OMAI Dexa Medica Berbasis Molekuler. STIMUNO, 17 Tahun Imunomodulator Fitofarmaka
Tanggal Posting : Rabu, 31 Maret 2021 | 08:12
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 168 Kali
OMAI Dexa Medica Berbasis Molekuler. STIMUNO, 17 Tahun Imunomodulator Fitofarmaka
OMAI harus didukung pemanfaatannya, Badan POM mendukung hilirisasi obat bahan alam menjadi OMAI dan masuk program JKN.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. PT. Dexa Medica telah banyak mengembangkan  OMAI (Obat Modern Asli Indonesia) berbasis molekuler yang diteliti di Pusat Riset OMAI DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) di Kawasan Cikarang, Jawa Barat.

Demikian dikemukakan oleh Direktur Pengembangan Bisnis dan Saintifik PT. Dexa Medica, Dr. Raymond Tjandrawinata dalam webinar PIT PDHMI 2021, pada Sabtu, 20 Maret 2021.

Dexa Medica telah banyak mengembangkan OMAI berbasis molekuler. Khasiat OMAI tidak kalah dengan obat berbasis kimiawi. Beberapa OMAI telah teruji kinis mampu menjadi substitusi obat-obatan kimia yang bahan bakunya sebagian besar masih diimpor.

OMAI Dexa Medica, diantaranya OMAI Redacid yang dikembangkan dari Kayu Manis (Cinamommum Burmanii), terbukti mampu mengobati gangguan asam lambung. Ada juga OMAI yang dikembangkan dari Kayu Manis dan dikombinasi dengan tanaman Bunggur (Lagerstroemia) yaitu: OMAI Inlacin, teruji klinis mampu menurunkan HbA1C bagi diabetesi.

Kemudian OMAI HerbaPAIN yang dikembangkan dari tanaman Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa), teruji mampu mengurangi rasa nyeri.

"OMAI STIMUNO merupakan imunomodulator pertama di Indonesia yang mendapat sertifikat Fitofarmaka dari Badan POM pada 17 tahun lalu," jelas Dr. Raymond Tjandrawinata.

STIMUNO yang sudah teruji klinis, juga sudah dipasarkan di berbagai negara, dan banyak diresepkan oleh para dokter dimana STIMUNO dipasarkan di negara tersebut. Potensi OMAI untuk di ekspor sangat besar.

Definisi OMAI adalah sediaan obat dari bahan alam berupa ekstrak atau fraksi tanaman yang tumbuh di Indonesia, tanaman asli Indonesia atau tanaman yang pernah ditulis dalam buku-buku herbal Indonesia, di mana riset penemuannya dilakukan di Indonesia, mempunyai data mekanisme kerja yang jelas, diproduksi secara farmasetika modern dan telah memperoleh status sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT) atau Fitofarmaka.

Riset OMAI

Keterangan Gambar: Proses Pengembangan dan Penelitian OMAI di Pusat Riset DLBS PT. Dexa Medica.

Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) telah terbukti secara uji praklinis maupun uji klinis untuk penanganan ataupun terapi penyakit. Pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Dokter Herbal Medik Indonesia (PIT PDHMI) 2021, para saintis dan juga praktisi kesehatan sepakat bahwa OMAI  dapat digunakan untuk pengobatan pasien.

Di beberapa negara itu mereka (dokter) memiliki kewenangan untuk meresepkan obat herbal, contohnya di Korea Selatan ada 15,26 persen dokter meresepkan obat herbal, kemudian di Cina 12,63 persen, di Taiwan 9,69 persen, yang paling tinggi adalah di Jerman, lebih dari 50 persen dari para dokter di Jerman sudah terlatih dan boleh menuliskan obat herbal dalam terapi.

"Otomatis obat herbal itu masuk dalam semacam JKN di sana," ujar Molecular Pharmacologist, Dr. Raymond Tjandrawinata menambahkan.

Dr. Raymond berpendapat, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat hingga 30 persen, jika menggunakan OMAI. Selain itu, pengembangan OMAI dapat membantu perekonomian petani Indonesia.

Senada dengan Dr. Raymond, salah satu Pengurus Pusat PDHMI, dr. Rimenda Sitepu menyatakan OMAI dapat menjadi substitusi penanganan penyakit. Pengembangan obat bahan alam menjadi OHT maupun Fitofarmaka merupakan upaya pembuktian ilmiah.

"Obat Modern Asli Indonesia dapat digunakan sebagai substitusi atau komplementer dalam penanganan atau terapi pada kondisi suatu penyakit, diperlukan banyak penelitian obat bahan alam, dapat menjadi pertimbangan bagi dokter untuk digunakan dalam usaha untuk pengobatan pasien berbasis EBM (Evidence Base Medicine)," ujar Rimenda.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) terus mendukung uji klinis bahan alam Indonesia yang terbukti secara empiris untuk menjadi OMAI.

"Kami sepakat produk OMAI harus didukung pemanfaatannya dan kami komitmen mendukung hilirisasi obat bahan alam. Kami terus berupaya mendukung obat bahan alam Indonesia untuk jadi OMAI dan masuk dalam program kesehatan nasional," ujar Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM, Reri Indriani. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: