Edukasi Panduan Pennggunaan OMAI Fitofarmaka Kepada Dokter
Tanggal Posting : Senin, 2 Mei 2022 | 11:29
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 55 Kali
Edukasi Panduan Pennggunaan OMAI Fitofarmaka Kepada Dokter
Edukasi Panduan Pennggunaan OMAI Fitofarmaka Kepada Dokter

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Panduan penggunaan OMAI (Obat Modern Asli Indonesia) Fitofarmaka dalam praktik klinis, dan mendorong peningkatan pemanfaatannya oleh Dokter perlu terus disosialisasikan.

Hal ini, selaras dengan akan segera ditetapkannya Formularium Fitofarmaka oleh Menteri Kesehatan RI.- menurut rencana diagendakan pada bulan Mei 2022.

Ketua Umum PDPOTJI (Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia), Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si. memberikan informasi khusus tentang Fitofarmaka in Clinical Practise, pada 30 April 2022.

Beikut ini, keterangannya:

1.Ada 98 Negara Memiliki UU Pengobatan Tradisional/Komplementer

Pemanfaatan bahan alam sebagai terapi alternatif dan komplementer bukan merupakan sesuatu yang baru.
WHO Global Report on Traditional and Complementary Medicine (2019) melaporkan bahwa terdapat 98 negara yang sudah memiliki undang-undang mengenai pengobatan tradisional dan komplementer.

Di Indonesia, obat bahan alam telah digunakan secara turun-temurun dan disebut juga dengan obat tradisional atau lebih dikenal dengan istilah Jamu.

Jamu yang telah digunakan selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah dibuktikan keamanan dan
manfaatnya secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang obat-obatan, maka dituntut adanya rasionalisasi dalam penggunaan suatu obat, baik obat sintetis, maupun obat yang berasal dari bahan alam termasuk Jamu.

Berbagai penelitian tentang obat bahan alam terus dilakukan dan dikembangkan, tidak hanya di negara-negara berkembang tetapi juga di negara-negara maju.

Secara garis besar penelitian obat bahan alam dimaksudkan untuk mengetahui aspek mutu, keamanan dan khasiat dari suatu obat bahan alam.

WHO juga merekomendasikan pengembangan dan penggunaan obat bahan alam yang telah memenuhi ketiga kriteria di atas dalam pelayanan kesehatan.

2.Tiga Kategori Herbal di Indonesia: Jamu, OHT, OMAI Fitofarmaka

Untuk membedakan produk jamu yang telah diteliti secara ilmiah dan yang belum, perlu adanya suatu penandaan/logo yang dapat menjadi identitas masing-masing produk.

Obat bahan alam Indonesia dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yakni : Jamu, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka.
Pengelompokan ini didasarkan pada proses pembuatan dan bentuk sediaan serta cara dan tingkat pembuktian mengenai keamanan, manfaat dan mutunya masing-masing.

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional.

Obat Herbal Terstandar adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral.

Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik.

Seperti standar kandungan bahan berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis.

Fitofarmaka merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia.

Adanya uji klinik diharapkan akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan.

2. OMAI untuk Kemandirian Obat

Kita mengenal pula terminologi Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang merupakan obat bahan alam yang diproduksi secara modern yang bahan bakunya berasal dari megabiodiversitas kekayaan alam Indonesia.

Pemanfaatan bahan baku lokal mendorong kemandirian dan menurunkan ketergantungan terhadap obat impor.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 01.07/MENKES/4820/2021 memutuskan untuk membentuk Komite Nasional dalam penyusunan formularium Fitofarmaka.

Hal ini sebagai suatu bentuk dukungan dari pemerintah untuk pengembangan fitofarmaka golongan OMAI agar masuk ke dalam JKN /BPJS, sehingga OMAI semakin dikenal dan diresepkan oleh dokter.

Obat-obatan herbal golongan fitofarmaka diketahui sudah teruji klinis baik dari segi efikasinya dalam memberikan manfaat kuratif dan preventif, maupun segi keamanannya.

Banyak literatur membuktikan manfaat fitokimia yang dihasilkan dari tanamantanaman obat. Metabolit sekunder dari tanaman merupakan molekul yang dibiosintesis pada tanaman seperti steroid, alkaloid, fenol, lignan, karbohidrat, glikosida, dan lain sebagainya yang memiliki banyak manfaat bagi manusia.

Manfaat tersebut antara lain sebagai antialergi, antikanker, antimikroba, anti peradangan, antioksidan, serta antidiabetes. Literatur menyebutkan terdapat 400 tanaman yang berpotensi sebagai antidiabetes.

3. Pemanfaatan OMAI untuk Diabetes

Dari 400 tanaman tersebut, beberapa tanaman telah melalui serangkaian uji seperti Cinnamomum burmanii dan Lagerstroemia speciosa, yang diproduksi secara modern dengan teknologi fraksinasi.

Oleh karena itu manfaat serta keamanannya dapat diaplikasikan sebagai terapi diabetes. Tercatat hingga tahun 2019, 463 juta populasi dunia hidup dengan diabetes.

Penggunaan herbal, terutama OMAI Fitofarmaka sebagai terapi komplementer pada diabetes melitus tipe 2 diharapkan dapat membantu menurunkan kadar gula darah, mengontrol komplikasi diabetes, dan memperbaiki kualitas hidup.

Maka, Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia ‘(PDPOTJI) berencana mengadakan 1 st Virtual Workshop on Fitofarmaka in Clinical Practice pada 22 Mei 2022 yang terutama ditujukan kepada Peserta Dokter.

Tujuan Virtual Workshop: 1.Memperkenalkan kepada TS Dokter akan pilihan OMAI Fitofarmaka sebagai terapi kombinasi/ komplementer DM tipe 2 dengan resistensi insulin.

2.Memberikan edukasi kepada TS Dokter akan panduan penggunaan OMAI Fitofarmaka dalam praktik klinis sehari-hari. 3. Mendorong peningkatan pemanfaatan OMAI Fitofarmaka oleh TS Dokter.

Sasaran dan Target Kegiatan ini dihadiri oleh anggota Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), sejawat dokter secara umum, serta stakeholder yang terkait.

Virtual workshop ini diharapkan memberikan informasi ilmiah dan pengetahuan klinis secara praktis dalam upaya mengintegrasikan obat bahan alam berbasis bukti khususnya OMAI Fitofarmaka ke dalam pelayanan kesehatan. (Sumber Berita: https://www.obatnews.com/omai/pr-4463331510/terus-bergulir-edukasi-panduan-penggunaan-omai-fitofarmaka-kepada-dokter). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: