PDHMI: OMAI dan Integrasi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tanggal Posting : Rabu, 26 Februari 2020 | 01:29
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 648 Kali
PDHMI: OMAI dan Integrasi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Booth PDHMI pada ajang Bursa Hilirisasi Inovasi Herbal Indonesia 2020 yang diselenggarakan Badan POM di Jakarta.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Penegasan Menteri Kesehatan RI, Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad (K) RI., agar Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) dipercepat produksinya untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat, dinilai sebagai terobosan yang tepat oleh Ketua Umum PDHMI (Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia), dr. Hardhi Pranata, Sp.S, MARS.

Dalam wawancara khusus dengan Redaksi JamuDigital.Com di Kliniknya yang berada di Kawasan Jalan Protokol Kota Depok, Jawa Barat, pada Selasa malam, 25 Februari 2020, dr. Hardhi Pranata dengan tegas menjelaskan bahwa  terobosan lainnya yang disampaikan Menkes, agar Puskesmas kembali ke fitrahnya yaitu fokus pada aspek promotif dan preventif, juga sebagai terobosan yang tepat.

"Saya mendukung langkah ini. Dengan cara ini, persoalan BPJS dapat teratasi," ungkap dr. Hardhi Pranata- yang selama 10 tahun dipercaya sebagai Dokter Pribadi/Angota Tim Dokter Kepresidenan RI. di era Presiden RI., Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014).

Dr. Hardhi Pranata yang pernah mendapat penghargaan dari Pemerintah, yaitu:  Lencana "Satya Wira Karya" tahun 2009, dan "Bintang Jasa Utama" tahun 2014 -menambahkan bahwa OMAI sebagai obat herbal yang sudah teruji pra klinis dan atau sudah teruji klinis sudah seharusnya ditata secara terintegrasi di pelayanan-pelayanan di jaringan rumah sakit- rumah sakit. "Saya pribadi sudah menggunakan produk OMAI, dan saya resepkan kepada pasien saya," ujarnya di sela-sela praktek di Klinik Saraf- miliknya yang terkenal di Kota Depok.

Berita Terkait: Kurangi Ketergantungan Impor Obat, Menkes Dukung Produksi OMAI

Berita Terkait: Merunut Kiprah Dokter Herbal Medik Indonesia

Berita Terkait:  Peluang Obat Modern Asli Indonesia Mengglobal

dr.Hardhy

Keterangan Foto: dr. Hardhi Pranata bersama lima Presiden Republik Indonesia: Soeharto, BJ. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono.

Dokter Spesialis Saraf ’Cinta’ Obat Herbal

Kendati dr.Hardhi Pranata adalah Dokter Spesialis Saraf, tetapi kecintaannya kepada herbal Indonesia diwujudkan dengan memberikan resep obat herbal kepada pasiennya. Perkenalannya dengan obat tradisional Jamu, karena neneknya mengajarkan kearifan perawatan kesehatan dikeluarganya dengan memakai Jamu seperti: Brotowali, Temuireng, Temulawak, Jahe dan Kunyit.

Terkait kebiasaan masyarakat Indonesia yang banyak mengkonsumsi rempat-rempah, dan tanaman yang berkhasiat obat yang digunakan sebagai bumbu dapur untuk mengolah makanan sehari-hari, dinilai dr. Hardhi Pranata berperan untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Belum lagi, budaya minum Jamu yang sudah diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia, membuat masyarakat Indonesia memiliki imunitas yang baik, sehingga dapat memproteksi tubuh dari bakteri, kuman, dan parasit.

Imunitas alami, lanjut dr. Hardhi Pranata, juga dapat menjadi faktor mengapa masyarakat Indonesia cukup kuat memproteksi diri dari ancaman bakteri, kuman dan juga virus. Mungkin saja hal ini, yang menjadikan masyarakat Indonesia- hingga kini tidak terjangkit virus Corona.

Membiasakan pola hidup sehat dan mengkonsumsi herbal- sebagai mana nenek moyang mewariskan local wisdom di bidang kesehatan, dapat terus dijadikan pola hidup sehat bagi kalangan milenial.

Berdasarkan data hasil riset kesehatan dasar 2010, hampir setengah (49,53%) penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas, mengonsumsi jamu. Sekitar lima persen (4,36%) mengkonsumsi jamu setiap hari, sedangkan sisanya (45,17%) mengkonsumsi jamu sesekali. Proporsi jenis jamu yang banyak dipilih untuk dikonsumsi adalah jamu cair (55,16%); bubuk (43,99%); dan jamu seduh (20,43%). Sedangkan proporsi terkecil adalah jamu yang dikemas secara modern dalam bentuk kapsul/pil/tablet (11,58%).

Sedangkan pada tahun 2018, Proporsi Pemanfaatan Taman Obat Keluarga (Toga) Pada Penduduk Semua Umur Berdasarkan Provinsi, sebesar 24,6%. Proporsi jenis upaya kesehatan tradisional yang dimanfaatkan: Ramuan Jadi 48%, Ramuan Buatan Sendiri 31,8%. Riskesdas 2013: 30,4% rumah tangga memanfaatkan Yankestrad. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: