Urgensi Terapis Belajar Herbal, Agar Terhindar Jerat Hukum
Tanggal Posting : Selasa, 1 Maret 2022 | 05:47
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 496 Kali
Urgensi Terapis Belajar Herbal, Agar Terhindar Jerat Hukum
Karyanto mengamati semangat terapis pengobat tradisional belajar herbal terus meningkat. Perlu modul pembelajaran sistematis, megingat banyak terapis tidak memiliki latar belakang pendidikan farmasi.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Pandemi COVID-19 yang menyerang seluruh dunia selama dua tahun ini, semakin menegaskan tentang pentingnya pengobatan tradisional sebagai bagian dari menyehatkan masyarakat dunia.

Belum ditemukannya obat yang spesifik untuk obat COVID-19, maka penggunaan obat herbal untuk meningkatkan imunitas tubuh adalah rujukan dari para ahli kesehatan dunia, agar tubuh mampu menangkal virus COVID-19.

Untuk itu, saat yang tepat bagi terapis tradisional untuk terus meningkatkan kompetensinya di bidang obat herbal. Selain dapat meningkatkan proses terapi kepada pasien agar dapat lebih cepat sembuh, namun juga ada konsekuensi hukum bagi terapis jika tidak menguasai ilmu di bidang obat herbal. Apa kaitannya, dan mengapa hal ini layak menjadi perhatian bagi para terapis?

Simak yuks, bahasannya di bawah ini:

Menurut Karyanto, Direktur PT. Global Jamu Indonesia sejatinya peran pengobatan tradisional itu sudah ada sejak awal manusia hidup di bumi, terutama pemanfaatan tumbuhan untuk obat-obatan. Sejak dahulu kala, kehidupan manusia tidak terpisahkan dengan alam, termasuk dalam mencari pengobatan tatkala sakit.

"Keberadaan pengobatan tradisional merupakan bukti sejarah dari upaya pelayanan kesehatan pada masa lalu dan akan tetap eksis di masa kini dan masa mendatang. Bahkan dengan dukungan ilmiah yang semakin canggih pengobatan dengan herbal semakin meluas. Para dokter di banyak negara sekarang sudah banyak yang menjadikan obat herbal sebagai pilihan terapi untuk pasiennya," ungkap Karyanto- Sarjana Farmasi Alumni Universitas Gadjah Mada- yang sudah mengamati pemakaian obat herbal di berbagai negara ini.

Untuk itulah, lanjut Karyanto- yang juga Founder JamuDigital ini, sejak awal tahun 2017- saya telah  membangun website media online khusus Jamu dan obat herbal Indonesia yaitu: www.jamudigital.com sebagai media informasi tentang Jamu dan obat herbal dengan mengupasnya dari berbagai aspek dan dimensi.

Informasi yang dirilis Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sebanyak 80% dari total populasi di benua Asia dan Afrika bergantung pada pengobatan tradisional. WHO juga telah mengakui pengobatan tradisional dapat mengobati berbagai jenis penyakit infeksi, penyakit akut, dan penyakit kronis.

Belajar Herbal Sebuah Keharusan, Hindari Jerat Hukum!

Dalam pandangan Karyanto- yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang farmasi (Apotik, Alat Kesehatan, dan Industri Farmasi) ini, secara filosofis pendekatan pengobatan tradisional memang berbeda sekali dengan pengobatan konvensional.

"Prinsip pengobatan tradisional itu secara holistik (mind-body-spirit), Modalitas yang digunakan juga komprehensif (intervensinya mind-body-spirit), Pengobatan tradisional lebih kepada upaya untuk mengembalikan vitalitas tubuh melalui self-healing," urai Karyanto lebih lanjut.

Pengobatan tradisional diatur dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan). Pasal 1 angka 16, UU Kesehatan menetapkan bahwa pengobatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Pasal 105 UU Kesehatan mengatur bahwa sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetika serta alat kesehatan harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang ditentukan. Standar yang ditentukan ini dapat mengacu pada SK Menteri Kesehatan No. 659/Menkes/SK/X/1991 tentang Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

Sedangkan hubungan hukum antara pasien/konsumen dan pengobat tradisional adalah hubungan hukum antara konsumen dan penyedia jasa, sebagaimana diatur dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU Perlindungan Konsumen).

Dalam pasal 1 angka 1 UU Perlindungan Konsumen disebutkan, konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

Adapun, Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi (pasal 1 angka 3).

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pelaku pengobatan tradisional, yang menyediakan jasa pengobatan tradisional, dapat dikatakan sebagai pelaku usaha. Sedangkan pasiennya, yang mendapatkan jasa pengobatan tradisional tersebut, dapat dikategorikan sebagai konsumen. Dengan demikian, UU Perlindungan Konsumen dapat diterapkan dalam hubungan antara pasien dan pelaku pengobatan tradisional.

"Mengingat para pengobat tradisional dalam proses terapinya, sering kali memberikan saran kepada pasien tentang obat herbal yang perlu digunakan dalam proses terapi, maka wajib hukumnya bagi para pengobat tradisional tersebut belajar obat herbal," Karyanto mengingatkan.

Obat herbal dan terapis itu adalah hubungan yang tidak terpisahkan, seperti halnya dokter yang tidak terpisahkan dengan peresepan obat untuk pasiennya.

Untuk itulah, Karyanto menyarankan, agar pasien mendapatkan terapi obat herbal yang tepat, rasional dan tidak membahayakan pasien, dan tentunya terapis pengobat tradisional terlindungi dari tuntutan hukum karena, misalnya salah memberikan obat herbal kepada pasiennya, maka belajar herbal itu harus menjadi modul pembelajaran bagi terapis tradisional.

"Saya melihat semangat para terapis tradisional untuk belajar herbal terus meningkat. Untuk itu, perlu adanya modul pembelajaran obat herbal yang sistematis, megingat banyak terapis pengobat tradisional yang tidak memiliki latar belakang pendidikan farmasi," Karyanto mengingatkan, agar ke depan pengobat tradisional terus meningkat kompetensinya, khususnya di bidang disiplin ilmu obat herbal. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: