OMAI Tuan Rumah di Negeri Sendiri, Bersaing di Internasional
Tanggal Posting : Minggu, 8 November 2020 | 05:51
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 179 Kali
OMAI Tuan Rumah di Negeri Sendiri, Bersaing di Internasional
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Badan POM, Reri Indriani saat webinar: Pengembangan OMAI untuk Kemandirian Obat Nasional.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Tempo Media Group menggelar web seminar (webinar) membahas topik "Pengembangan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) untuk Kemandirian Obat Nasional," pada Jumat, 06 November 2020.

Dipandu oleh Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Wahyu Dhyatmika, webinar ini secara khusus menggali pemahaman akan peluang dan tantangan pengembangan OMAI dari perspektif pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, dan dokter.

Webinar dibuka dengan video sambutan presiden Joko Widodo, yang menyampaikan bahwa produk fitofarmaka harus difasilitasi pengembangan uji kliniknya. Hal ini dilakukan agar produk fitofarmaka dapat digunakan masyarakat sebagai alternatif pengobatan selain obat kimia.

Bambang Brodjonegoro, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) RI. menyampaikan bahwa Indonesia mengalami ketergantungan atas impor bahan baku obat yang mencapai 95%. Ini disebabkan karena Indonesia belum punya industri bahan baku yang memproduksi bahan baku turunan.

Untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat, terdapat dua sumber yaitu bahan baku obat kimia dan bahan baku obat herbal. Pemanfaatan bahan baku obat herbal ini menjadi pilihan, terutama melimpahnya potensi kekayaan alam Indonesia. Namun pemanfaatan ini memerlukan waktu yang cukup lama, karena membutuhkan riset dan uji klinik.

Berita Terkait: OMAI Harus Masuk JKN, Selaras Instruksi Presiden 

Berita Terkait: Kementerian Kesehatan Mendukung OMAI, Sektor Hulu dan Hilir 

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik (Deputi 2) Badan POM, Reri Indriani menjelaskan bahwa tahapan uji klinik yang harus dilewati oleh OMAI memang cukup panjang. Uji klinik fase 1 harus mengikuti implementasi Good Agricultural Practice (GAP), Good Agricultural and Collection Practice, dan Good Laboratory Practice.

Pada fase ini akan dilihat aspek toksisitas dan parmakodinamik untuk mengetahui kemanfaatan produk tersebut. Setelah itu, masuk dalam uji klinik fase 2 dan 3 yang selama ini membutuhkan biaya yang cukup besar.

Untuk menghadapi tantangan ini, Badan POM telah melakukan beberapa inisiatif. Mulai dari pendampingan kepada para peneliti uji klinik hingga menyusun protokol uji klinik untuk riset obat herbal. Deputi 2 juga menyampaikan keterbatasan riset penelitian yaitu munculnya inkonsistensi pemenuhan standar mutu antara skala laboratorium dan scaling up di industri.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Diharapkan pihak akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media dapat bersinergi untuk OMAI.

Sementara itu, Direktur Pelayanan Kefarmasian Ditjen Farmalkes Kementerian Kesehatan, Dita Novianti menyampaikan  bahwa pihaknya telah membuat beberapa regulasi yang dapat memfasilitasi penggunaan produk herbal di sarana pelayanan kesehatan seperti puskesmas.

"Salah satu syarat OMAI dapat masuk dalam formularium nasional adalah pengajuan usulan daftar obat dari pihak rumah sakit. Sayangnya, baik rumah sakit dan dokter masih enggan untuk mengusulkan OMAI," jelasnya.

Hardhi Pranata, Pendiri Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) menyampaikan bahwa sejak 2011, PDHMI bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) untuk pendidikan bagi dokter mengenai produk herbal. "Kami berharap Kementerian Kesehatan dapat memfasilitasi sertifikasi untuk dokter yang memiliki keahlian menggunakan OMAI," ungkapnya.

Melkiades Laka Lena, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI. menyampaikan diperlukan keberanian banyak pihak untuk mengimplementasikan pengembangan OMAI. "DPR selalu siap untuk membuat keputusan politik melalui regulasi untuk mendukung pengembangan OMAI. Namun, ini memerlukan inisiatif agar dokter mau menggunakan OMAI," tegasnya.

Badan POM sebagai lembaga yang berwenang dalam pengawasan Obat dan Makanan di Indonesia, terus mendukung pengembangan OMAI. Badan POM juga mendukung penggunaan OMAI di sarana pelayanan kesehatan.

Pengawalan yang dilakukan Badan POM bersinergi dengan akademisi, pelaku usaha, pemerintah, media dan masyarakat sudah membuat OMAI layak menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan mampu bersaing di dunia internasional. (https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/20173/Saatnya-OMAI-Menjadi-Tuan-Rumah-di-Negeri-Sendiri--Sekaligus-Mampu-Bersaing-di-Dunia-Internasional.html). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: