Etika Penelitian Pada Pandemi COVID-19
Tanggal Posting : Rabu, 6 Mei 2020 | 09:56
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 1050 Kali
Etika Penelitian Pada Pandemi COVID-19
Webinar Etika Penelitian Pada Pandemi COVID-19, Selasa, 5 Mei 2020.

JamuDigital.Com -PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Pada Webinar Etika Penelitian Pada Pandemi COVID-19 yang dilakukan oleh ICTEC, RSCM, dan Universitas Indonesia pada Selasa, 5 Mei 2020 dengan jumlah 500 peserta yang dimoderatori oleh Dr. dr. Andri M.T. Lubis, SpOT(K) dan tiga orang narasumber:

  • Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudy, SpFK: Penelitian Pada COVID-19: Masalah Etika Yang Dapat Terjadi.
  • Prof. Dr. Mohammad Sudomo: Etika Penelitian COVID-19 Multisenter, Nasional dan Internasional.
  • Prof. dr. Rita Sita Sitorus, Sp.M(K), PhD: Penelitian On-going Selama Pandemi Haruskah Dihentikan?

Berikut ini cuplikan pendapat Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudy, SpFK pada saat berlangsungnya webinar. Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudy, SpFK pada awal presentasinya memaparkan karakteristik masalah penelitian pada masa COVID-19:

  1. Protokol disusun tergesa-gesa.
  2. Komisi Etik "dititipi pesan" pimpinan institusi untuk mempercepat pemberian ethical approval.
  3. Tim peneliti berlomba untuk menjadi yang tercepat.
  4. Rapat dan diskusi tidak berjalan secara alamiah.
  5. Keselamatan dan hak subjek cenderung terabaikan.

Secara umum 11 ciri penelitian yang tidak etis: Mengabaikan keselamatan/hak subjek. Gagal menjawab tujuan penelitian. Menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan. Tidak minta informed consent atau mendapatkannya secara yang tidak layak. Tidak ada ethical approval dari Komisi Etik. Membebankan biaya penelitian ke subjek. Tidak menghasilkan novelty. Melanggar prinsip keadilan (justice). Menelantarkan subjek yang mendapat cedera akibat penelitian. Memberi honor yang tidak wajar. Mengeksploitasi subjek vulnerable.

Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudy, SpFK juga menjelaskan penyebabnya defisiensi metedelogi: Dipersiapkan secara tergesa-gesa. Sarana dan SDM yang kurang. Dana penelitian sering tidak dipersiapkan dengan baik. Kurangnya pemahaman mengenai metedologi penelitian. Dan akibatnya: Pengorbanan subjek, dana, waktu sia-sia. Terjadi penggunaan obat irasional.

Berita Terkait: Sinergi GP. Jamu dan Dpr Majukan Jamu

Berikut ini contoh defisiensi metodologi: Tidak ada kelompok control. Sampel size yang terlalu kecil. Tidak ada randomisasi. Tidak ada penyamaran. Penyimpangan protocol yang besar. Investigator bias.

Apakah etis memberikan plasebo bagi pasien COVID-19? Tidak etis, bila sudah ada obat standar. Bila belum ada, justru pemberian plasebo menjadi amate tis. Semua kelompok perlakuan harus mendapat terapi dasar yang sama, yang berbeda hanya tambahan perlakuan intervensi (add-on). Peneliti harus menghilangkan prasangka bahwa plasebo pasti inferior dibandingkan dengan obat uji.

Investigator’s bias pada uji klinik COVID-19. Cenderung terjadi penelitian:

  • Tanpa kelompok control atau menggunakan historical control.
  • Tanpa randomisasi.
  • Tanpa penetapan besar sampel sebelum penelitian dimulai.
  • Menggunakan parameter-parameter lab sebagai outcome primer.
  • Tanpa blinding (kecuali kalau hasilnya dinilai dengan parameter objektif).

Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudy, SpFK dalam presentasinya menambahkan fungsi sponsor dalam uji klinik: Pembiayaan penelitian: pengadaan obat uji berkualitas baik, pemerikasaaan penunjang lain, biaya kaji etik, perancangan protocol, analisis data. Bila terjadi cedera: biaya perawatan dan kompensasi, Monitoring, Audit, Sarana penelitian, Training GCP, Investigator’s brochure, Initiaton dan closure meeting, Honor pelaksana penelitian, dan Publikasi. Sponsor memegang peran penting dalam penelitian, namun sering terlupakan pada penelitian dalam pandemik.

Mengapa pasien COVID-19 vulnerable? Ketakutan akan meninggal. Dalam keadaaan physical dan psychological distress. Terisolasi dari keluarga. Ketiadaan obat yang efektif. Ketiadaan biaya. Apakah pasien vulnerable boleh dijadikan subjek penelitian? Boleh dengan syarat:

  • Masalah penelitian itu tidak bisa dijawab dengan menggunakan pasien biasa.
  • Pasien vulnerable juga terserang oleh penyakit yang sama.
  • Mereka harus diberi proteksi khusus.
  • Mereka hanya boleh dipaparkan terhadap risiko minimal.

Kondisi yang selalu terjadi pada setiap pandemik: Kurangnya dana, dan SDM. Dapat terjadi persaingan antara kepentingan pelayanan pasien vs kepentingan penelitian. Kepentingan pasien harus diberi prioritas tertinggi. Sementara itu, perlu direnungkan beberapa kali Covid ini akan menyerang? Dan kapan hasil penelitian akan terjadi?

Diakhir presentasinya Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudy, SpFK memaparkan: Minat meneliti pada masa pandemik COVID-19 amat diapresiasi. Subjek penelitian Covid adalah vulnerable harus dilindungi khusus. Perlu upaya untuk menghindarkan bias hasil penelitian. Penelitian kolaboratif yang besar lebih berhaga dari penelitian-penelitian kecil yang terfragmentasi. Kepentingan pasien dalam menggunakan SDM dan sarana layanan Kesehatan harus diberi prioritas tertinggi. Redaksi JamuDigital.Com.

 


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: