Webinar PIKTI, Bahas Hilirisasi dan Riset Herbal Saat COVID-19
Tanggal Posting : Selasa, 30 Maret 2021 | 07:33
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 171 Kali
Webinar PIKTI, Bahas Hilirisasi dan Riset Herbal Saat COVID-19
Badan POM siap bersinergi lintas sektor, terus melakukan inovasi percepatan pengembangan dan pemanfaatan Fitofarmaka agar kompetitif di skala nasional dan menembus pasar global.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Webinar Perkumpulan Induk Organisasi Kesehatan Tradisional Indonesia (PIKTI) bertajuk ’’The Secret of Indonesian Herbal (Jamu) for Good Health,’’ diadakan pada Minggu, 28 Maret 2021.

Pada event ini, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM, Reri Indriani membahas "Kebijakan Pengembangan dan Hilirisasi Produk Obat Tradisional. Sambutan oleh Ketua Umum PIKTI, Ekawahyu Kasih, dan Ketua Umum GP. Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman.

Narasumber yang tampil: Rachmat Sarwono (Pendiri dan Direktur Utama PT. Industri Jamu Borobudur), Fenny Yunita (Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia), dan Edward Basilianus (CEO and Founder Nucleus Farma Archives).

Potensi obat tradisional di masa pandemi COVID-19 mengingat, karena salah satu cara terbaik mencegah penularan wabah menerapkan protokol kesehatan dan menjalankan gaya hidup sehat, termasuk mengonsumsi produk obat berbahan herbal untuk memelihara daya tahan tubuh.

Di sisi lain, biodiversitas tanaman obat yang dimiliki Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan demi mendukung kebutuhan produk berbahan herbal yang semakin meningkat. Sekaligus menambah nilai perekonomian nasional dan mendukung kemandirian industri obat berbahan herbal.

"Hal inilah yang mendorong Badan POM untuk terus melakukan pengawalan terhadap pemanfaatan potensi tersebut, baik sejak dikembangkan pada skala penelitian hingga dihilirisasi menjadi produk komersil oleh industri," jelas Reri Indriani

Hingga saat ini, tercata sebanyak 79 produk Obat Herbal Terstandar (OHT) dan 26 produk Fitofarmaka (FF) telah terdaftar di Badan POM. Selain itu, Badan POM juga telah melakukan pendampingan terhadap 14 penelitian obat herbal untuk penanggulangan COVID-19 dengan progress yang beragam.

Proses sudah selesai uji klinik sebanyak 2 penelitian, proses sedang berlangsung di rumah sakit sebanyak 2 penelitian, 2 penelitian sudah mendapat persetujan pelaksanaan uji klinik, 4 penelitian masih dalam pendampingan proses tahapan uji klinik, 1 penelitian sudah mendapat persetujan pelaksanaan uji pra-klinik, dan 3 penelitian yang masih dalam pendampingan proses tahapan uji pra-klinik.

"Jumlah tersebut masih tergolong minim, sehingga pengembangan obat bahan alam, khususnya OHT dan FF yang memiliki evidence-based khasiat dan potensial menjadi OMAI (Obat Modern Asli Indonesia), perlu terus didukung," ungkap Reri Indriani.

Ke depannya, produk Fitofarmaka diharapkan dapat berperan sebagai produk pengobatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional. Tidak hanya digunakan membantu penanganan COVID-19, Fitofarmaka juga memiliki peluang masuk ke dalam sistem Pelayanan Kesehatan Formal untuk menggantikan kekosongan ketersediaan  obat kimia, maupun adjuvant atau pendukung pengobatan utama dari obat kimia.

"Badan POM siap bersinergi dengan lintas sektor, berkontribusi secara konkret, serta terus melakukan inovasi untuk percepatan pengembangan dan pemanfaatan Fitofarmaka agar mampu bersaing di skala nasional hingga mampu menembus pasar global," tegas Reri Indriani.

Sedangkan Dr. Fenny Yunita, M.Si., Ph.D, Pengurus Pusat PDHMI- membahas tema "Peranan Herbal Indonesia (Jamu) dalam Masa Pandemi COVID-19." Dijelaskan dengan rinci mengenai immunomodulator yaitu zat alami atau sintetis yang membantu mengatur atau menormalkan sistem kekebalan tubuh.

"Fungsi Immunomodulator, dimasukkan ke dalam tubuh, yang mengaktifkan makrofag dan granulosit, di sana dengan meningkatkan fagositosis (memakan benda asing di tubuh kita)," jelasnya.

Immunomodulator dibagi menjadi dua: Immunostimulant, dan Immunosuppressan. Immunostimulant- imunostimulasi terdiri dari konsep profilaksis atau terapi yang bertujuan pada stimulasi sistem kekebalan tubuh spesifik kita. Ini terutama menyiratkan stimulasi yang tidak tergantung antigen dari fungsi dan efisiensi granulosit, makrofag, komplemen dan sel-sel pembunuh alami (NK).

Jenis Imunostimulan: Imunostimulan Spesifik memberikan spesifisitas antigenik dalam respon imun (Vaksin, Antigen), Imunostimulan Non Spesifik merangsang terbentuknya respon imun non-spesifik (Adjuvan, Obat alami).

Imunostimulan biologic: Nukleotida, Kolostrum, GnRH, Hormon Timus, Limfokin, Interferon, Antibodi monoclonal. Imunostimulan sintetik: Herbal, Vaksin, Imunoterapi spesifik.

Penelitian Jamu di Era COVID-19: Belum ada obat yang pasti, Peluang Imunomodulator: Meniran, Jambu biji: hesperidin, rhamnetin, kaempferol, kuersetin, myricetin, Kunyit/Temulawak: curcumin, Kulit Jeruk. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: