Perbedaan Kunyit Hitam, Jahe Hitam dan Temu Hitam
Tanggal Posting : Kamis, 13 Mei 2021 | 05:44
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 1465 Kali
Perbedaan Kunyit Hitam, Jahe Hitam dan Temu Hitam
Berikut ini adalah perbedaan kunyit hitam, jahe hitam dan temu hitam

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Rimpang sebagai obat tradisional memang sangat menarik untuk diperbincangkan. Rimpang menjadi salah satu potensi alam Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan.

Bukan hanya karena keanekaragaman jenis nya namun juga khasiat yang didapatkan sangatlah menjanjikan. Masyarakat dengan mudah dapat membelinya bahkan dari toko online. Dengan latar belakang sangat banyaknya jenis dari rimpang yang ada, kadang masyarakat dibuat bingung oleh istilah yang beredar di lapangan, ditambah informasi yang keliru dari toko online.

Dengan mudah seseorang akan menemukan ketiganya ketika melakukan pencarian (fitur search) di toko online tersebut. Tapi apakah yang dijual di toko online tersebut menunjukkan identitas yang sebenarnya? masyarakat perlu jeli akan hal ini karena nyatanya ketiganya adalah spesies yang berbeda.

Untuk lebih mengenal ketiganya, kita akan ulas lebih dalam mengenai ciri, kandungan dan khasiat ketiganya. Di akhir akan dibahas pula mengenai kekeliruan yang sering terjadi di toko online serta harga jual dari masing-masing bahan. Demikian artikel yang ditulis oleh Ririn Suharsanti yang dimuat di website Fakultas Farmasi UGM. Berikut ini, artikel lengapnya:

Kunyit Hitam (Black Turmeric)

Black turmeric atau yang diartikan sebagai kunyit hitam memiliki nama spesies Curcuma caesia. Tanaman kunyit hitam ini biasanya dapat ditemukan pada daerah tepi hutan, hutan, pekarangan rumah, dan tempat lainnya. Menurut sejarah asal usul tanaman kunyit hitam ini berasal dari Asia Tenggara.

Persebaran tanaman kunyit hitam ini dari daerah Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Ciri fisik tanaman kunyit hitam ini memiliki bunga yang berwarna merah kekuningan. Batang daun kunyit hitam asli berwarna merah, rimpang daging kunyit hitam asli berwarna hitam kebiruan (bluish-black rhizomes).

Bagian yang digunakan adalah rimpang dan tumbuhan memiliki nama lokal black turmeric yang berarti kunyit hitam. Secara tradisional digunakan untuk perawatan untuk tumor / kanker dan penggunaan untuk semua penyakit di etnik Kolesusu (Sulawesi Tenggara) dan etnis Duri (Selatan Sulawesi).

Komponen utama minyak atsiri rimpang kunyit hitam yang berasal dari India Utara menurut Kumar adalah cycloisolongifolene, 8,9-dehydro-9-formyl (11.67%), camphor (6.05%), eucalyptol (5.96), b-germacrene(5.23%), 2, 4, 6-cycloheptatrien-1-one, 2-hydroxy-5-(3-methyl-2-butenyl)-4-(1-methylethenyl) (5.18%) dan isoborneol (5.05%).

Data yang berbeda juga diungkap bahwa kandungan minyak atsiri rimpang kunyit hitam yang berasal dari India Selatan adalah tropolone (15.86 %) sebagai komponen utama/ major, ledol (3.27 %), β-elemenone (3.03 %) and α-bulnesene (3.02 %), spathulenol (2.42 %) sebagai komponen minor and borneol (0.85 %), α-terpineol (0.77 %), eucalyptol (0.62 %), caryophyllene (0.45 %) sebagai komponen lain.

Dari hasil penelitian lain dapat diuangkap bahwa komponen seskuiterpen (62.8 %) lebih besar bila dibandingkan dengan komponen monoterpen (1.4 %) [2]. Penelitian tentang kunyit hitam lain yang telah dilakukan antara lain analgesik dan antiinflamasi, antifungi, antioksidan dan antimutagenik, Anxiolytic, Locomotor Depressant, Anti-convulsant and Muscle Relaxant, dan antiulcer. Serbuk kunyit hitam berpengaruh pada kadar glukosa darah.

Jahe Hitam/Kencur Hitam/Black Ginger
Black ginger atau yang biasa diartikan dengan jahe hitam memiliki nama spesies Kaempferia parviflora, sehingga ada juga yang menyebutnya kencur hitam. Tanaman obat yang termasuk ke dalam famili Zingiberaceae dan awalnya berasal dari Thailand, namun mulai banyak ditanam di Indonesia.

Secara tradisional digunakan sebagai obat untuk berbagai macam penyakit penyakit, termasuk radang, bisul, asam urat, gangguan kolik, abses, alergi, dan osteoarthritis. Beberapa penelitian mengungkap aktivitasnya sebagai antikanker, relaksasi vascular, kardioprotektif, peningkatan seksual, neuroprotektif, antialergi, antiinflamasi, antiosteoartritis, antimikroorganisme, dan aktivitas permeabel transdermal.

Kaempferia parviflora memiliki setidaknya sepuluh turunan methoxyflavone antara lain (1) 5,7,3,4-tetramethoxyflavone, (2) 3,5,7,3,4-pentamethoxyflavone, (3) 5,7 dimethoxyflave, (4) 5,7,4-trimethoxyflavone,(5)3,5,7-trimethoxyflavone,(6)3,5,7,4-tetramethoxyflavoe,(7)5-hydroxy-3,7,34-tetramethoxyflavone,(8)5-hydroxy-7-methoxyflavone,(9)5-hydroxy-3,7-dimethoxyflavone, dan (10) 5-hydroxy-3,7,4-trimethoxyflavone.

Temu Ireng/Temu Hitam
Temu ireng dalam bahasa daerah dikenal dengan beberapa nama, antara lain: temu hitam (Minang), koneng hideung (Sunda), temu ireng (Jawa), temu ereng (Madura), dan temu irang (Sumatra). Tanaman ini berasal dari Burma, kemudian menyebar ke daerah-daerah tropis lainnya, terutama di wilayah Indo Malaya, termasuk Indonesia.

Ciri fisik daun temu ireng tidak berbulu dan ibu tulang daun atau kedua sisinya berwarna cokelat merah sampai ungu. Bunga berwarna ungu, sedangkan tangkai bunga berwarna hijau. Rimpang temu ireng jika diiris akan tampak seperti cincin berwarna biru atau kelabu.

Rimpang mengandung monoterpene hydrocarbons (32.2%), oxygenated monoterpenes (6.8%), sesquiterpene hydrocarbons (20.4%), oxygenated sesquiterpenes (33.1%), dan non terpenes (2.1%). Komponen utama minyak atsiri adalah β-pinene (21.9%), neocurdione (16.1%) dan curcumol (15.2%).

Komponen lainnya adalah β-elemene (6.6%), myrtenyl acetate (6.1%), β-caryophyllene (4.9%), α-pinene (3.4%) and α-selinene (3.3%). Penelitian lain menyebutkan dua puluh enam senyawa diidentifikasi dan ditunjukkan sebagai % total komponen volatil termasuk monoterpen (21,47%) dan seskuiterpen (73,88%). Monoterpen utama adalah β-pinene dan 1,8-cineol.

Secara tradisional temu ireng digunakan sebagai obat cacing gelang/kremi, kudis, koreng, badan terlalu gemuk, kurang segar sehabis nifas/haid, dan encok. Isolat temu ireng yang cukup berpotensi pada berbagai aktivitas adalah germacrone sebagai antioksidan, antiandrogenik, hair growth promote, antinociceptiv, dan antikanker.

Jangan keliru, baca dengan teliti ketika membeli bahan di toko online
Kini, masyarakat dengan mudah mendapatkan ketiganya di toko online namun perlu kehati-hatian konsumen (masyarakat) itu sendiri agar tidak salah membeli yang benar- benar diinginkan. Dari gambar 4, dapat terlihat bahwa istilah yang digunakan antar ketiga bahan tersebut masih digunakan bersama walaupun masih ada beberapa penjual yang benar menuliskan nama bahan yang mereka jual.

Nyatanya, Kunyit hitam sering diartikan sebagai Kaempferia parviflora, dan yang nyata-nyata temu ireng/ temu hitam juga dianggap sebagai kunyit hitam. Harga termahal dari ketiganya adalah Kaempferia parviflora yang bisa mencapai Rp. 260.000/ 100 gram dan Rp.500.000/ 1 ons bahan sedangkan harga termurah ada di temu ireng yang hanya berkisar Rp. 12.000/ 1 kg bahan.

Istilah kunyit hitam telah membuat penjual temu ireng/ temu hitam yang menggunakan nama kunyit hitam sebagai kesamaan/ sinonim temu hitam untuk menarik konsumen dengan harga yang lebih murah. Membudidayakan Kaempferia parviflora cukup menjadi peluang bisnis yang menarik karena harga jualnya sangatlah tinggi.

Antara ketiganya, yang memiliki ciri yang mirip adalah Curcuma caesia dan Curcuma aeruginosa, bahkan terdapat penelitian yang mengulas perbedaan antara keduanya dan membandingkan aktivitas antibakterinya.

Kesimpulan

Rimpang yang merupakan potensi alam Indonesia dan bisa dimanfaatkan untuk penemuan senyawa aktif yg berpotensi untuk pengobatan sangatlah banyak jenisnya. Masyarakat harus jeli dalam memilih bahan yang akan digunakan untuk pengobatan.

Kaempferia parviflora/ black ginger/ jahe hitam dapat dipilih untuk obat kuat, Curcuma caesia/ black turmeric/ kunyit hitam sebagai obat kanker dan Curcuma aeruginosa/ temu ireng/ temu hitam sebagai obat cacing. Ketiga khasiat tersebut telah terbukti secara empiris dan terdapat pada hasil penelitian secara ilmiah. Keliru dalam memilih bahan akan berdampak pada khasiat yang mungkin tidak akan tercapai.

(Sumber: https://kanalpengetahuan.farmasi.ugm.ac.id/2021/02/26/sering-keliru-kunyit-hitam-jahe-hitam-dan-temu-hitam-ternyata-ketiganya-berbeda-ciri-kandungan-khasiat-dan-harga/). Redaksi JamuDigital.Com

Daftar Pustaka

  1. A. Kumar, Navneet, And S. S. Gautam, “Volatile Constituents Of Curcuma Caesia Roxb. Rhizome From North India,” Natl. Acad. Sci. Lett., Pp. 1–4, Feb. 2020.
  2. K. S. Mukunthan, N. V. Anil Kumar, S. Balaji, And N. P. Trupti, “Analysis Of Essential Oil Constituents In Rhizome Of Curcuma Caesia Roxb. From South India,” J. Essent. Oil-Bearing Plants, Vol. 17, No. 4, Pp. 647–651, Jul. 2014.
  3. S. Bhosale Sawant, G. Bihani, S. Mohod, And S. Bodhankar, “Evaluation Of Analgesic And Anti-Inflammatory Activity Of Methanolic Extract Of Curcuma Caesia Roxb. Rhizomes In Laboratory Animals.”
  4. A. Banerjee And S. S. Nigam, “Antifungal Activity Of The Essential Oil Of Curcuma Caesia Roxb.,” Indian J. Med. Res., Vol. 64, No. 9, Pp. 1318–1321, 1976.
  5. H. P. Devi, P. B. Mazumder, And L. P. Devi, “Antioxidant And Antimutagenic Activity Of Curcuma Caesia Roxb. Rhizome Extracts,” Toxicol. Reports, Vol. 2, Pp. 423–428, Jan. 2015.
  6. D. K. Arulmozhi, N. Sridhar, A. Veeranjaneyulu, And S. K. Arora, “Preliminary Mechanistic Studies On The Smooth Muscle Relaxant Effect Of Hydroalcoholic Extract Of Curcuma Caesia,” J. Herb. Pharmacother., Vol. 6, No. 3–4, Pp. 117–124, 2006.
  7. P. K. Bordoloi, D. Phukan, And S. Singh, “Study Of The Anti-Ulcerogenic Activity Of The Ethanolic Extracts Of Rhizome Of Curcuma Caesia (Eecc) Against Gastic Ulcers In Experimental Animals.” 2012.
  8. I. Nuraini, “Pengaruh Bubuk Kunyit Hitam (Curcuma Caesia) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Mencit (Mus Musculus L.) Swiss Webster Jantan Yang Mengalami Hiperglikemia,” Aug. 2014.
  9. “Black Turmeric Curcuma Caesia Kali Haldi Precious Mother | Etsy.” [Online]. Available: Https://Www.Etsy.Com/Hk-En/Listing/656784712/Black-Turmeric-Curcuma-Caesia-Kali-Haldi. [Accessed: 19-Dec-2020].
  10. S. Saokaew Et Al., “Clinical Effects Of Krachaidum (Kaempferia Parviflora): A Systematic Review,” J. Evidence-Based Complement. Altern. Med., Vol. 22, No. 3, Pp. 413–428, Jul. 2017.
  11. D. Chen, H. Li, W. Li, S. Feng, And D. Deng, “Kaempferia Parviflora And Its Methoxyflavones: Chemistry And Biological Activities,” Evidence-Based Complement. Altern. Med., Vol. 2018, 2018.
  12. S. Ono Et Al., “5-Hydroxy-7-Methoxyflavone Derivatives From Kaempferia Parviflora Induce Skeletal Muscle Hypertrophy,” Food Sci. Nutr., Vol. 7, No. 1, Pp. 312–321, Jan. 2019.
  13. “The Life Extension Blog: Health Benefits Of Black Ginger And The Ed – Cvd Connection.” [Online]. Available: Https://Blog.Lifeextension.Com/2018/06/Health-Benefits-Black-Ginger-And-Ed-Cvd.Html. [Accessed: 19-Dec-2020].
  14. I. A. O. Pham, T. O, Nguyen, T. T, Do T. X, Le T. H, Opeyemi N. A, “The Rhizome Essential Oil Of Curcuma Aeruginosa Roxb. (Zingiberaceae) From Vietnam,” Trends Phytochem., Vol. 2, No. 3, Pp. 179–184, 2018.
  15. J. Srivilai Et Al., “Curcuma Aeruginosa Roxb. Essential Oil Slows Hair-Growth And Lightens Skin In Axillae; A Randomised, Double Blinded Trial,” Phytomedicine, Vol. 25, Pp. 29–38, Feb. 2017.
  16. Mardisiswojo And Sudarman, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang / Sudarman Mardisiswojo, Harsono Radjakmangunsudarso, No. 0. Jakarta: Balai Pustaka, 1985.
  17. N. O., T. W. 1, D. U. C. R. P. Sugita1 *, “Chemical Constituent And Antioxidant Activity Of Methanol Extract From Indonesian Curcuma Aeruginosa Roxb. Rhizome,” J. Pharm. Res. , Vol. 10, No. 1, Pp. 293–297, Feb. 2018.
  18. N. Suphrom, G. Pumthong, N. Khorana, N. Waranuch, N. Limpeanchob, And K. Ingkaninan, “Anti-Androgenic Effect Of Sesquiterpenes Isolated From The Rhizomes Of Curcuma Aeruginosa Roxb.,” Fitoterapia, Vol. 83, No. 5, Pp. 864–871, Jul. 2012.
  19. J. Srivilai, N. Waranuch, A. Tangsumranjit, N. Khorana, And K. Ingkaninan, “Germacrone And Sesquiterpene-Enriched Extracts From Curcuma Aeruginosa Roxb. Increase Skin Penetration Of Minoxidil, A Hair Growth Promoter,” Drug Deliv. Transl. Res., Vol. 8, No. 1, Pp. 140–149, Feb. 2018.
  20. C. F. Hossain Et Al., “Antinociceptive Principle From Curcuma Aeruginosa,” Bmc Complement. Altern. Med., Vol. 15, No. 1, Pp. 1–7, Jun. 2015.
  21. S. Atun, R. Arianingrum, N. Aznam, And S. N. A. Malek, “Isolation Of Sesquiterpenes Lactone From Curcuma Aeruginosa Rhizome And The Cytotoxic Activity Against Human Cancer Cell Lines,” Undefined, 2016.
  22. S. Jose And T. D. Thomas, “Comparative Phytochemical And Anti‑Bacterial Studies Of Two Indigenous Medicinal Plants Curcuma Caesia Roxb. And Curcuma Aeruginosa Roxb,” Int. J. Green Pharm., Vol. 8, No. 1, 2014.

 


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: