Saran Prof. Daryono Hadi Tjahjono, Apt, agar Herbal Indonesia Mengglobal
Tanggal Posting : Minggu, 22 Maret 2020 | 05:41
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 1201 Kali
Saran Prof. Daryono Hadi Tjahjono, Apt, agar Herbal Indonesia Mengglobal
Prof. Daryono Hadi Tjahjono., Apt., Guru Besar Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF ITB).

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Ditengah pandemi Virus Corona yang mengguncang dunia- yang kini juga dialami oleh masyarakat Indonesia- kita berhadap agar penyebaran Virus Corona di Indonesia segera dapat dihentikan. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan minum herbal/Jamu menjadi salah satu upaya, agar imunitas tubuh tetap prima menjadi salah satu cara untuk mencegah Virus Corona.

Pamor Jamu dan obat herbal Indonesia meningkat seiring dengan banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi. Bahan-bahan untuk membuat Jamu seperti Kunyit, Temulawak, Jahe dan lain-lainnya mulai agak sulit didapatkan di pasar-pasar tradisional akhir-akhir ini, karena masyarakat ’menyerbunya’ untuk dijadikan racikan Jamu.

Omzet Jamu Gendong juga naik- selama pandemi Virus Corona ini terjadi, sebagaimana dituturkan oleh sejumlah peracik Jamu Gendong di beberapa daerah yang dihubungi Redaksi JamuDigital.Com.

Namun disayangkan, ditengah trend positif untuk branding Jamu Indonesia, muncul polemik penggunaan Temulawak dan Kunyit yang ditulis oleh Wido Supraha yang berjudul "Hindari Kunyit dan Temulawak Sementara Waktu", yang viral di media sosial, dan akhirnya tulisan tersebut ditarik dan diminta untuk tidak diviralkan lagi oleh penulisnya.

Berita Terkait: Temulawak dan Kunyit, Aman Dikonsumsi Saat Pandemi Corona

Berita Terkait: Temulawak-Kunyit Datang, Infeksi Virus Dihadang

Berita Terkait: Temulawak-Kunyit Bermanfaat Melawan COVID-19

Berikut ini penjelasan yang diterima Redaksi JamuDigital.Com dari: Prof. Daryono Hadi Tjahjono., Apt., Guru Besar Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF ITB)- yang juga menjabat Dekan SF ITB, dan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI), agar herbal/Jamu Indonesia mengglobal:

Pembelajaran apa dari kasus pro-kontra artikel temulawak dan kunyit ini adalah agar ke depan herbal Indonesia semakin berkembang. Perpedaan pendapat ilmiah yang dituangkan dalam artikel publikasi, sebenarnya suatu hal yang biasa. Namun dengan daya nalar yang kritis dan keterbukaan, apabila ada kekeliruan atau koreksi dari pihak lain, tentu harus dengan lapang hati menerima masukan tersebut untuk perbaikan.

"Tanaman obat seperti Temulawak, Kunyit, Jahe dan lainnya harus makin sering dipublikasikan kemanfaatannya"

Sedangkan langkah-langkah apa, agar potensi biodiversitas Indonesia menjadi daya saing bangsa, maa perlu pemanfaatan secara kreatif dan lebih ekstensif. Kemudian diikuti dengan membuat produk-produk yang inovatif, sehingga bisa bersaing dengan produk dari luar negeri.

Potensi herbal/Jamu Indonesia, tentunya terbuka luas, karena secara sumber daya alam, di Indonesia sangat banyak tanaman obat yang dapat dijadikan produk-produk yang unggul. Keunggulan keanekaragaman-hayati ini, tidak dimiliki oleh banyak negara. Ini tentu keunggulan komparatif bagi Indonesia, yang dapat dijadikan keunggulan daya saing bangsa.

Lantas, bagaimana agar herbal/Jamu Indonesia mendunia? Produk herbal/Jamu Indonesia yang inovatiflah yag dapat kompetitif dengan produk sejenis dari luar negeri. Dan itu, tidak hanya dari segi harga, namun keunggulan dalam aspek manfaat (efikasi, keamanan, kualitas) akan mempermudah penetrasi ke pasar global. Hal ini tentunya, produsen (industri) perlu dukungan yang kuat dari pemerintah, lembaga riset/perguruan tinggi, agar dapat menghasilkan produk yang inovatif dan kompetitif. Sinergi dari para stakeholders! Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: