![]() |
| Infografis makalah Dr. Raymond: Konsep The Green Pharmacy mengembangkan biodiversitas Indonesia menjadi obat herbal untuk mendukung sistem kesehatan nasional dan prospeknya di pasar global. |
JamuDigital.Com- Media Jamu, Nomor Satu. Disrupsi pandemi COVID-19 di seluruh dunia, meneguhkan kembali akan potensi sumber daya alam sebagai sumber daya yang mampu menyehatkan masyarakat dunia. Ditengah transformasi bidang kesehatan yang handal yang terus dibangun, konsep The Green Pharmacy mencuat kembali sebagai alternatif solusi, ditengah upaya dunia menjinakan pandemi COVID-19.
Sejatinya, gaung konsep The Green Pharmacy telah mencuat sejak 1990-an, ketika James A. Dukes, Pakar Botani- Fitokimia di Amerika mempublikasikan serangkaian buku tentang green pharmacy yang sangat populer pada waktu itu.
Kini, di Indonesia, obat dari bahan alam asli Indonesia yang dikembangkan melalui riset-riset ilmiah menggunakan teknologi farmasi terkini, dan dilanjutkan diuji pra klinis dan uji klinis, sehingga memiliki evidence base- yang dikategorikan sebagai Fitofarmaka oleh Badan POM, yang kemudian dinarasikan sebagai Obat Modern Asli Indonesia (OMAI)- diharapkan dapat masuk dalam sistem Kesehatan Nasional.
Hal diatas mengemuka pada gelaran "Kegiatan G20: The Indonesian Healthcare Future Forward," Selasa, 8 Maret 2022, yang menampilkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya.
Adalah Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin yang membuka acara ini, dan memberikan sambutan. Menkes mengatakan bahwa pandemi COVID-19 membuat negara-negara di dunia membangun sistem kesehatan yang lebih kuat.
"Pandemi COVID-19 telah membuat kita membangun sistem kesehatan yang lebih kuat. Dengan akses yang memadai pada tindakan medis. Ini tidak boleh menunggu lebih lama lagi. Kita harus melindungi generasi anak-anak kita dan generasi anak-anak mereka," ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Menkes menegaskan pelayanan kesehatan lokal sebagai tulang punggung pemberian layanan kesehatan. Untuk itu, perlu diberikan sistem pendukung yang kuat, negara membutuhkan layanan kesehatan lokal yang kuat
Indonesia berkomitmen pada tiga bidang prioritas, yaitu:
- Pertama, mendorong negara-negara di dunia membangun sistem kesehatan global, mensinergikan keuangan dan mobilisasi penanggulangan medis, serta meningkatkan sistem kesehatan global.
- Kedua, melakukan harmonisasi global dalam penerapan protokol standar yang bertujuan menghidupkan mobilitas global.
- Ketiga, memperluas pusat penelitian dan manufaktur global untuk pandemi, pencegahan, kesiapsiagaan hingga respons terhadap pandemi.
Tiga Terobosan Kemeterian Kesehatan Indonesia
Sedangkan Sekretaris Jenderal Kemenkes, Kunta Wibawa pada kesempatan ini memaparkan bahwa Kementerian Kesehatan mengusulkan tiga terobosan penguatan sistem kesehatan global dan untuk menjamin pelayanan kesehatan.
- Pertama: Mobilisasi sumber daya keuangan untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi. Melanjutkan pembentukan mekanisme baru PPR (Prevention, Preparedness, and Response) pembiayaan yang telah dilakukan oleh kepresidenan G20 Italia sebelumnya.
- Kedua: Mobilisasi sumber daya kesehatan yang penting untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi. Dengan begitu bisa lebih sigap apabila terjadi pandemi di kemudian hari
- Ketiga: Optimalisasi pengawasan geonomik dan penguatan mekanisme berbagi data tepercaya untuk memberikan insentif bagi kesehatan masyarakat global yang kuat.
- Berita Terkait: Presiden Jokowi: Kemandirian Obat Menjadi Titik Lemah Serius
- Berita Terkait: Menko Luhut Binsar Pandjaitan: Beri Kesempatan OMAI Masuk JKN
- Berita Terkait: Konstelasi Mendorong OMAI Masuk JKN BPJS dan Upaya Gencar Edukasi Dokter
The Green Pharmacy & Konstelasi OMAI Masuk Sistem Kesehatan Nasional
Membahas The Green Pharmacy, tentu kita menjadi ingat tentang sosok James A. Duke yang menulis sejumlah buku yang sangat populer di zamannya, antara lain yang sangat populer adalah buku:
The Green Pharmacy: New Discoveries in Herbal Remedies for Common Diseases and Condition from the Worlds foremost authority on Healing Herbs. By James A. Duke, Ph.D. Published: Rodale Press Emmaus, Pennsylvania, 1997.
Selain menulis sejumlah buku tentang The Green Pharmacy, James A. Duke, Ph.D pernah memegang beberapa jabatan selama lebih dari tiga dekade di Departemen Pertanian AS, termasuk Kepala Laboratorium Sumber Daya Tanaman Obat. Dia adalah penulis banyak buku ilmiah dan populer, termasuk buku terlaris The Green Pharmacy, dan menjadi Dewan Penasehat untuk Pencegahan. Dia tinggal di Fulton, Maryland.
Adalah Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences PT Dexa Medica, Dr. Raymond Tjandrawinata yang mengulasnya kembali dengan memberikan penekanan pada potensi Indonesia sebagai negara mega biodiversitas dunia.
"Konsep Green Pharmacy sebagai agenda yang perlu didorong bersama. Dalam membangun ketahanan dan kemandirian kesehatan, industri farmasi lokal di Indonesia telah menjalankan sejumlah langkah dan upaya, salah satunya melalui konsep Green Pharmacy," urai Dr. Raymond Tjandrawinata.
Green Pharmacy, lanjut Dr. Raymond, dapat melindungi suatu negara dari masalah pasokan, masalah lingkungan, hingga masalah akses kesehatan. "Hanya ketika kita menyadari dan mewujudkan agenda ini, maka negara dapat menjadi mandiri, memiliki sistem lingkungan dan ekologi yang lebih baik, meningkatkan kesejahteraan petani, hingga meningkatkan kemandirian dalam hal bahan baku aktif (API) yang berasal dari negara kita sendiri," ungkap Dr. Raymond Tjandrawinata, Pakar Farmakologi Molekuler Indonesia yang telah banyak meraih penghargaan Internasional dan Nasional ini.
Di Indonesia, telah menggunakan banyak Green Sector di sektor publik, tetapi tidak di sektor farmasi. "Kami mendorong diadakannya konsorsium untuk memungkinkan Green Pharmacy untuk masa depan. Menunggu lebih banyak Green Pharmacy yang akan datang, pemerintah perlu memperhatikan masalah ini, rantai pasokan-permintaan global untuk API kami sangat bagus. Ini perlu kita dukung," ujar Dr. Raymond sebagaimana dipublikasikan di website Dexa Group.
Green Pharmacy sebagai Obat Modern Asli Indonesia (OMAI), bukan berarti diproses secara tradisional melainkan secara modern dan menggunakan teknologi canggih untuk pengembangannya. Kebijakan pemerintah harus mendorong pengembangan Green Pharmacy dan menempatkan produknya di fasilitas kesehatan seperti di rumah sakit umum dan lain-lain.
"Kami harus mengumpulkan data, uji klinis, untuk memastikan Green Pharmacy sesuai dengan standar internasional dan kategori obat internasional. Ke depan, Green Pharmacy harus menjadi mayoritas obat dalam formularium suatu negara. Ini adalah mimpi kami, dan akan dapat dilakukan jika pemerintah dan sektor swasta bekerja bersama-sama untuk mewujudkannya," Dr. Raymond mengemukakan harapannya. Redaksi JamuDigital.Com








