Optimasi Pohon Keilmuan Kestraindo, Menuju Pelayanan Prima
Tanggal Posting : Minggu, 30 Mei 2021 | 07:38
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 937 Kali
Optimasi Pohon Keilmuan Kestraindo, Menuju Pelayanan Prima
Konsep Pohon Keilmuan Kesehatan Tradisional Indonesia memuat metodologi dan penjelasan ilmiah terhadap konsep, budaya dan filosofi dasar pengetahuan kesehatan tradisional Indonesia.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Optimalisasi Pohon Keilmuan Kestraindo diyakini dapat mendorong Pelayanan Kesehatan Tradisional Indonesia (Kestraindo) yang Prima, sehingga dapat menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat.

Hal ini mengemuka pada saat webinar Memperingati Hari Jamu Indonesia 2021, yang diadakan oleh KOMNAS SAINTIFIKASI JAMU, DITYANKESTRAD, B2P2TOOT, PPKESTRAKI dan ICFAM dengan tema "Menuju Pelayanan Kesehatan Tradisional Indonesia yang Prima" pada Sabtu, 29 Mei 2021.

Menampilkan pembicara: dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes., Direktur Yankestrad: Kebijakan Direktorat Yankestrad tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional, Dr. Drs. Budiman Gunawan, Apt., M.A.R.S., Ketua Komnas Saintifikasi Jamu: Posisi Komisi Saintifikasi Jamu dalam upaya mendukung Kesehatan Tradisional, Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, S.H., M.Si., Sp.F(K): Mediko-etikolegal Pelayanan Kesehatan Tradisional, Dr. dr. Amarullah H. Siregar, DiHom, M.Sc., M.A., Ph.D.: Pohon Keilmuan Kesehatan Tradisional Indonesia, Drs. Ondri Dwi Sampurno, MS., Apt.: Pengembangan Jamu untuk Penanganan COVID.

Berikut ini pointer dari webinar tersebut, yang diperoleh Redaksi JamuDigital.Com dari Koordinator webinar: dra. Lucie Widowati, M.Si, Apt, Wakil Ketua Komnas Saintifikasi Jamu, mantan Kepala B2P2TOOT, Kemkes RI:

Pelayanan Kesehatan Tradisional merupakan bagian dari pelayanan kesehatan di Indonesia yang sudah ditetapkan dalam SKN.  Hal ini sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh WHO, yang menetapkan 4 pilar dalam pelayanan kesehatan tradisional yaitu adanya produk, praktisi, pendidikan dan keilmuan yang mendukung.

Peraturan Pemerintah No. 103 tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional membagi pelayanan kesehatan tradisional menjadi 3, yaitu pelayanan empiris, pelayanan komplementer dan pelayanan integrasi dengan modalitas keterampilan dan ramuan.

Dalam hal keilmuan yang digunakan, telah disusun Pohon Keilmuan Kesehatan Tradisional Indonesia oleh Komnas Saintifikasi Jamu. Pohon keilmuan ini akan menjadi dasar baik dalam  menyusun kurikulum  pendidikan profesi dan vokasi tenaga kesehatan tradisional Indonesia sebagai praktisi, kerangka metodologi penelitian maupun aplikasi praktis dalam pelayanan Kesehatan Tradisional Indonesia.

Bagaimana data Pelayanan kesehatan tradisional di Indonesia? Badan Litbangkes dalam Riset Kesehatan Dasar 2018, memperoleh data bahwa sebanyak 34,4 % masyarakat memilih pelayanan kesehatan tradisional.

Sebanyak 98 % memilih kunjungan ke  penyehat tradisional (Hattra), dan masih sedikit (2,2%) yang memilih kunjungan ke tenaga kesehatan.  Tentunya situasi ini merupakan gambaran budaya masyarakat yang masih percaya pada kesehatan tradisional turun menurun.  

Sementara dalam PP No. 103 tahun 2014, diharapkan pelayanan kesehatan tradisional secara bertahap akan ditingkatkan dari penyehat tradisonal menjadi tenaga tenaga kesehatan tradisional (nakestrad) yang berpendidikan dan memiliki kompetensi, seperti yang diterapkan pada pelayanan kesehatan tradisional komplementer.

Pelayanan kesehatan tradisional komplementer merupakan penerapan pelayanan kesehatan tradisional yang memanfaatkan ilmu biomedis dan biokultural dalam penjelasannya, serta manfaat dan keamannya terbukti secara ilmiah.

Saat ini di Indonesia terdapat 17 organisasi profesi yang membawahi praktisi pelayanan kesehatan tradisional. Tenaga kesehatan pelayanan kesehatan tradisional sebagai praktisi empiris, komplementer dan integrasi, saat ini berada dalam wadah organisasi profesi dengan nama Perkumpulan Profesi Tenaga Kesehatan Tradisional Komplementer Indonesia (PPKESTRAKI).

Patut kita syukuri bahwa tenaga kesehatan tradisional (Nakestrad) sudah masuk sebagai tenaga kesehatan dalam Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI), dan diatur dalam  UU No. 36 tahun No. 2014 tentang Tenaga Kesehatan.   

dr.Wiendra Kemkes

Konsep Pohon Keilmuan

Konsep Pohon Keilmuan Kesehatan Tradisional Indonesia memuat metodologi dan penjelasan ilmiah terhadap konsep, budaya dan filosofi dasar pengetahuan kesehatan tradisional Indonesia  yang mengusung paradigma sehat dan melihat manusia sebagai unsur Bio-Psiko-Spirituo-Sosio-Kultural (BPSSK). Hal ini  sebagai upaya komunikasi dengan praktisi kesehatan lainnya agar diperoleh pemahaman yang utuh, bersinergi dan terintegrasi dalam penyelenggaraan SKN.

Pohon keilmuan Kesehatan Tradisional  akhirnya  akan bisa menyatu dengan konvensional (untuk pelayanan di fasyankes integrasi) walaupun konvensional masih mendapat tempat lebih tinggi. Agar dapat diterima oleh pihak konvensional, tentunya penjelasan ilmiah tentang mekanisme kerja tanaman obat/produk herbal  menjadi penting.

Melalui penjelasan biomedis dan biofisik,  Indonesian Community of Functional and Advancement of Medicine (ICFAM) merupakan wadah bagi dokter untuk mendapatkan pendalaman ilmu kedokteran fungsional. Pendalaman kedokteran fungsional khususnya diberikan untuk dokter umum di Indonesia, guna meningkatkan kompetensi medis dokter umum secara berkala dan berkesinambungan dalam hal kedokteran fungsional.

Konsep Pohon Keilmuan Kesehatan Tradisional Indonesia dibangun sejak tahun 2011 oleh Komisi Nasional Saintifikasi Jamu (Komnas Saintifikasi Jamu). Meskipun telah berkali kali direvisi, namun implementasinya hingga saat ini belum sepenuhnya dapat dilaksanakan.

Sosialisasi secara luas diperlukan, agar tenaga kesehatan baik tenaga kesehatan tradisional dan tenaga kesehatan konvensional dapat memanfaatkan ilmu ini untuk menyongsong pelayanan kesehatan tradisional yang prima.

Disamping itu berdasarkan acuan yang dianut dalam pengembangan Pohon Keilmuan Kesehatan Tradisional sebelumnya yang masih banyak mengadopsi pengobatan China , tentunya perlu masukkan bagi penyempurnaan Pohon Keilmuan Kesehatan Tradisional yang mewakili Indonesia seutuhnya.

Tugas Komnas SJ

Komnas Jamu

Komnas Saintifikasi Jamu (SJ) mempunyai banyak tugas lain yang diamanatkan  diantaranya mengawal hilirisasi 12 formula ramuan saintifik untuk skala produksi, memanfaatkan regulasi dari pemangku kebijakan tentang pemanfaatan jamu, pengembangan bahan baku hingga dapat terselenggaranya obat tradisional masuk dalam fasilitas pelayanan kesehatan.

Dalam situasi pandemik saat ini, permintaan masyarakat dan pelayanan kesehatan untuk pemanfaatan Jamu  guna penangangan COVID-19 meningkat yaitu sebagai pendukung untuk memelihara kesehatan, meningkatkan daya tahan tubuh ataupun meredakan gejala seperti batuk. Pemenuhan jamu ini dapat berupa racikan sendiri berdasarkan ramuan empiris dan produk obat tradisional yang telah memiliki nomor izin edar (NIE) BPOM (Jamu, OHT, Fitofarmaka).

Mengingat COVID-19 merupakan penyakit baru dan mekanisme kerja jamu untuk COVID-19 belum diketahui, maka diperlukan pengembangan Jamu dengan memperkuat bukti ilmiah. Pengembangan Jamu ini diarahkan ke uji klinik produk Jamu yang telah memiliki NIE untuk menjadi Fitofarmaka, dan melakukan riset inovasi jamu yang berpotensi untuk penanganan COVID-19 ke arah Fitofarmaka atau bahan baku obat.

Berdasarkan hal yang disampaikan diatas, maka hari ini dilakukan webinar yang merupakan kolaborasi antara Komnas Saintifikasi Jamu di Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan, Direktorat Pelayanan Kesehatan Tradisional, B2P2TOOT, PPKESTRAKI serta ICFAM.

Tujuan webinar adalah mengenalkan konsep Pohon Keilmuan Kesehatan Tradisional untuk tenaga kesehatan, masyarakat pemerhati kesehatan tradisional.serta mendapatkan input dari tenaga kesehatan maupun dan masyarakat untuk menyempurnakan Pohon Keilmuan Kesehatan Tradisional Indonesia.

Peserta adalah Dokter Saintifikasi Jamu, Apoteker Saintifikasi Jamu, Praktisi/dokter seminat Kesehatan Tradisional, Dinas Kesehatan dan Sentra Pengembangan Penerapan Pengobantan Tradisional (SP3T) di 33 provinsi, Perhimpunan Peneliti Bahan Alam, Asosiasi Perkumpulan Penyehat Tradisonal, Industri Obat Tradisional , Gabungan Pengusaha (GP) Jamu, Perguruan Tinggi  (Kedokteran dan Farmasi), Konsil  Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI) dan lainnya. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: