![]() |
| Founder JamuDigital, Karyanto bersama Diaspora Indonesia berkumpul di Warung Bali, Sangkat Chey Chumneah Khan Doun Penh, Kamboja. |
JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Peran Diaspora Indonesia (orang Indonesia yang merantau ke berbagai negara dengan beragam tujuannya) dapat menjadi pasar pembuka untuk membawa Obat Herbal Indonesia melaju ke pasar global.
Diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai kawasan dunia, berdasarkan data dari situs diasporaindonesia.org. jumlahnya sekitar delapan juta orang tersebar di berbagai negara. Ini tentu pasar yang tidak kecil, yang dapat menjadi pintu gerbang obat herbal Indonesia menelusuri pasar dunia.
Diaspora Indonesia tentunya membawa budaya dan gaya hidup khas Indonesia dimana mereka kini menetap. Budaya mengkonsumsi obat herbal untuk menjaga kesehatan atau meningkatkan daya tahan tubuh, tentu tidak begitu saja mudah dilupakan bagi Diaspora Indonesia. Ini tentu dapat menjadi elemen penting dalam strategi marketing.
Saya kemarin, pada hari Minggu, 15 Desember 2019 ikut bergabung dengan salah satu perkumpulan Diaspora Indonesia di Kamboja. Mereka berkumpul di Warung Bali- yang menjual aneka masakan Indonesia- yang berlokasi di Kawasan Jalan Sangkat Chey Chumneah Khan Doun Penh, Phnom Penh, Kamboja.
Perkumpulan mereka sekitar 60 Diaspora Indonesia di Kamboja. Kemarin itu, mereka sedang ada acara arisan bulanan. Untuk arisan, masing-masing menyetor USD60, yang USD3 untuk uang kas dan biaya konsumsi saat mereka arisan. Dan konsumsinya jelas khas masakan Indonesia. Ada Nasi putih, Bakwan Jagung, Ayam Goreng, Telor Dadar, Es Cincau, Kudapan Jadah/Uli. Serasa di Indonesia.
Diaspora Indonesia seperti diatas, tentunya potensi yang juga dapat menjadi pintu masuk bagi produk herbal Indonesia di berbagai negara. Tentunya, dengan memasarkan produk obat herbal Indonesia yang berkualitas dan inovatif, agar diterima pasar global.
Berdasarkan informasi dari ASEAN Economic Community Center (yang kini telah berubah menjadi Free Trade Agreement (FTA) Center), beberapa produk unggulan Indonesia yang sudah menguasai pasar ASEAN diantaranya: elektronik, otomotif, sawit, hasil hutan, tekstil dan produk tekstil, karet, udang, kakao, kopi, dan alas kaki.
Produk Indonesia lokal yang banyak diminati di pasar ASEAN, namun belum dioptimalkan ekspornya: makanan olahan, peralatan medis, perhiasan, kerajinan, minyak atsiri, produk ikan, rempah-rempah, dan tanaman obat- obat herbal Indonesia.
Sejumlah perusahaan Indonesia yang memproduksi obat herbal dan Jamu- yang produknya sudah eksis di ASEAN, antara lain: Dexa Medica, Kalbe Farma, Martha Tilaar Group, Sido Muncul, Deltomed, Kino, Industri Jamu Borobudur, Air Mancur, Jamu Jago.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Kamboja, Sudirman Haseng pada saat konferensi pers Pameran yang mempertemukan pebisnis Indonesia dan Kamboja pada 19-21 Juli 2019 di Preah Reach Damnak Park, Provinsi Siem Reap, Kamboja menjelaskan bahwa pameran ini mempromosikan berbagai produk dari kedua negara.
Produk tersebut, seperti: Otomotif, Makanan & Minuman, Buah segar (Salak), Balsam, Minyak Herbal, Obat-obatan (termasuk obat herbal), Minyak Goreng, Kertas dan alat tulis, kerajinan tangan, dan batik Indonesia.
Produk Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang sudah beredar di Kamboja, antara lain: HerbaKOF, STIMUNO, Disolf, dan Inlacin -yang diproduksi oleh PT Dexa Medica.
Jangan malu, dan terus melaju membidik pasar ASEAN untuk memasarkan obat herbal Indonesia, karena resources Indonesia dalam bidang obat herbal Indonesia sangat dahsyat. Pundi-pundi devisa dapat mengalir deras dari sektor ini.
Kategori Kelompok Diaspora Indonesia

Keterangan Foto: Founder Jamu Digital, Karyanto saat bersama Diaspora Indonesia di Kamboja, makan siang bersama dengan menu masakan Indonesia. Mereka mambawa anak-istri untuk Arisan Bulanan- di Warung Bali- milik salah satu Diaspora Indonesia di kawasan: Jalan Sangkat Chey Chumneah Khan Doun Penh, Phnom Penh, Kamboja.
Diaspora Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok Pertama: Orang Indonesia yang berpaspor Indonesia, meninggalkan tanah air untuk bekerja di luar negeri atau menetap di luar negeri.
Kelompok Kedua: Orang Indonesia yang kemudian menjadi warga negara lain, atau pindah menjadi warga negara dimana mereka tinggal. Kelompok Ketiga: Orang-orang yang menjadi keturunan dari Indonesia, baik dari pihak laki-laki atau perempuan yang menikah dengan orang luar negeri, kemudian mendapat anak dari hasil perkawinan tersebut.
Kelompok Keempat: Orang yang mecintai Indonesia di negara manapun, biasanya orang-orang yang pernah tinggal di Indonesia, kemudian mereka kembali ke negara masing-masing dan mereka "jatuh cinta" dengan Indonesia. Redaksi JamuDigital.Com








