Produk Lokal Farmasi Prioritas Masuk e-Katalog. Potensi Herbal untuk Kemandirian Obat
Tanggal Posting : Kamis, 3 Juni 2021 | 06:54
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 122 Kali
Produk Lokal Farmasi Prioritas Masuk e-Katalog. Potensi Herbal untuk Kemandirian Obat
Menteri Kesehatan RI., Budi Gunadi Sadikin saat melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan, 23-27 Mei 2021.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan prioritas program Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan. Produk lokal farmasi dan alkes akan diprioritaskan masuk pengadaan pemerintah/e-Katalog.

Produk dengan TKDN akan diprioritaskan masuk e-Katalog TKDN. Industri Bahan Baku Obat akan didukung penuh oleh Pemerintah.

Kementerian Kesehatan mendorong kerja sama uji klinis bersama dan alih teknologi untuk produksi dalam negeri. Pemerintah memberikan insentif bagi industri berbasis riset. Pemerintah mengundang investor untuk berinvestasi di zona ekonomi di Batang dan Bali.

Menteri Kesehatan RI., Budi Gunadi Sadikin menyampaikan kebijakan Pemerintah tersebut diatas untuk menarik investor dari berbagai negara. Menteri Kesehatan telah melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan bersama Menteri Koordinator Bidang Investasi dan Maritim (Menko Marves) pada tanggal 23-27 Mei 2021.

Demikian berita yang disiarkan Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI., pada Rabu, 2 Juni 2021.

Kunjungan kerja dilakukan dalam rangka meningkatkan hubungan kerja sama Indonesia dan Korea Selatan di Bidang Investasi dan kerjasama bidang Kesehatan. 

Secara khusus kunjungan kerja difokuskan untuk mengundang lebih banyak investasi Korea Selatan di Bidang Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. 

Agenda utama Menko Marves dan Menteri Kesehatan adalah bertemu dengan jajaran Pemerintah Korea Selatan antara lain Menteri Lingkungan Hidup, Menteri KKP, Wakil Menteri Kesehatan Korea sekaligus sektor swasta/industri.

Dalam setiap kesempatan, Menteri Kesehatan menyampaikan tentang instruksi Presiden untuk melakukan vaksinasi untuk menanggulangi pandemi, serta melakukan reformasi sistem kesehatan.

Reformasi Kesehatan akan dilakukan di beberapa bidang antara lain Penguatan Pelayanan Kesehatan Primer, Peningkatan Akses Layanan Rujukan, Pembiayaan Kesehatan, Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan, SDM Kesehatan dan Digitalisasi Kesehatan, ucap Menkes. 

Kunjungan Kerja Menteri Kesehatan ke Korea Selatan untuk megundang Investasi Industri Bahan Baku Obat, Vaksin, Bioteknologi, Digital Health dan Industri Rumah Sakit.

Saat ini, beberapa investasi Korea Selatan di sektor kesehatan di Indonesia antara lain  Pabrik Bahan Baku Obat di Cikarang, kerja sama PT Kimia Farma dengan Sungwun Pharmacopia.

Pabrik Daewong Infion di Surabaya, kerja sama PT Infion dan Daewoong Co. dan Kerja sama pengembangan vaksin covid-19 antara PT Kalbe Farma dan Genexine. Rencana kerja sama PT Bio Farma dengan SK Plasma untuk pembangunan pabrik fraksionasi plasma darah.

Selama kunjungan kerja, lebih dari 5 industri Bioteknologi Korea melakukan pertemuan dengan Menteri Kesehatan, masing-masing menunjukkan kemampuan dan kapasitas produksinya, serta menyatakan kesiapannya berinvestasi di Indonesia.

Perusahan Korea lainnya yang juga potensial telah dijajaki oleh Menkes antara lain SD Biosensor Korea yang juga telah membangun Pabrik Test Kit Antigen di Purwakarta, Sugentech Artificial Inteligence and Big Data Analysis Co, Cha Hospital, Cellid produsen vaksin, Celltrion Biotech Co.

Dalam kesimpulannya, Menkes melihat ekosistem yang dibangun Pemerintah Korea dalam mengembangkan industri farmasinya patut dicontoh.

Korea mendukung penuh pengembangan bioteknologi yang dimulai sejak tahun 2000. Pemerintah Korea memberikan insentif bagi Industri yang mampu melakukan riset pengembangan produk.

Di akhir kunjungan, Pemerintah Korea menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Indonesia atas kerja sama yang telah terjalin baik selama ini dan berkomitmen untuk mendukung potensi kerja sama lainnya dimasa yang akan datang baik yang dilakukan antara Pemerintah atau kegiatan/aktifitas bisnis yang dilakukan oleh para pelaku usaha dari kedua negara.

Media Jamu, Nomor Satu

Presiden Jokowi Dukung Obat Herbal Indonesia

Presiden Jokowi

Mengingat bahan baku obat kimia masih 90% impor, maka peluang obat herbal yang 100% bahan baku dari biodibersitas Indonesia, dapat menjadi solusi kemandirian obat nasional.

Presiden RI., Joko Widodo juga prihatan atas tingginya impor bahan baku obat di Indonesia. Oleh karena itu, Presiden berpandangan, kemandirian dalam industri obat-obatan dan alat kesehatan harus menjadi prioritas bersama dan dilakukan dengan cara-cara yang luar biasa di tengah pandemi COVID-19 yang saat ini terjadi. Pandemi, dengan segala dampak yang ditimbulkannya, memberi banyak pelajaran kepada kita.

Pandemi telah membangkitkan rasa krisis dalam dunia farmasi untuk memacu kegiatan riset, mengembangkan inovasi-inovasi, merevitalisasi industri bahan baku obat di dalam negeri, hingga memperkuat struktur manufaktur industri farmasi nasional.

"Kekayaan keragaman hayati Indonesia harus dijadikan modal dasar dalam kebangkitan industri obat dalam negeri. Keragaman hayati harus dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan masyarakat di bidang kesehatan. Obat fitofarmaka juga perlu difasilitasi untuk melewati uji klinis dan standarisasi sehingga menjadi pilihan pengobatan promotif dan preventif," tegas Presiden RI, Joko Widodo pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia, Kamis, 5 November 2020.

Produk obat herbal yang sudah melalui pembuktian ilmiah dengan bahan baku 100 persen dari Indonesia, perlu segera masuk JKN untuk mendukung kemandirian bangsa. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: