Kuliah Pakar Fakultas Kedokteran UKI: Pengobatan Tradisional di Pelayanan Kesehatan Primer
Tanggal Posting : Senin, 13 Januari 2020 | 15:05
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 1119 Kali
Kuliah Pakar Fakultas Kedokteran UKI: Pengobatan Tradisional di Pelayanan Kesehatan Primer
Suasana Kuliah Pakar di Fakultas Kedokteran UKI, Jakarta mengupas Peluang dan Tantangan Pengobatan Tradisional di Pelayanan Kesehatan Primer.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Dr. Inggrid Tania, M.Si. (Kandidat Doktor Filsafat Ilmu Pengobatan Tradisional Indonesia) memberikan Kuliah Pakar di Fakultas Kedokteran UKI dengan tema: Filosofi dan Karakteristik Pengobatan Tradisional Indonesia: Peluang dan Tantangannya pada Pelayanan Kesehatan Primer.

Kuliah yang ditujukan untuk Mahasiswa Kedokteran UKI yang mengambil Blok Herbal tersebut diadakan di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta pada Rabu, 8 Januari 2020.

Dr. Inggrid Tania menjelaskan kepada Redaksi JamuDigital.Com bahwa learning objective dari kuliah pakar ini adalah:

  • Menjelaskan filosofi dan karakteristik pengobatan tradisional, dengan jamu sebagai modalitas utama.
  • Tantangan dan peluang pengobatan tradisional Indonesia pada pelayanan kesehatan formal, khususnya pelayanan kesehatan primer.
  • Perbandingan pelayanan kesehatan tradisional dan integratif pada beberapa negara.

Sedangkan learning outcome yang diharapkan adalah: Mahasiswa mampu memahami filosofi dan karakteristik pengobatan tradisional Indonesia, tantangan & peluangnya pada pelayanan kesehatan primer, regulasi serta perbandingan pelayanan kesehatan tradisional dan integratif dengan beberapa negara.

Ada enam point yang menjadi outline paparan kuliah pakar ini, yaitu:

  1. Filosofi dan Karakteristik Pengobatan Tradisional secara umum
  2. Filosofi, Sejarah dan Karakteristik Pengobatan Tradisional Indonesia
  3. Modalitas Pengobatan Tradisional Indonesia
  4. Aspek Regulasi
  5. Peluang dan Tantangan pada Pelayanan Kesehatan Primer
  6. Pelayanan Kesehatan Tradisional dan Integratif di Beberapa Negara

Berita Terkait: Konsep Holistik dan Karakteristik Dasar Pengobatan Tradisional Indonesia

Berita Terkait: Filosofi Kesehatan 8 Ramuan Jamu Gendong Dibahas di ICTCM 2019

Regulasi dan Tantangan pada Pelayanan Kesehatan Primer

Regulasi utama di Indonesia adalah UU No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, PP 103 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional dan Beberapa Permenkes turunannya, Permenkes No.3 tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu, dan Permenkes No.9 tahun 2016 tentang Asuhan Mandiri.

Pengobatan Tradisional Indonesia memiliki peluang yang besar untuk diintegrasikan secara harmonis dengan Pengobatan Konvensional pada Pelayanan Kesehatan Formal, khususnya Pelayanan Kesehatan Primer, dengan mensinergikan kelebihan/keunggulan spesifik Pengobatan Tradisional Indonesia dengan kelebihan/keunggulan spesifik Pengobatan konvensional, sehingga masing-masing akan mengkompensasi kekurangan/kelemahan masing-masing yang lain.

Dengan melihat bagaimana sistem pengobatan tradisional dan pelayanan kesehatan integratif dari negara Cina dan India, kemudian membandingkan dengan negara Jepang dan Turki; maka para regulator-Pemerintah Indonesia memiliki tanggung jawab yang sangat besar tentang bagaimana menentukan arah kebijakan pelayanan kesehatan tradisional dan integratif di Indonesia, yang sesuai dengan situasi dan kondisi Indonesia.

Dalam aspek SDM (Practitioner), Pilihan yang tersedia misalnya:

  1. Apakah akan membina profesi yang sudah ada/sudah mapan seperti profesi pengobat tradisional (empirik/non pendidikan formal) dan profesi dokter praktisi pengobatan integratif? atau
  2. Menciptakan profesi baru, yakni ’dokter tradisional’ (tenaga kesehatan tradisional/nakestrad)?

Kedua pilihan tersebut pada dasarnya sama-sama baiknya. Pilihan membina profesi yang sudah ada/sudah mapan dalam rangka pengembangan pelayanan kesehatan tradisional dan integratif tentunya sangat baik, ini justru pembinaannya- sebenarnya merupakan kewajiban Pemerintah. Pilihan melahirkan profesi baru "Nakestrad" adalah pilihan yang baik pula, sepanjang tidak menekan eksistensi profesi-profesi yang sudah lebih dulu ada.

Arah Kebijakan PP 103 Tahun 2014 adalah menciptakan profesi baru nakestrad dengan membatasi wewenang pengobat/penyehat tradisional empirik pada upaya pelayanan promotif dan preventif saja dan membatasi wewenang dokter (praktisi pengobatan integratif) pada ranah pengobatan konvensional saja.

Padahal selama puluhan tahun, para pengobat tradisional empirik melakukan upaya pelayanan secara lengkap (promotif hingga kuratif, paliatif, rehabilitatif); dan selama puluhan tahun para dokter praktisi pengobatan integratif memberikan kombinasi pelayanan pengobatan konvensional dengan pengobatan tradisional & komplementer, demikian ditegaskan Dr. Inggrid Tania. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: