Pusat Riset Hayati dan Bioteknologi BRIN, Realisasikan Kedaulatan Obat-Obatan di Indonesia
Tanggal Posting : Kamis, 22 Juli 2021 | 04:22
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 66 Kali
Pusat Riset Hayati dan Bioteknologi BRIN, Realisasikan Kedaulatan Obat-Obatan di Indonesia
Pusat Riset Pengembangan Obat dan Deteksi Molekuler LIPI bertujuan merealisasikan kedaulatan obat-obatan di Indonesia yang kini masih mengandalkan impor.

JamuDigital.Com- Media Jamu, Nomor Satu. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengundang putra-putri terbaik bangsa untuk bergabung menjadi peneliti melalui jalur CPNS dan CPPPK.

Kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar webinar "Sharing Session Riset Bidang Hayati dan Bioteknologi" sebagai sarana diskusi dan mengenal lebih jauh riset-riset bidang hayati dan bioteknologi yang ada di Kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI secara virtual, pada Senin, 19 Juli 2021.

Plt. Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Yan Rianto mengatakan kegiatan ini merupakan kesempatan untuk mengenal riset-riset di bidang keilmuan hayati di LIPI, sehingga para calon pendaftar CASN BRIN mendapatkan gambaran mengenai kegiatan penelitian dalam bidang tersebut. 

"Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi Kedeputian IPH akan menjadi National Institute for Life Sciences di bawah BRIN dengan 10 Pusat Penelitian yang mewadahi para peneliti untuk berkiprah di bidang ilmu pengetahuan hayati. Spektrumnya cukup luas mulai dari riset konservasi tumbuhan, obat, penemuan, dan penelitian lainnya," ujar Yan.

Yan berharap calon peneliti nantinya akan mendapatkan tempat berlabuh yang cocok dan Kampus Cibinong akan menjadi pusat ilmu hayati sekaligus sebagai penghubung kolaborasi global di bidang biodiversitas dan kesehatan. "Semoga banyak yang tertarik untuk bergabung di Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, dan nantinya dapat menyumbangkan kemampuan dan pengetahuannya untuk turut memajukan riset hayati di Indonesia," tuturnya.

Acara tersebut menghadirkan sembilan narasumber yang merupakan Koordinator Tim Penyusun Naskah Akademik dari 10 Pusat Riset di Kedeputian IPH LIPI, yang dipandu langsung oleh Masteria Yunovilsa Putra, Peneliti dan Koordinator Program Penelitian Bioteknologi, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.

Peneliti Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Dian Latifah menjelaskan bahwa bahwa fasilitas riset maupun peneliti konservasi tumbuhan tersebar di Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibinong, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi dan Kebun Raya Eka Karya Bali. "Kebun Raya LIPI juga menjadi bagian dari komunitas kebun raya dunia yang tergabung dalam Botanic Garden Conservation International (BGCI) sehingga kegiatan risetnya berbasis pada konservasi tumbuhan yang mengikuti standar global," terang Dian.

Dian menjelaskan ruang lingkup Pusat Riset Konservasi Tumbuhan yang mempunyai tiga kelompok kegiatan yakni penentuan status konservasi melalui assessment dan re-assessment, penetapan jenis-jenis tumbuhan prioritas konservasi dan penyusunan strategi konservasi  jenis-jenis tumbuhan prioritas. "Selanjutnya diimplementasikan ke dalam kegiatan konservasi populasi alami jenis-jenis tumbuhan prioritas dan pengkayaan koleksi ex-situ sebagai rujukan ilmiah nasional, yang mencakup tumbuhan hidup maupun biji. Kemudian pembuatan basis data koleksi terintegrasi untuk seluruh koleksi ex-situ yang ada di kebun raya Indonesia. Kedua hal ini menjadi dasar untuk pengembangan teknik konservasi jenis-jenis tumbuhan prioritas, serta pengembangan teknik penyimpanan benih atau seed banking, "ujar Dian.

Peneliti Pusat Riset Sains dan Rekayasa Tanaman, Ahmad Fathoni yang menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keragaman hayati yang sangat besar. Namun hingga saat ini, masih banyak potensi flora di Indonesia yang belum terungkap. Oleh karena itu kami melakukan beberapa pendekatan dalam empat ruang lingkup, yang pertama  domestikasi tumbuhan.

Bagaimana kita bisa membawa tumbuhan yang dapat dibudidayakan atau dimanfaatkan untuk masyarakat, untuk pangan, obat, energi dan yang lainnya. Yang kedua strategi bagaimana kita merakit varietas unggul baru dengan berbagai pendekatan, salah satunya dengan kultur jaringan. Yang ketiga pemuliaan tanaman, dimulai dengan gen hunting modifikasi gen-gen yang bertanggung jawab terhadap bibit unggul dan terkait dengan respon tumbuhan terhadap lingkungan saat ini. Yang keempat pengembangan sumber daya genetik yang meliputi pemetaan gen, genetika populasi, agronomic biofortification, manipulasi lingkungan dan kajian seleksi molecular sumber daya genetik, imbuh Fathoni.

Sementara itu, peneliti Pusat Riset Biopolimer dan Ekostruktur, Nanang Masruchin menyebut bahwa riset di bidang yang ia geluti tersebut berfokus dan mengikuti  tren perkembangan dunia biomaterial di bidang biomaterial mulai dari zaman batu, plastik hingga biopolimer yaitu pemanfaatan sustainanable material contohnya kayu yang mengandung selulosa, lignin, tanin, dan semi selulosa.

"Pemanfaatan biomassa dilakukan menganut konsep ekologi selaras dengan tujuh agenda pembangunan dan dalam koridor agenda sustainable development goals (SDG’s); yaitu peningkatan kualitas lingkungan hidup, peningkatan ketahanan bencana dan iklmim, dan pembangunan rendah karbon. Fokus riset meliputi sistem rantai pasok, inovasi teknologi sistem produksi biorefinery, biokonversi bahan, bioproduk, dan riset untuk penerapan ISPO," jelas Nanang.

Menyambung pernyataan Nanang, Peneliti Pusat Riset Biodiversitas dan Sistematika Hayati, Anang S. Achmadi mengungkapkan bahwa keanekaragaman hayati dari 17 ribu pulau belum semua terungkap. "Ini yang menjadi basis kita untuk diteliti lebih lanjut. Sampai saat ini kita memiliki modal yang sangat kuat, ada tiga pusat referensi nasional  yang diwakili oleh kebun raya, herbarium bogoriense, museum zoologi bogoriense dan InaCC.

Sampai saat ini tiga referensi tersebut mempunyai koleksi 945 ribu flora, 225 juta fauna yang menjadi PR bagi peneliti masa sekarang maupun yang akan datang untuk digali lebih lanjut. Pada tahun 1967-2020 telah dideskripsikan jenis ataupun genus baru dari Indonesia untuk flora 629 jenis , fauna 549, pro organisme 55, sehingga potensi masih terbuka lebar, " tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan dan Rekayasa Bioproses, Puspita Lisdiyanti menjelaskan bahwa pusat riset tempatnya berkarya memiliki enam ruang lingkup penelitian. "Penelitian di bidang mikrobiologi terapan dan rekayasa bioproses meliputi teknologi enzim dan rekayasa protein, genetika dan rekayasa genetika, rekayasa mikrobioma dan nutrigenomik, metabolit dan senyawa bioaktif, bioremediasi, dan biokonversi dan biotransformasi," rinci Puspita.

Peneliti Pusat Riset Ekologi, Hidupan Liar dan Etnobiologi, Didit Okta Pribadi,  memaparkan bahwa ada enam ruang lingkup pusat risetnya yaitu ecosystem, integrated landscape ecology, ethnobiology, biodiversity management, ecosystem services dan ecology of the species. "Ekosistem indonesia sebenarnya risetnya akan di fokuskan pada risetnya bagaimana kita bisa mempelajari dan juga mengelola ekosistem-ekosistem indonesia yang sifatnya esensial terutama seperti, tas, gambut, mangrove, savana, pulau kecil, dan sebagainya," papar Didit.

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan dan Bioteknologi Hewan, Taufiq Purna Nugraha yang menjelaskan terdapat  tiga penggerak utama dari pusat pusat riset yang ia geluti, yaitu sumber daya fauna Indonesia, riset dan Pengetahuan Dasar Fauna Indonesia, dan isu-isu nasional dan global terkait fauna. "Pusat riset ini mencoba menjembatani riset-riset dasar menjadi bentuk-bentuk aplikasi praktis untuk kesejahteraan manusia dan hewan," rinci Taufiq.

Sedangkan peneliti Pusat Riset Pengembangan Obat dan Deteksi Molekuler, Masteria Yunovilsa Putra memaparkan tujuan pusat risetnya yaitu untuk merealisasikan kedaulatan obat-obatan di Indonesia yang kini masih mengandalkan impor. "Ruang lingkup riset bidang ini adalah 1) Biopharmaceutical Development Merupakan pengembangan produk parmasi berupa RA, RNA kemudian protein; 2) Molecullar Detection  yaitu teknologi deteksi yang dapat menargetkan terhadap asam nukleat, protein ataupun antobodi; 3) Bioorganic and  Medecinal Chemestry ini lebih fokus kepada senyawa senyawa kimia sintesis atau biosintesis yang dihasilkan," terang Masteria.

Terakhir, Sandi Sufiandi dari Pusat Riset Komputasi Hayati menyampaikan bahwa Pusat Riset Komputasi Hayati merupakan Pusat Riset yang lahir pertama kali di Indonesia. "Visi dan misi dari Pusat Riset Komputasi Hayati  adalah bisa menguak fenomena-fenomena misteri rahasia dalam bidang keilmuan biologi, fisika, kimia dan jembatan-jembatan hingga rekayasa engineering", jelasnya.

Sebanyak 325 formasi dibuka dengan rincian 104 formasi CPPPK untuk formasi Peneliti Ahli Madya dan 221 formasi CPNS untuk formasi Peneliti Ahli Muda. Pelamar CPPPK diharuskan memiliki persyaratan sudah menyelesaikan pendidikan S3 berusia 20-60 tahun, yang nantinya akan memiliki masa perjanjian kerja selama lima (5) tahun.

Sementara untuk pelamar CPNS diharuskan memiliki persyaratan sudah menyelesaikan pendidikan S3 dengan usia 18 hingga 40 tahun.Pelamar CASN BRIN dapat mengakses formulir pendaftaran dan informasi lengkap melalui tautan http://casn.brin.go.id/

(Sumber Berita: http://lipi.go.id/berita/Ruang-Lingkup-Pusat-Riset-Bidang-Hayati-dan-Bioteknologi-BRIN/22449). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: