneflower sebagai pengobatan pilek ini sudah disetujui WHO sejak 1999. Echinacea dapat menurunkan durasi sakit dan menurunkan keparahan batuk, sakit kepala, dan sumbatan hidung. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal the Lancet Infectious Disease juga melaporkan bahwa konsumsi suplemen herbal Echinacea dapat mengurangi risiko terkena pilek hingga 58 persen dan mengurangi durasi penyakit pilek selama sehari atau setengah hari. Mekanisme kerja Echinacea terutama adalah meningkatkan mobilitas leukosit serta mengaktifkan NK-cell (Shah, et.al., 2007)

Ada issue bahwa Echinacea bisa menyebabkan "badai sitokin" (Cytokine Storm). Apakah benar demikian?

Badai sitokin adalah kondisi saat sistem imun tubuh melawan virus dan ini biasanya terjadi saat adanya infeksi berat atau sepsis. Jadi, jika ada virus yang masuk ke dalam organ paru di tubuh, maka reaksi yang timbul adalah keluarnya sitokin-sitokin. Untuk diketahui, sitokin adalah protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh untuk melakukan berbagai fungsi dan penting dalam penanda sinyal sel.

Pelepasan atau keluarnya sitokin ini dapat mempengaruhi perilaku sel di sekitarnya. Sitokin yang keluar dalam jumlah sedikit tidak memiliki pengaruh pada kondisi paru pasien, atau keadaan parunya tidak bermasalah. Akan tetapi kalau jumlah sitokin yang dikeluarkan di paru sudah banyak, disebut sebagai badai sitokin, maka itu akan membuat paru sangat padat dan kaku. Itulah yang membuat pasien muncul symptom sesak, susah bernapas, dan itu yang bisa menyebabkan pasien tersebut meninggal dunia.

Echinacea justru berperan untuk menghambat pembentukan IL-6, sehingga jumlah sitokin pro-inflamasi dapat dikurangi. Pengurangan jumlah IL-6 tsb diperlukan guna menekan risiko terjadinya komplikasi pada infeksi tsb. Apabila jumlah sitokin pro-inflamasi tidak dibatasi maka komplikasi yang terjadi dapat berupa badai sitokin yang dapat berakibat fatal (Hudson, 2012). Badai sitokin ini yang sering kali menjadi penyebab pasien Covid-19 berakhir dengan kematian.

Kurkumin. Sesuai dengan hasil riset Bioinformatika yang dirilis Maret 2020 menggunakan metode pemodelan bioinformatika (moleculer docking), curcumin mampu berikatan dengan reseptor protein SARS-CoV 2 yaitu melalui ikatan dengan domain protease (6Lu7) dan spike glikoprotein. Ikatan ini berpotensi untuk menghambat aktivitas Covid-19.

Selain itu curcumin diketahui menghambat pelepasan senyawa tubuh penyebab peradangan atau sitokin proinflamasi seperti interleukin-1, interleukin-6 dan tumor necrosis factor-α. Pelepasan sitokin dalam jumlah banyak, disebut badai sitokin yang dapat menumpuk pada organ paru-paru kemudian menimbulkan sesak. Dengan terhambatnya pengeluaran sitokin, maka tidak akan terjadi badai sitokin yang berdampak pada gangguan pernafasan. Mekanisme ini menjelaskan peran curcumin dalam mencegah terjadinya badai sitokin pada infeksi virus (Sordillo and Helson, 2015).

Curcumin juga memiliki efek menghambat proses pertumbuhan virus, baik secara langsung dengan cara merusak fisik virus maupun melalui penekanan jalur pensinyalan seluler yang penting dalam proses replikasi virus (Mathieu and Hsu, 2018).

Pada pertengahan Maret lalu, melalui akun media sosial Instagram, seorang ilmuwan dari Fakultas Biologi Intitut Teknologi Bandung menyatakan bahwa berdasarkan kajian dari artikel yang terbit di sebuah jurnal ilmiah, konsumsi kunyit dan temulawak akan meningkatkan suseptibilitas tubuh terhadap Covid-19. Curcumin dalam rimpang kunyit dan temulawak disebutkan mampu meningkatkan ekspresi enzim ACE2 (Angiotensin-converting-enzyme2) yang merupakan reseptor dari Covid-19. Namun, kajian tersebut kemudian dibantah oleh yang bersangkutan.

Balitbangkes pada press release yang dikeluarkan pada tanggal 21 Maret 2020 juga menyebutkan bahwa kunyit dan temulawak akan meningkatkan suseptibilitas terhadap Covid-19 sama sekali belum berdasarkan kajian ilmiah yang menyeluruh. Penggunaan kunyit dan temulawak dalam ranah preventif untuk mencegah terjangkitnya covid-19 justru sangat relevan berdasarkan pada beberapa penelitian pra klinik dan klinik dari curcumin yang terbukti memiliki efek immunomodulator.

Madu. Madu sudah sejak lama digunakan dalam pengobatan berbagai macam penyakit, sperti penyakit mata, asma bronkial, infeksi tenggorokan, tuberkulosis, kelelahan, pusing, hepatitis, sembelit, serangan cacing,eksim, penyembuhan bisul, dan luka serta digunakan sebagai nutrisi suplemen. Bahan-bahan madu telah dilaporkan untuk memberikan efek antioksidan, antimikroba, anti-inflamasi, antiproliferatif, antikanker, dan antimetastatik.  Banyak bukti menunjukkan penggunaan madu dalam kontrol dan pengobatan luka, diabetes mellitus, kanker, asma, dan juga penyakit kardiovaskular, neurologis, dan gastrointestinal.

Madu juga memiliki peran terapi potensial dalam pengobatan penyakit oleh sifat phytochemical, anti-inflamasi, antimikroba, dan antioksidan. Flavonoid dan polifenol, yang bertindak sebagai antioksidan, adalah dua molekul bioaktif utama yang terdapat dalam madu. Menurut literatur ilmiah modern, madu mungkin bermanfaat dan memiliki efek perlindungan untuk pengobatan berbagai kondisi penyakit seperti diabetes mellitus, pernapasan, pencernaan, kardiovaskular, dan sistem saraf, bahkan berguna dalam pengobatan kanker karena banyak jenis antioksidan yang hadir dalam madu (Samarghandian,  Farkhondeh, and  Samini, 2017).

Salah satu kandungan utama yang dimiliki oleh madu adalah karbohidrat alami. Dari The Food Nutrition Tabel, diketahui bahwa tiap 100 gram madu mengandung 308 kcal. Kandungan tersebut mampu menjadi sumber energi yang hilang dalam tubuh dengan segera. Pada saat tubuh "berperang" dengan virus jahat ini tentu membutuhkan asupan energi yang tinggi. Padahal salah satu akibat dari "serangan" virus ini menyebabkan menurunnya nafsu makan dari si pasien sehingga kondisinya semakin menurun. Madu adalah sumber energi yang bisa dengan cepat diserap oleh tubuh.

Penutup. Wabah Covid-19 masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Selain menerapkan physical dan social distancing secara ketat agar bisa tidak terpapar virus, menaikan kadar imun adalah merupakan salah satu upaya agar terhindar dari dampak buruk akibat infeksi virus yang sangat mudah menyebar dan infeksius ini. Selain upaya - upaya sederhana seperti istirahat yang cukup, olah raga ringan, mengurangi stres dan menjaga pola makan, maka konsumsi vitamin, mineral dan herbal tertentu terbukti mampu menaikan kadar imunitas tubuh sehingga siap menghadapi ganasnya virus corona penyebab Covid - 19 ini. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: