Kisah Heroik Peraih Beasiswa DASS 2019, Bercita-Cita Mensintesa Obat Gangguan Kecemasan
Tanggal Posting : Minggu, 30 Juni 2019 | 08:18
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 430 Kali
Kisah Heroik Peraih Beasiswa DASS 2019, Bercita-Cita Mensintesa Obat Gangguan Kecemasan
Yayan Dwi Sutarni menerima beasiswa S2 DASS 2019 dari CEO Dexa Group, Ferry Soetikno, pada 27 Juni 2019, di Titan Center, Tangerang Selatan. Foto: Dok.Corp.Com.Dexa Group.

JamuDigital.Com. Yayan Dwi Sutarni, S.Si., alumnus Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Sebelas Maret- yang lahir di Boyolali, 9 Desember 1995 ini- adalah salah satu dari tiga penerima Beasiswa Dexa Award Science Scholarship 2019.

Selain menyandang predikat Cumlaude saat wisuda di Universitas Sebelas Maret, wanita energik ini, juga meraih beragam prestasi selama kuliah S1.

Meraih Penghargaan dari Kemenristekdikti, Tahun 2017 sebagai Juara 3 dalam Pimnas 2017 (Medali Perunggu), Juara 1 Lomba Inovasi Produk dan Teknologi, dalam rangkaian Pimnas 2018 di Universitas Negeri Yogyakarta, Mahasiswa Berprestasi tingkat Fakultas MIPA UNS Tahun 2018, Lulusan berpredikat Cumlaude pada Wisuda UNS periode 3, Tahun 2018.

"Proposal riset saya tentang sintesis senyawa benzimidazol yang berasal dari sinamaldehid (dari kayu manis) sebagai obat ansiolitik (obat penenang/relaksasi)," urai Yayan Dwi Sutarni, saat wawancara dengan Redaksi JamuDigital.Com pada Sabtu, 29 Juni 2019.

Metode yang saya gunakan dalam sintesis ini, lanjut dia, adalah berdasar prinsip kimia hijau yakni menggunakan alat yang hemat energi.

Berikut ini, kisah heroik Yayan Dwi Sutarni, mengejar mimpi mendapat beasiswa kuliah S2:

Coba ceritakan proses seleksi Anda, saat mengikuti DASS?
Setelah lulus dari Fakultas MIPA, Universitas Sebelas Maret pada Oktober 2018, kesibukan saya adalah mencari info beasiswa, sambil les bahasa inggris. Namun beasiswa kebanyakan dibuka di awal tahun.

Sehingga saya juga mencari info lowongan pekerjaan dan apply. Saya mencari info beasiswa dengan cara follow akun-akun info beasiswa. Pada bulan Maret 2019, saya mendapat notif ada beasiswa dalam negeri dari Dexa Group, dan syarat untuk mendaftar cukup simpel, yaitu hanya mensubmit proposal penelitian dengan syarat bertema tentang kesehatan.

Kebetulan background saya adalah Kimia Organik dan tema penelitian yang pernah saya lakukan adalah tentang sintesis obat. Sehingga saya mencoba membuat inovasi dari penelitian terdahulu saya. Jarak antara submit dan pengumuman 30 besar cukup jauh waktunya. Saya submit sekitar awal April 2019 dan pertengahan Mei 2019 kemarin baru diumumkan peserta yang lolos 30 besar. Alhamdulillah saya lolos 30 besar.

Pengumuman lolos 10 besar diumumkan 17 Mei 2019. Bersamaan dengan pengumuman salah satu beasiswa lain yang saya ikut mendaftar juga. Namun saya memilih Dexa Award Science Scholarship, karena hanya tinggal satu tahap, sedang beasiswa lain masih beberapa tahap.
Maka berangkatlah saya ke Jakarta pada Senin, 24 Juni 2019 dengan tiket pesawat sudah disediakan oleh panitia.

Apa tahapan yang paling bermakna?
Tahap final bersama 10 finalis lain sangat menyenangkan. Serasa bukan kompetisi, karena kita semua saling support. Ditambah sebelum hari H, yaitu saat presentasi, kita diajak kunjungan ke dua manufaktur Dexa Group yaitu di DLBS dan Fonko.

Paling deg-degan adalah ketika acara puncak penganugerahan. Benar-benar gak bisa ditebak siapa yang menang. Dan saya tidak menyangka akhirnya terpilih. Saya sangat bersyukur. Alhamdulillah...

Kesan-kesan Anda selama mengikuti DASS?                                                                         

Senang. Karena seleksinya simpel dan panitia pun fast respon. Deg-degan juga ketika berhadapan dengan juri yang berasal dari ekspertis-ekspertis dari perguruan tinggi terkemuka, dan juga praktisi. Seperti, Pak Raymond yang Ketua Panitia DASS sekaligus peneliti di Dexa Development Center.

Hal-hal menarik selama DASS 2019 adalah saya berkesempatan mengenal Dexa Group lebih dekat. Mengenal lebih dekat Laboratorium dan manufaktur milik Dexa Group. Kenal lebih dekat dengan petinggi maupun karyawan Dexa Group. Panitia yang asik, sabar dan sangat memperhatikan para finalis. Terima kasih DASS 2019, Terima kasih Panitia. Semoga semakin jaya di tahun-tahun berikutnya

Pendapat Anda tentang DASS?
Kagum. Salut. Karena Dexa Group, walaupun bukan perusahaan pemerintah, namun sangat nasionalis. Peduli dengan pendidikan Indonesia.

Harapan Anda setelah mendapat beasiswa ini?                                                                   

Harapan saya, saya dapat melaksanakan kuliah dan penelitian saya berjalan lancar dan saya dapat membuat suatu senyawa baru yang dapat berfungsi sebagai obat dan dapat diaplikasikan. Sehingga dapat bermanfaat untuk masyarakat Indonesia yang membutuhkan.

Akan melanjutkan S2 dimana dan di bidang apa?
Saya akan mengambil S2 di UGM, Prodi Ilmu Kimia, Bidang Kimia Organik Sintesis.

Bisa diceritakan reaksi keluarga, setelah mendapat beasiswa DASS?
Bersyukur. Jujur keluarga saya untuk saat ini belum bisa membiayai, jika saya akan kuliah S2. Namun, dengan saya menerima beasiswa ini, saya dapat menempuh S2 tanpa membebani keluarga saya.

Hal menarik lainnya, yang pernah Anda alami?
Setelah lulus S1, niat melanjutkan S2 sudah ada. Namun terbentur realita, kondisi perekonomian keluarga saya, belum mampu untuk membiaya saya untuk langsung kuliah S2. Saya memutuskan tahun ini kerja dulu, kebetulan setelah saya lulus, tepat pembukaan CPNS.

Namun setelah seleksi tahap 1, belum rezeki saya. Peserta yang lolos diambil 21 besar sedang saya nomor 22. Nyesek...rasanya. Tapi ya belum rezeki. Lalu saya melamar ke berbagai perusahaan. Setelah dipanggil, tes, wawancara, ternyata belum lolos. Sudah hampir 50-an lebih saya kirim lamaran ke berbagai perusahaan. Namun ...yah namanya belum rezeki.

Apa usulan proposal Anda saat mengikuti DASS?
Proposal saya adalah tentang sintesis senyawa benzimidazol yang berasal dari sinamaldehid (dari kayu manis) sebagai obat ansiolitik (obat penenang/relaksasi). Metode yang saya gunakan dalam sintesis ini adalah berdasar prinsip kimia hijau yakni menggunakan alat yang hemat energi.

Hasil riset saya nantinya adalah obat yang dapat digunakan pada pasien gangguan jiwa/gangguan kecemasan. Tidak menutup kemungkinan, nantinya saya akan mengembangkan lagi jenis senyawa benzimidazol ini sebagai obat yang dapat dimanfaatkan sebagai antitumor, antikanker dan antiinflamasi.

Yayan Dwi Sutarni

Keterangan Foto: Yayan Dwi Sutarni meraih Juara 1 Lomba Inovasi Produk dan Teknologi, dalam rangkaian Pimnas 2018 di Universitas Negeri Yogyakarta.

Sekilas tentang DASS:
DASS adalah program beasiswa yang digagas atas ide mulia dari Founder Dexa Group, Almarhum Rudy Soetikno. Semangat pengabdian dan kontribusi beliau di bidang kesehatan ingin ditularkan kepada para generasi muda melalui dukungan untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Sejak 2018 hingga kini, Dexa Award Science Scholarship telah memberikan dukungan pendidikan kepada sekitar 3.000 penerima beasiswa, mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga jenjang S2.

Tahun 2019 ini, DASS memberikan beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 kepada: Yesiska K.Hartanti (Universitas Gadjah Mada), Muhammad Rezki (Universitas Diponegoro), dan Yayan D. Sutarni (Universitas Sebelas Maret). Penganugerahan Penerima DASS 2019 dilakukan pada Kamis, 27 Juni 2019, di Titan Center, Tangerang Selatan.

Anda tertarik untuk mendapatkan beasiswa DASS? Simak informasinya disini:

  • Website: www.dexascholarship.com
  • Facebook: dexascholarship
  • Instagram: @dexascholarship
  • Email: scholarship@dexagroup.com. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2019. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: