Prof. Dr. Triana Hertiani, M.Si., Apt. Riset Spons dan Minyak Atsiri sebagai Antiinfeksi
Tanggal Posting : Sabtu, 13 Februari 2021 | 06:58
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 1894 Kali
Prof. Dr. Triana Hertiani, M.Si., Apt. Riset Spons dan Minyak Atsiri sebagai Antiinfeksi
Saat ini beberapa senyawa kimia tumbuhan yang potensial sebagai antibiofilm telah dimanfaatkan untuk produk kesehatan oral.

JamuDigital.Com-Media Jamu, Nomor Satu. Fakultas Farmasi UGM-Universitas Gadjah Mada kembali menghasilkan satu Guru Besar di Bidang Biologi Farmasi, yaitu Prof. Dr. Triana Hertiani, M.Si., Apt. Pengukuhan jabatan Guru Besar Fakultas Farmasi UGM dilakukan pada Kamis, 11 Februari 2021, di ruang Balai Senat, Gedung Pusat UGM.

Dihubungi Redaksi JamuDigital.Com usai pengukuhan Guru Besar, Prof. Dr. Triana Hertiani, M.Si., Apt. mengemukakan harapannya untuk menemukan senyawa dari bahan alam untuk mengatasi infeksi tanpa mengakibatkan resistensi. "Perlu diperbanyak kolaborasi riset yang terarah dan sinergi triple helix sesuai kearifan lokal masing-masing daerah,"ungkapya.

Indonesia, menurut Prof. Dr. Triana Hertiani, memerlukan ikon bahan alam berkhasiat obat seperti Ginseng di Korea. Contoh yang dapat diangkat: Daun Kelor, Daun Sambung Nyawa, Temulawak, Jahe Merah, Kunir Putih, dan lain-lain.

"Sedangkan dari bahan laut dapat meningkatkan bahan baku produk suplemen atau bahan baku obat dan kosmetik, misal dari Teripang, Rumput Laut, Asam Lemak Omega 3, Chitosan dan lain-lain," urainya.

Pidato Pengukuhan Guru Besar

Prof. Dr. Triana Hertiani, M.Si., Apt. dalam pidato pengukuhannya menjelaskan kini penyakit infeksi kembali menjadi perhatian dunia dengan merebaknya wabah virus corona di pada 2019. Terjadinya infeksi, muncul atau tidaknya gejala dan juga tingkat keparahannya merupakan hasil dari interaksi antara mikroorganisme dengan sistem kekebalan tubuh seseorang.

Hal ini menyebabkan walaupun sekelompok orang berada pada lingkungan yang sama, tidak semuanya terpapar penyakit dan jika pun terpapar, tingkat keparahannya dari masing-masing individu bisa bervariasi.

Penanganan infeksi dilakukan dengan menggunakan vaksin sebagai bagian dari pencegahan spesifik serta antibiotik sebagai bagian dari pengobatan. Namun, kurang bijaknya penggunaan antibiotik oleh masyarakat maupun tenaga kesehatan, selain juga merupakan kemampuan alami dari mikroorganisme untuk mempertahankan diri dan populasinya melalui mutasi genetik.

Mutasi sendiri bisa dikatakan sesuatu yang tidak terhindarkan sehingga yang dilakukan dengan memengaruhi "sifat sosial" dari mikroorganisme.

Untuk mengatasi infeksi ini dapat dilakukan dengan modulasi interaksi sosial mikroorganisme. Oleh karena itu, biofilm menjadi salah satu produk sosial mikroorganisme. Biofilm terbentuk oleh komunitas mikroorganisme yang menempel pada suatu permukaan dalam lingkungan berair.

Penelitian yang dilakukan Dosen Farmasi UGM, Prof. Dr. Triana Hertiani, M.Si., Apt., menemukan bahwa kekayaan alam pada sumber daya laut kita dapat menjadi sumber dalam pengambilan senyawa antibiofilm. Namun begitu, kendala dalam memperoleh bahan baku dalam jumlah besar karena belum banyak kekayaan laut untuk sumber bahan baku obat.

Menurutnya, penelitian yang dia lakukan pada spons Angelas nakamurai di perairan Bali menunjukkan adanya berbagai senyawa yang berkhasiat sebagai antibakteri, antibiofilm, antifouling sekaligus sitotoksis.

"Seperti kita ketahui spons tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya dari keberadaan mikroorganisme di sekitarnya. Namun, hal yang dapat dilakukannya dengan melakukan mekanisme kontrol sebagai keharusan untuk kelangsungan hidup," kata

Selain pengembangan senyawa obat dari laut, Triana Hertiani juga mengembangkan antibiofilm dari seleksi tanaman obat. Menurutnya, tanaman asli Indonesia lainnya yang potensial dikembangkan sebagai antibiofilm adalah kulit batang mayosi. Selain itu, minyak atsiri juga terbukti efektif sebagai antibiofilm.

Sebab, menurutnya dari sifat fisisnya, kata Triana, minyak atsiri merupakan metabolit tanaman yang bersifat nonpolar dan mudah menguap. Minyak atsiri sendiri dapat diperoleh dari berbagai bagian tumbuhan misalnya dari kulit kayu seperti kayu manis dan mayosi. "Adapun dari bunga seperti mawar, melati, kenanga dan kuncup bunga cengkeh serta dari daun seperti kayu putih," katanya.

Dia menjelaskan di habitatnya minyak atsiri dapat dihasilkan oleh tumbuhan secara terus menerus ataupun sebagai respons terhadap fitopatogen. Saat ini beberapa senyawa kimia tumbuhan yang potensial sebagai antibiofilm tersebut telah dimanfaatkan pada berbagai produk kesehatan oral.

Menurutnya, penelitian senyawa antiinfeksi ini dapat memodulasi interaksi mikroorganisme dalam bentuk biofilm perlu dilakukan pengujian pada kultur polimikroba. Namun begitu, intervensi pada komunitas sosial mikroorganisme menggunakan bahan dari alam yang secara alami diharapkan dapat menjadi salah satu strategi jitu dalam pengentasan masalah infeksi di masa sekarang dan yang akan datang. Redaksi JamuDigital.Com

Referensi:

  • https://ugm.ac.id/id/berita/20739-peneliti-ugm-kembangkan-spons-dan-minyak-atsiri-sebagai-antiinfeksi


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU, NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2023. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: