Yuli Widiyastuti: Profesor Riset Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Tanggal Posting : Selasa, 8 Desember 2020 | 05:28
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 514 Kali
Yuli Widiyastuti: Profesor Riset Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Prof Yuli Widiyastuti saat melakukan riset di Perkebunan Dendrobium nobile di Kunming-China yang sudah GAP Certified.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Indonesia dengan ribuan spesies tumbuhan obat, semestinya dapat berperan lebih besar dalam pengembangan obat tradisional dan herbal di level global. Namun, harus diwaspadai kerusakan habitat/perubahan iklim memacu kelangkaan sejumlah spesies tumbuhan obat yang mendorong subsitusi atau adulterasi bahan baku.

Demikian Prof. Dr. Ir. Yuli Widiyastuti, M.P- yang baru dikukuhkan sebagai profesor riset oleh Kementerian Kesehatan RI. memaparkan kepada Redaksi JamuDigital.Com pada Senin, 7 Desember 2020.

Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset mengukuhkan lima profesor riset asal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) pada Kamis, 3 Desember 2020 di Aula Siwabessy, Kementerian Kesehatan.

Lima Profesor Riset tersebut adalah Sri Irianti, SKM, M.Phil, Ph.D di bidang kesehatan lingkungan, Dr. Ekowati Rahajeng, S.K.M., M.Kes di bidang epidemiologi dan biostatistik, Dr. Rustika, SKM., MKes di bidang epidemiologi dan biostatistik, Dr. Ir. Yuli Widiyastuti, M.P di bidang tanaman obat dan obat tradisional, serta Dr. drg. Indirawati Tjahja Notohartojo., Sp. Perio di bidang epidemiologi dan biostatistik.

Berikut ini, kesan dan harapan Prof. Dr. Ir. Yuli Widiyastuti, M.P seputar pengukuhannya sebagai profesor riset:

Luar biasa, karena hampir tidak percaya bahwa saya mampu mencapai jenjang karir peneliti tertinggi ini. Meskipun di era pandemi, proses pengukuhan dapat berjalan dengan baik dengan mematuhi prokes. Bagi saya pribadi, pengukuhan ini bukan tujuan akhir namun menjadi awal pembuka untuk mengkontribusikan dan mendedikasikan keilmuan saya lebih besar lagi pada pengembangan tanaman obat dan obat tradisional di Indonesia.

Masih banyak pekerjaan rumah untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari Negara lain dalam riset tanaman obat khususnya di bagian hulu. Semoga sedikit pemikiran saya guna mengembangkan pedoman budi daya dan pascapanen tanaman obat, membuka peluang riset di bidang ini dilakukan lebih intensif lagi. Indonesia dengan ribuan spesies tumbuhan obatnya semestinya dapat berperan lebih besar dalam pengembangan obat tradisional/herbal di level global.

Apa yang harus diperhatikan- hal terpenting dalam produksi obat tradisional?

Untuk bisa memproduksi obat tradisional yang aman dan bermutu, mutlak menggunakan bahan baku bermutu berupa simplisia terstandar yang terjamin kebenarannya, kemurniannya dan kestabilannya. Saat ini teknologi produksi obat tradisional sudah sangat maju namun teknologi proses produksi bahan baku (simplisia) masih sangat sederhana kalau tidak boleh dibilang belum ada sentuhan teknologi.

Simplisia bahan baku industry sebagian besar masih diperoleh dari panen tumbuhan liar dan hanya sebagian kecil dari usaha budi daya.

Bagaimana solusinya?

Pemenuhan ketentuan koleksi, budi daya, dan pascapanen tanaman obat yang baik seharusnya diterapkan dalam tata kelola produksi bahan baku obat tradisional. Untuk itu pemerintah diharapkan segera membuat pedoman yang diperlukan mengacu pada pedoman yang telah diterbitkan oleh WHO dengan beberapa penyesuaian berdasarkan kondisi sumber daya Nasional.

Berita Terkait: Kemenkes Kukuhkan Lima Profesor Riset 

Berita Terkait: Keunggulan Obat Modern Asli Indonesia

Prof Yuli W

Point penting apa dari orasi saat pengukuhan yang berjudul "Pengembangan Parameter Standar Simplisia Untuk Menjamin Mutu Dan Keamanan Obat Tradisional?"

  • Agar obat tradisional aman dan bermutu wajib menggunakan bahan baku atau simplisia yang terstandar.
  • Simplisia terstandar harus benar secara botani, murni atau tidak tercampur dengan bahan lain, serta mengandung senyawa kimia sesuai persyaratan. Budi daya tanaman akan lebih menjamin kemurnian simplisia dan keseragaman mutu terkait kandungan senyawa aktif, serta dapat meningkatan kuantitas produksi.
  • Kerusakan habitat dan perubahan iklim memacu proses kelangkaan beberapa spesies tumbuhan obat yang mendorong terjadinya subsitusi atau adulterasi bahan baku. Adulterasi dan subtitusi berpengaruh pada aspek keamanan dan khasiat produk.
  • Ketersediaan acuan botani tanaman sumber bahan baku pada buku standar sangat diperlukan karena: 1. Masyarakat awam mengenal dan mengetahui tanaman obat dari nama local atau dari karakter morfologi umum; 2. Banyak tanaman obat memiliki nama daerah yang beragam; 3. Banyak tanaman obat yang memiliki karakter morfologi umum yang sama atau mirip dalam kondisi segar dan menyebabkan memiliki bentuk simplisia sama.
  • Diperlukan acuan standar botani tanaman sumber yang belum ada di buku FHI, sehingga perlu ditambahkan atau disusun suatu National Monograph of Medicinal Plant.

Akhmad Saikhu, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Kementerian Kesehatan RI. menyambut gembira pencapaian gelar profesor riset di bidang tanaman obat dan obat tradisional oleh Prof Yuli Widiyastuti.

"Gelar profesor riset yang sudah diraih oleh Prof.  Yuli Widiyastuti ini merupakan penghormatan, pengakuan, dan kepercayaan serta capaian sebagai seorang peneliti. Tentu saja ini mempunyai implikasi berupa tanggung-jawab yang lebih tinggi dalam pengembangan, pengkajian dan penerapan teknologi, khususnya dalam bidang tanaman obat dan obat tradisional. Diharapkan dengan pengukuhan sebagai profesor riset ini, dapat lebih memacu peningkatan kualitas penelitian dan bimbingan ilmiah kepada para peneliti yunior," ungkapnya saat dihubungi Redaksi JamuDigital.Com.

Profil Prof. Yuli Widiyastuti. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 25/M tahun 2020 yang bersangkutan diangkat sebagai Peneliti Ahli Utama terhitung mulai tanggal 24 Maret 2020. Menamatkan Sekolah Dasar Negeri Kalisoro tahun 1979, Sekolah Menengah Pertama Negeri Tawangmangu tahun 1982, dan Sekolah Menengah Atas Negeri Karanganyar tahun 1985.

Gelar Sarjana Pertanian diperoleh pada tahun 1990 dan gelar Magister Pertanian tahun 2004 dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Memperoleh gelar Doktor bidang Bioteknologi dari Jurusan Bioteknologi Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada pada tahun 2017. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: