Menkes: Manfaatkan Biodiversitas untuk Produksi Obat Berbasis Bioteknologi
Tanggal Posting : Selasa, 16 Maret 2021 | 08:54
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 229 Kali
Menkes: Manfaatkan Biodiversitas untuk Produksi Obat Berbasis Bioteknologi
Saya berharap para ahli dan peneliti di Indonesia di bidang obat-obatan herbal yang berbasis biological melompat ke depan.

JamuDigital.Com-Media Jamu, Nomor Satu. Menteri Kesehatan RI., Budi Gunadi Sadikin menegaskan agar memanfaatkan biodiversitas alam Indonesia untuk memproduksi obat menggunakan bioteknologi sehingga benar-benar bermanfaat untuk rakyat Indonesia.

Hal tersebut disampaikan saat sambutan pada Dialog Nasional "Keselarasan Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan dengan Obat Tradisional/Obat Bahan Alam antara Dokter, Tenaga Kesehatan Tradisional dan Penyehat Tradisional" pada Sabtu, 13 Maret 2021 yang diadakan oleh PDPOTJI.

Saya kemarin baru kembali dari Ubud, ungkap Menkes lebih lanjut, saya diberi tahu kalau di Ubud itu asal katanya Ubad (Bahasa Bali) yang artinya obat. Karena ditahun sembilan ratusan, ada orang yang bermigrasi dari Majapahit ke Ubud, kemudian prajuritnya sakit dan hidup disana berendam dikali-kali yang terkenal di Ubud itu dan kemudian makan dan meminum ramuan dari obat-obatan khas Ubud.

Pak Gubernur saat bicara dengan kami, terkait dengan rencana bagaimana mempersiapkan Bali untuk benar-benar hijau, yang bebas dari virus COVID-19.

"Beliau menyarankan dimulainya di Ubud. Karena itu tadi, selain Ubud merupakan tempat yang namanya berasal dari kata obat. Ubud juga merupakan tempat dimana turis-turis dibali berawal. Pada 1930 saat beberapa orang Eropa terutama dari Belanda datang kesana tinggal di Ubud. Kembali ke Eropa menceritakan betapa indahnya Bali," jelasnya.

Gubernur Bali kemudian mengalokasikan satu kebun yang sangat besar. Sebagian besar ditanam tanaman obat-obatan untuk mereferensikan Bali kekayaan ragami dari obat-obatan tradisional Indonesia.

Ini mirip dengan inisiatif Kementerian Kesehatan yang dilakukan di Tawangmanggu. Dimana kita memiliki juga pusat penelitian khusus obat-obatan tradisional atau herbal (B2P2TOOT). "Nah Bapak/Ibu kalau kita melihat ke depan Indonesia memiliki potensi yang tidak dimiliki oleh negara lain. Yang pertama, karena Indonesia memiliki biodiversitas dari sisi tanaman dan hewan yang sangat beragam," urai Menkes, Budi Gunadi Sadikin menambahkan.

Indonesia memiliki varietas genomic, karena memang suku-sukunya sangat beragam. Keanekaragaman-hayati dan biodiversitas genomic ini merupakan modal yang sangat besar untuk dapat menganalisa secara sistematis obat-obatan apa atau treatment apa yang dapat  diberikan- yang cocok untuk kesehatan kita.

Hal kedua, yang saya lihat trennya bukan hanya di Indonesia saja tetapi di dunia, adalah mulai terjadi pergeseran bagaimana obat-obatan yang chemical based menjadi biotechnology based.

Jadi makin banyak obat-obatan sekarang yang diproduksi berbasis biotechnology. Seperti vaksin itu, kan bukan chemical based. Vaksin itu adalah biotechnology based. "Nah teman-teman kalau kita lihat zaman dahulu, sebelum adanya obat-obatan itu dari juru obat meramu obatnya dari bahan alam yang dicocokkan dengan kebutuhan manusianya untuk meyembuhkan penyakit," Budi Gunadi Sadikin mengingatkan.

Dan tren itu kembali terulang sekarang. Kita lebih kenal medicine sekarang sifatnya preventif lebih personal. Memang harus berbasis teknologi. Basic teknologinya bukan chemical based, tetapi biotechnology based.

"Yang dilakukan Kementerian Kesehatan ke depan, Kita akan membangun sistem. Terutama yang kita bangun adalah penelitinya, risetnya, ahli-ahlinya itu adalah satu sisi pilar yang akan kita bangun," ungkap Menkes lebih labjut.

Untuk memastikan bahwa chemical based research yang selama ini sudah maju akan didampingi biotechnology based research. Dan saya lebih suka menggunakan biotechnology atau biosimilars dibandingkan herbal tradisional. Karena kata-kata herbal atau tradisional itu ada elemen subordinate.

Padahal ini dapat  jadi superior dibandingkan dengan yang chemical based. Potensinya sama, kita memanfaatkan apa yang ada di alam kita. Kita memanfaatkan biodiversitas yang ada di alam Indonesia untuk memproduksi obat, untuk bisa memproduksi treatment yang benar-benar bermanfaat untuk rakyat Indonesia.

Dan untuk itu kita harus serius membangun. Tidak hanya setengah-setengah. Pilar yang pertama dari sumber daya manusianya kita akan bangun. Kita juga akan bangun dari sisi management research-nya. Dapat dengan membangun kebun-kebun berbasis tanaman obat. Sehingga research-nya nanti gampang.

Dan dapat juga kita membangun jaringan-jaringan penelitinya yang tidak semuanya dari Kementerian Kesehatan, tetapi kerjasama dengan perguruan tinggi yang memang tertarik untuk membangun medicine berdasarkan biotechnology yang berbasis tanaman atau hewan yang ada di wilayah Indonesia.

Kemudian yang ketiga juga yang penting adalah bagaimana kita membangun payung regulasi. Yang dapat melindungi, yang dapat memfasilitasi, agar itu tadi para ahli sumber daya manusianya dapat maju dan bermanfaat.

Dapat kita kirim keluar juga untuk belajar. Kita dapat undang ahli-ahlinya untuk datang. Kemudian dari infrastrukturnya baik itu kebunnya, research, laboratoriumnya, kerjasama dengan perguruan tingginya itu kita atur.

Saya berharap kedepannya COVID-19 ini dapat membuka kesempatan bagi para ahli dan peneliti di Indonesia di bidang obat-obatan herbal atau tradisional yang berbasis biological untuk melompat kedepan dapat mengambil tempat terhormat tidak kalah dengan obat-obatan yang dari China. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: