Menko Luhut Binsar Pandjaitan: Beri Kesempatan OMAI Masuk JKN
Tanggal Posting : Kamis, 24 Februari 2022 | 21:36
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 399 Kali
Menko Luhut Binsar Pandjaitan: Beri Kesempatan OMAI Masuk JKN
OMAI dinilai para stakeholders dapat menjadi solusi untuk kemandirian obat nasional, jika segera dimasukkan ke dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional.Foto: Gatra/Dok.Dexa Medica

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang bahan bakunya berasal dari biodiversitas Indonesia, telah lulus uji klinis yang disyaratkan Badan POM sehingga berkategori Fitofarmaka, dan memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sangat tinggi, harus diberikan kesempatan masuk JKN.

Demikian ditegaskan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan tertulisnya, pada Kamis, 24 Februari 2022, terkait acara Bangga Buatan Indonesia & Bangga Wisata Indonesia (BBI & BWI) Sulawesi Selatan (Sulsel) 2022, di Anjungan Pantai Losari, Makassar.

Untuk kemandirian dan ketahanan farmasi Nasional, lanjut Luhut, pentingnya ada keberpihakan terhadap produk obat-obatan dalam negeri.

Salah satunya perlu diwujudkan dengan memasukkan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) berbahan baku alam Indonesia dalam Formularium Nasional, agar masuk program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Luhut menegaskan, OMAI dengan status Fitofarmaka harus diberikan kesempatan masuk dalam Jaminan Kesehatan Nasional. "Ini merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada produsen farmasi Nasional yang memiliki semangat untuk meneliti, mengembangkan dan memproduksi obat-obatan dalam negeri," katanya dikutip dari gatra.com

Menurut dia, Fitofarmaka itu memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi. "Dukungan ini diperlukan, agar kemandirian farmasi Nasional dapat segera diwujudkan," kata Luhut.

Corporate Affairs Director Dexa Group, Krestijanto Pandji kepada wartawan, sebagaimana dikutip oleh liputan6.com menjelaskan bahwa kehadiran Dexa Group pada acara Bangga Buatan Indonesia penting sekali karena hal ini untuk meningkatkan kerja sama di bidang industri farmasi secara keseluruhan dengan UMKM, tidak hanya di Sulawesi Selatan tetapi juga di seluruh Indonesia.

Krestijanto menjelaskan bahwa sejauh ini Dexa Group telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan UMKM di Indonesia, khususnya di bidang farmasi. Salah satunya dengan menggunakan bahan baku lokal untuk berbagai jenis obat herbal yang diproduksi oleh Dexa Group.

"Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan UMKM, dan yang paling penting adalah membentuk kemandirian obat nasional di Indonesia," imbuhnya.

Krestijanto berharap ke depannya obat herbal berbahan baku lokal ini bisa digunakan sebagai obat formal pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Karena ketika itu terwujud, maka secara otomatis ekosistem UMKM di Tanah Air juga akan menggeliat.

"Ketika obat-obatan dari Indonesia ini masuk ke JKN maka akan terjadi ekosistem baru dimana kami dari industri farmasi akan bekerja sama dengan UMKM maupun dari perbankan dalam melakukan investasi pembuatan bahan baku," paparnya.

Krestijanto dan Sandiaga UnoKeterangan Foto: Corporate Affairs Director Dexa Group, Krestijanto Pandji (kiri) foto bersama dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno pada acara Bangga Buatan Indonesia & Bangga Wisata Indonesia (BBI & BWI) Sulawesi Selatan (Sulsel) 2022, di Anjungan Pantai Losari, Makassar. 

Sementara itu, Deputi Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Odo RM Manuhutu menambahkan bahwa pengembangan obat-obatan dari bahan baku alam Indonesia sangat berperan memaksimalkan pemanfaatan potensi alam Indonesia yang beragam jenis dan banyak jumlahnya.

"Biodiversitas Indonesia merupakan terbesar kedua dunia, tetapi menduduki peringkat 19 sebagai negara pengekspor obat herbal," ungkapnya.

Pencapaian itu jauh di bawah India yang tertinggi di peringkat pertama dengan angka 33,46 %. Disusul di peringkat kedua sebesar China 27,54%. Lalu Belanda yang masuk peringkat ketiga dengan 6,05%. (Sumber Berita: https://www.gatra.com/news-536649-Kesehatan-omai-masuk-jkn-solusi-kemandirian-farmasi-nasional.html dan https://www.liputan6.com/regional/read/4895836/produsen-harap-obat-herbal-berbahan-baku-lokal-masuk-dalam-program-jkn). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: