Tenaga Ahli dan Badan POM, Dialog Pengembangan OT
Tanggal Posting : Kamis, 22 Oktober 2020 | 08:42
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 203 Kali
Tenaga Ahli dan Badan POM, Dialog Pengembangan OT
Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito memimpin dialog "Peran Badan POM Dalam Mengawal Inovasi Produk Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan yang Berdaya Saing", pada Rabu, 21 Oktober 2020.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Obat tradisional Indonesia atau yang lebih dikenal jamu perlu mendapat perhatian serius. Jamu sebagai warisan budaya telah terbukti secara empiris memelihara kesehatan tubuh.

Untuk mendorong pengembangan obat tradisional berbahan asli Indonesia, diperlukan upaya bersama melalui inovasi riset dan uji klinik yang panjang.

Topik inilah yang diangkat dalam Dialog Bersama Tenaga Ahli "Peran Badan POM Dalam Mengawal Inovasi Produk Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan yang Berdaya Saing" secara daring, Rabu, 21 Oktober 2020. Setidaknya belasan tenaga ahli dan Guru Besar di bidang Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan dari sejumlah kampus terkemuka terlibat aktif dalam diskusi ini.

Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menyampaikan pentingnya mengawal inovasi obat tradisional melalui berbagai mekanisme hilirisasi riset dan penyederhanaan uji klinik dengan tetap menjaga validitasnya.

Dalam perkembangannya, produk obat tradisional terus bertransformasi dari awalnya jamu menjadi produk obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Namun demikian jumlah obat herbal terstandar dan fitofarmaka terdaftar di Badan POM masih sangat minim. Periode 1 Januari hingga 18 September 2020, Badan POM telah menerbitkan izin edar untuk 241 obat tradisional, 3 fitofarmaka, dan 604 suplemen kesehatan dengan khasiat membantu memelihara daya tahan tubuh.

Di tengah pandemi, Badan POM memberikan percepatan dengan beberapa fleksibilitas uji praklinik dan uji klinik.

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Farmasi Universitas Indonesia Prof. Purwantyastuti mengatakan proses uji klinik yang menjadi kunci pengembangan obat tradisional fitofarmaka, dapat disederhanakan. "Uji klinik tidak mahal bila mengukur hal yang tepat, tidak sulit jika ada pasien yang cukup dan ada dokter yang menjaganya, selama kaidah ilmiah tidak dilanggar," jelasnya.

Berita Terkait: BBPOM di Semarang Kerjasama Tingkatkan Mutu OT

Berita Terkait: OMAI HerbaPAIN, Obat Herbal Sakit Kepala, Pertama di Indonesia


Menurutnya uji klinik obat tradisional Indonesia dapat dilakukan cepat karena sudah terbukti secara empiris tiga generasi, sehingga tidak perlu uji toksisitas untuk melihat keamanannya. Selama menjadi Tim Ahli, dia melihat tindakan Badan POM sudah sangat tepat membantu proses uji klinik. Mulai dari pengawalan protokol dan pelaksanaan uji klinik hingga melihat hasil uji klinik apakah klaim tersebut dirasakan manfaatnya oleh pasien.

Saat ini Satuan Tugas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka (Satgas Fitofarmaka) tengah melakukan pendampingan hilirisasi 22 riset menuju izin edar produk. Sebanyak 3 riset pada tahap uji praklinik dan 4 riset pada tahap uji klinik. Selain itu, Badan POM juga sedang mengawal 14 penelitian produk herbal untuk penanggulangan COVID-19 yang dilaksanakan atas kerja sama lembaga penelitian, instansi, perguruan tinggi, sarana pelayanan kesehatan, organisasi profesi, dan industri.

Lebih lanjut Kepala Badan POM berharap pengembangan ini memberikan peluang masuknya obat tradisional yang dikenal dengan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) bisa sebagal alternatif dalam sistem jaminan kesehatan nasional. "Pengembangan OMAI dalam pelayanan kesehatan formal sangat besar. OMAI dapat mengisi kekosongan ketersediaan obat kimia, menjadi komplementer obat kimia, dan sebagai pendukung pengobatan utama," harapnya.

Sementara itu, Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada Prof. Suwidjio Pramono mendukung semangat pengembangan obat herbal melalui pembinaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan kemandirian bahan baku. "Kita harus prioritaskan pengembangan obat bahan alam Indonesia. Dan menyempurnakan protap registrasi jamu menuju fitofarmaka, mulai standar uji pra klinik hingga uji klinik," ungkapnya.

(Sumber Berita: https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/19967/Dialog-Tenaga-Ahli-Bersama-Badan-POM--Dorong-Pengembangan-Obat-Tradisional.html). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: