Berpadulah Menduniakan Herbal Indonesia
Tanggal Posting : Rabu, 13 Februari 2019 | 09:11
Liputan : Oleh: Karyanto, Penjual Jamu Gendong - Dibaca : 1499 Kali
Berpadulah Menduniakan Herbal Indonesia
"Foto saya dengan Pak Jokowi ini tidak penting, namun saya ingin mengabarkan: Berpadulah Menduniakan Herbal Indonesia itu yang penting," Karyanto-Penjual Jamu Gendong

JamuDigital.Com. Negara harus lebih optimal mengentaskan potensi mega biodiversitas yang dimiliki Indonesia berupa sumber bahan obat alami untuk diolah menjadi obat modern asli Indonesia, agar mendunia sebagai alternatif terpilih menyehatkan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia.

Kearifan lokal warisan nenek moyang bangsa Indonesia dalam bentuk ramuan Jamu, adalah kekayaan etnomedisin yang harus terus digali dan dilestarikan untuk menjadi bagian dari program menyehatkan rakyat.Jamu harus diperjuangkan sebagai warisan budaya dunia.

Peran strategis Obat Bahan Alam, memiliki empat dimensi, yaitu: Aspek Teknologi, Aspek Kesehatan, Aspek Ekonomi, dan Aspek Sosial-Budaya. Jamu adalah budaya bangsa Indonesia, seharusnya dapat menjadi Warisan Dunia, dikembangkan menjadi sumber bahan baku obat yang bernilai secara ekonomi, dan beperan signifikan dalam pembangunan kesehatan.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo telah mengeluarkan Instruksi Presiden, Nomor 6 Tahun 2016, Tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, pada 8 Juni 2016.

Instruksi Presiden tersebut menugaskan kepada 12 Pejabat Tinggi Negara (Kementerian dan Kepala Badan) untuk mengambil langkah-langkah sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing untuk mendukung percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan.

Indonesia adalah negara megabiodiversitas dunia dengan memiliki >30.000 spesies tanaman. Ristoja menghimpun informasi ada: 25.821 Ramuan, 2.670 Spesies Tumbuhan Obat- yang tersebar pada 303 etnis di 24 provinsi. Inilah potensi dahsyat itu. Inilah keunggulan daya saing yang dimiliki Indonesia.

Sedangkan jumlah NIE (Nomor Ijin Edar) Obat Tradisional sampai dengan September 2018 sebanyak 10.688. Jumlah Obat Herbal Fitofarmaka: 21 produk.

Namun, sayang sekali, Fitofarmaka yang merupakan obat dari bahan alam asli Indonesia yang sudah di uji klinis ini, belum masuk di Formularium Nasional, sehingga belum dapat dimanfaatkan untuk pasien-pasien BPJS Kesehatan.

BPOM telah melakukan rencana aksi sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden No. 6/ 2016, dengan melakukan berbagai inisiatif strategis untuk memajukan obat dari bahan alam Indonesia, dan melibatkan lintas sektoral, serta para stakeholders. Langkah ini, harus kita apresiasi.

Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini, saya mengusulkan kepada pemerintah, dua hal sebagai berikut: 1. Segera digulirkan Program Prioritas untuk menduniakan Jamu Indonesia secara konsisten, berkesinambungan sebagai salah satu keunggulan daya saing bangsa, yang berbasis ekonomi kerakyatan. 2. Memanfaatkan Fitofarmaka-obat bahan alam asli Indonesia yang sudah teruji klinis di Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit-Rumah Sakit yang menjadi mitra BPJS Kesehatan.

Roadmap Pengembangan Jamu
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI. pada 2011 telah menyusun buku "Roadmap Pengembangan Jamu 2011-2025". Dalam salah satu paragrafnya adalah sebagai berikut:

Jamu Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tinggi karena berasal dari keragaman budaya dan kearifan lokal masyarakat serta keragaman hayati yang sangat tinggi. Jamu juga merupakan produk ekonomi kreatif bangsa Indonesia yang berbasis budaya turun- temurun dan sudah saatnya diusulkan sebagai salah satu World Heritage.

Jamu sebagai aset nasional mempunyai dimensi manfaat yang luas diantaranya kesehatan, perekonomian dan sosial budaya. Sudah saatnya Jamu Indonesia dikembangkan menjadi komoditi yang kompetitif baik ditingkat lokal, regional maupun global.

Sayang sekali, roadmap tersebut tidak terdengar lagi gaungnya, padahal banyak langkah strategis yang dapat dilakukan. Kalaupun, mungkin ada yang perlu dilengkapi dari roadmap tersebut, mestinya dapat menjadi role model di dalam pengembangan Jamu Indonesia.

Herbal di Pelayanan Kesehatan
Pada Senin, 5 November 2018, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI., Dra. Engko Sosialine Magdalena, Apt, M.Biomed. tampil di acara Talkshow di Radio Kesehatan Kemkes RI. pada pukul 12.00-13.00 WIB. Radio streaming dapat diakses di: http://www.radiokesehatan.kemkes.go.id

Pada kesempatan tersebut, Dra. Engko Sosialine Magdalena, Apt, M.Biomed., juga menjawab sejumlah pertanyaan dari pendengar radio, diantaranya menjawab pertanyaan Founder JamuDigital.Com, Karyanto, yang menanyakan tentang: Eksistensi Jamu dan Fitofarmaka di Rumah Sakit/Fasilitas Kesehatan lainnya, serta mengusulkan, agar Kementerian Kesehatan memperjuangkan Hari Jamu Nasional tahun depan (2019).

Berikut ini penggalan transkrip talkshow Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI., Dra. Engko Sosialine Magdalena, Apt, M.Biomed., pada Senin, 5 November 2018, di Radio Kesehatan Kemkes:

Penyiar: Dan ini juga ada pertanyaan dari Bapak Karyanto, yang sudah bergabung di kesempatan siang ini, ini yang pertama terkait kategori Jamu dan Fitofarmaka. Apakah Fitofarmaka bisa disejajarkan dengan (obat-redaksi) resep dokter. Dan beliau juga mengusulkan bahwa Kemenkes ini bisa mengusulkan kepada Presiden, agar ditetapkan sebagai Hari Jamu Nasional pada 2019 mendatang. Nah ini keren, nih Pak Karyanto. Ibu Engko seperti apa tanggapannya?

(Pertanyaan lengkap dari Karyanto kepada RadioKesehatan Kemkes melalui WA, sesaat sebelum talkshow dimulai adalah sebagai berikut: 1. Jamu Indonesia telah mengalami modernisasi dalam pembuktian ilmiah sehingga dapat disebut sebagai setara dengan obat: yaitu kategori Jamu Fitofarmaka. Karena itu untuk mendorong pengusaha Jamu makin intensif menguji secara ilmiah produk Jamu...Kapan Fitofarmaka dapat disejajarkan dengan obat yng bisa diresepkan dokter-dokter di rumah sakit? 2. Jamu sebagai budaya bangsa Indonesia.....adalah potensi pembangunan kesehatan bangsa dan potensi ekonomi nasional....sebab Indonesia adalah negara biodiversitas ke kedua terbesar di dunia. Saya usul ..Kemenkes mengusulkan kepada Presiden, agar ditetapkan Hari Jamu Nasional pada 2019).

Engko S.: Halo selamat siang Pak Karyanto, apakabar? Rasanya saya kenal ini, Pak Karyanto. Ini merupakan usulan yang sangat baik, yang diberikan kepada Pemerintah. Dan tentu, jadi perhatian Pemerintah, bahwa penggunaan obat herbal hasil dari empiris sampai Fitofarmaka dari Dalam Negeri ini selalu didukung oleh Pemerintah.

Fitofarmaka memang tidak sejajar dengan obat. Kita tidak bisa mensejajarkan apple to apple, tetapi Pemerintah juga mendorong penggunaan Fitofarmaka didalam pelayanan kesehatan, terutama untuk promotif-preventif, itu sudah sangat signifikan.

Buktinya, Pak Karyanto dengan memanfaatkan dana lokasi khusus di sub bidang Pelayanan Kesehatan Kabupaten dan Kota, kita buka. Kabupaten/Kota bisa menggunakan Fitofarmaka atau Obat Herbal Terstandar.

Jadi kalau Pak Karyanto pergi ke Kota Semarang. Di situ, banyak produk Fitofarmaka yang disediakan Kota Semarang untuk digunakan promotif-preventif diwilayahnya. Ini merupakan bukti, Pemerintah sangat concern dan mendukung berkembangnya Fitofarmaka ataupun Obat Herbal Terstandar di Indonesia.

Transkrip lengkap Talkshow dapat dibaca di link ini: http://www.jamudigital.com/berita?id=Talkshow_Dirjen_Kefarmasian_dan_Alat_Kesehatan:_Fitofarmaka_di_RS_dan_Hari_Jamu_Nasional

Presiden Indonesia & Budaya Minum Jamu

Sejatinya pemimpin tertinggi negeri ini sudah sangat akrab dan yakin atas kemanfaatan minum Jamu. Untuk menjaga kesehatan, agar tubuhnya senantiasa bugar, tidak mudah terserang penyakit.

Presiden RI. ke-7, Joko Widodo

Berikut ini, liputan media tentang kegemaran Presiden RI., Jokowi minum Jamu: "Kali ini, saya mengajak Anda semua menengok dapur saya. Maksud saya, dapur tempat mengolah makanan dan minuman di kediaman saya. Tentu atas seizin Bapak Tri Supriharjo, sang juru masak. Ia telah bersama saya sejak tahun 2013. Pak Tri begitu paham selera makan saya. Ia juga tahu benar takaran dan racikan ramuan Jamu untuk saya. Inilah dapur kediaman saya," tulis Jokowi pada Minggu (21 Mei 2017).

Tri membagikan resep rahasia Jamu yang diminum Jokowi lengkap dengan wadah kesukaan Jokowi. Bapak itu, yang saya tahu sederhana sekali. Yang paling baku kalau pagi itu Jamu, teh pahit," katanya.

Ia membeberkan, Jamu Jokowi terdiri dari temu temu lawak, jahe, dan kunyit. Campuran ketiga bahan itu kemudian direbus sampai airnya berkurang dan berubah warna. Lalu dituangkan ke dalam mug besar. (https://merahputih.com/post/read/jokowi-tiap-pagi-minum-jamu-ini-resep-hahasianya-dari-juru-masak-presiden)

Presiden RI. Ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono

Pada era SBY dicanangkan Tahun Kebangkitan Jamu Indonesia. Saat itu bersamaan 100 tahun Kebangkitan Nasional, SBY mencanangkan tahun 2008 sebagai tahun Kebangkitan Jamu Indonesia. Hal ini dilakukan di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa, 27 Mei 2008.

Pada kesempatan itu, SBY bersama Menteri dan para Pengusaha minum Jamu Bersama. (https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-945896/sby-canangkan-tahun-kebangkitan-jamu-indonesia)

Pada era SBY, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI. yaitu pada 2011 telah disusun buku "Roadmap Pengembangan Jamu 2011-2025." Boleh jadi ini, roadmap ini adalah proses lanjutan dari pencanangan Kebangkitan Jamu Indonesia.

Sejatinya, sudah ada upaya-upaya untuk mengembangkan Jamu menuju pentas dunia, namun dalam implementasinya memang tidak seperti yang diharapkan. Itulah yang harus kita dorong dan kita bangkitkan lagi semangatnya.

Presiden RI. Ke-5, Megawati Sukarnoputri

Tentang kegemaran minum Jamu dari Megawati Sukarnoputri dapat diperoleh dari kisah cerita Puan Maharani. Dalam suatu kesempatan, saya mendengarkan cerita Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI., Puan Maharani yaitu pada acara "Gerakan UMKM Jamu Berdaya Saing dan Herbal Indonesia Expo 2018" yang dilaksanakan oleh BPOM di SMESCO Tower, Jakarta Selatan, Rabu, 12 Desember 2018.

Puan Maharani cukup panjang menceritakan, bagaimana dirinya dulu sejak kecil oleh ibundanya terus-menerus disuruh mimum Jamu. "Ya Jamu Beras Kencur, Kunyit Asem. Satu botol besar begini, disimpan di kulkas untuk diminum selama tiga hari," urainya penuh semangat.

Menko Puan sejak muda hingga kini rajin minum Jamu. Menurutnya hal tersebut merupakan ajaran dari ibundanya yang kini ia teruskan, juga mengajak anaknya untuk mengkonsumsi Jamu.

Presiden RI. Ke-4, Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid ternyata sangat menggemari berbagai macam makanan tradisional Indonesia. Salah satunya adalah gudeg ceker Bu Kasno yang terletak di kota Solo, Jawa Tengah. Untuk minumannya sendiri, ia selalu memesan wedang jahe gepuk Mbah Wir yang disebut-sebut sebagai wedang paling enak se-Asia Tenggara. (https://lifestyle.okezone.com/read/2017/10/27/298/1803785/kalau-presiden-jokowi-minum-jamu-mendiang-gus-dur-doyan-menyeruput-wedang-jahe)

Bangkit Sekarang, Layar Telah Berkembang
Menunggu apa lagi untuk menduniakan Jamu Indonesia, Herbal Indonesia? Ditengah semakin gencarnya gerakan back to nature di seluruh dunia. Inilah kesempatan emas bagi Indonesia untuk menjadikan herbal Indonesia, Jamu Indonesia sebagai keunggulan daya saing bangsa dengan menjadikannya obat herbal modern asli Indonesia, menjadikan minum Jamu sebagai budaya hidup sehat di seluruh dunia.

Potensinya berlimpah, pasarnya besar, teknologinya tersedia!

Masihkah kita meragukan potensi besar ini, potensi yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain ini. Maka berpadulah sekarang untuk menduniakan Herbal Indonesia, Jamu Indonesia.

Salam, Jamu Brand Indonesia! Depok, 13 Februari 2019.

Karyanto, Penjual Jamu Gendong.

 


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2019 @ www.jamudigital.com

All Right Reserved

Jamu Digital: Jamu Indonesia Mendunia