Riset Prof. Nidom: Formula BCL untuk Menghalau COVID-19
Tanggal Posting : Rabu, 1 April 2020 | 05:54
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 1039 Kali
Riset Prof. Nidom: Formula BCL untuk Menghalau COVID-19
Riset Prof. Nidom yaitu Formula BCL untuk menghalau COVID-19 diharapkan dapat menjadi temuan yang dapat membantu pasien Virus Corona.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Pandemi Virus Corona hingga kini terus berlansung di ratusan negara di dunia dengan jumlah korban meninggal terus bertambah (data WHO per 30 Maret 2020, jumlah meninggal sebanyak 33.106 orang). Para peneliti diberbagai negara terus berkejaran dengan waktu untuk menemukan obat penangkalnya.

Adalah Prof. Chaerul Anwar Nidom, Guru Besar Biologi Molekular dari Universitas Airlangga- yang juga Ketua Tim Riset Professor Nidom Foundation, bersama dengan Perusahaan Teknologi Biologi PUFF, Nucleus Farma mengembangkan dan menemukan Formula BCL (Bromhexine Hydrochloride) yang berfungsi sebagai receptor blocker untuk menghalau virus corona SARS-Cov-2, agar tidak menempel di paru-paru.

Menurut Prof. Nidom, bahwa pasien Covid-19 yang meninggal disebabkan oleh virus corona SARS-Cov-2 yang berhasil menembus ke paru-paru dan menimbulkan peradangan. Untuk itu, maka diperlukan formula untuk memblok receptor tersebut.

Kandungan obat untuk COVID-19 itu, yaitu: BCL, Guaiphenisin, Vegetable Glycerine (VG), dan Propylene Glycol (PG). Formula ini, sudah didaftarkan hak patennya ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

"Cara kerja formula ini dengan membendung reseptor ACE2 (Angiotensin Converting Enzyme 2) di paru-paru. Selain ada di paru-paru, reseptor ACE2 juga ada di jantung," jelas Prof. Nidom sebagaimana  rilis yang disampaikan kepada media, pada Senin, 30 Maret 2020.

Berita Terkait: Empon-Empon Aman di Minum Saat Pandemi Corona

BCL ini, lanjut Prof. Nidom,  tidak mempengaruhi Myonal Cardivit atau ACE2 yang ada di jantung, sehingga BCL ini jika digunakan untuk menghambat Covid-19 akan lebih efektif dengan cara penguapan. Alasan metode penguapan dinilai lebih efektif, karena ACE2 menghalangi reseptor melalui aerosol.

"Metode ini dianggap lebih cepat membendung reseptor dibanding cara lain, misalnya oral, karena membutuhkan proses metabolisme di dalam darah."

Kandungan BCL sebetulnya, telah sering digunakan sebagai obat mukolitik untuk mengatasi gangguan pernafasan, terutama jika kondisi batuk secara terus-menerus. BCL sendiri merupakan reaksi kimiawi dari bromhexine dan hidrogen klorida dalam komposisi yang seimbang.

Uniknya, formula BCL tersebut tidak dalam bentuk kapsul atau sirup yang mesti diminum, melainkan dalam bentuk vaporizer, sehingga penggunannya melalui metode aerosol (penguapan).

Metode penguapan dipilih pun berdasarkan hasil riset yang membuktikan bahwa aeorosol saat diaplikasikan pada penanganan medis misalnya penggunaan salbutamol, dapat dengan mudah menyerap ke dalam tubuh dalam bentuk aerosol 57 persen lebih tinggi dibanding salbutamol dalam persediaan oral (diminum).

Dengan formula BCL ini diharapkan akan dapat membantu pemulihan pasien Covid-19, terutama yang masih dalam tahap awal penyembuhan. Hal ini disebabkan virus tersebut akan mati dengan sendirinya karena tidak berhasil menempel di reseptor ACE2 paru-paru. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: