Kabar dari Jepang: Madame DSyuga di Hiroshima
Tanggal Posting : Jumat, 12 Maret 2021 | 08:38
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 887 Kali
Kabar dari Jepang: Madame DSyuga di Hiroshima
Saat proses pembuatan buku itu, Ratna Sari Dewi sudah berusia 53 Tahun. Pemotretan dilakukan di Jepang, Eropa dan Bali. Syuga berasal dari kata syu -excellent dan ga- ellegance.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Saat saya berangkat tugas ke Hirsoshima Jepang, pada Februari 1994- di Tanah Air Indonesia sedang ramai diperbincangkan buku Madame D’Syuga- yang diterbitkan di Jepang. Heboh super dupel dech...

Bahkan, Kejaksanaan Agung melalui surat bernomor: SK No.KEP.104/JA/II/1993, tanggal 8 November 1993, melarang buku Madame D’Syuga beredar di Indonesia. Tentu, ini menimbulkan tanda-tanya banyak masyarakat. Apa sih isi buku ini, sehingga dilarang beredar di Indonesia.

Larangan beredar itu, niscaya menimbulkan hasrat ingin tahu. Apalagi, pelarangan ini, hanya tiga pekan setelah buku itu diterbitkan dan beredar luas di Jepang. Jadi, mungkin saat pelarangan buku Madame D’Syuga diputuskan, buku itu belum banyak dimiliki orang Indonesia.

Sontak, buku yang diterbitkan oleh Scholar Publisher’s Inc., Tokyo- konon dicetak 150.000 eksemplar itu, menjadi the most wanted book. Kenapa? Oh ini loh... gara-garanya.

Buku Madame D’Syuga memuat foto-foto Ratna Sari Dewi- yang tubuhnya dilukis tanpa busana. Dunia mengetahui bahwa dia- pernah menjadi istri Presiden Republik Indonesia, Soekarno.

Begitu hebohnya buku Madame D’Syuga kala itu, maka Menteri Peranan Perempuan RI., yang saat itu dijabat oleh  Mien Sugandhi- dalam siaran persnya menyebutkan bahwa isi buku itu dinilai sangat memalukan dan menyinggung harga diri perempuan Indonesia.

Karyanto JamuDigital Hiroshima

Keterangan Foto: Founder JamuDigital, Karyanto saat berada di Hiroshima (1994) melihat beragam destinasi wisata di Hiroshima. 

Dari segi konsep, memang buku ini cukup terbilang unik di zamannya. Sebelum dipotret, obyek orang yang dijadikan target foto dilukis dulu tubuhnya. Setelah lukisan ditubuh-dengan tinta warna-warni yang menempel di kulit kering, lantas obyek difoto oleh sang fotografer. Simpel ...tidak ada yang aneh bukan?

Konsep ini, sah-sah saja, dan tidak ada yang perlu diperdebatkan. Persoalannya mencuat, ketika yang menjadi pelakunya adalah seseorang yang memiliki histori dengan pejabat tinggi di suatu negara yang memegang adab sopan-santun ketimuran.

Apalagi tampilan lukisan di tubuh itu, diberbagai bagian tubuh yang tidak pantas untuk dipertontonkan, dan bukunya dijual untuk umum.

Saya tidak membahas hal ini, karena pasti ada dua kubu yang akan muncul. Yang pro: Melafalkan dalil-dalil keindahan seni dan kebebasan berekspresi.

Dan satu kubu lagi, yang kontra- yang memegang teguh konsep azas kesopan tampil di depan publik, terlebih- jika seseorang itu, terkait langsung dengan figur pejabat tinggi negara.

Ketika saya berangkat ke Hiroshima, dalam hati berkata, kira-kira bagaimana ya respon masyarakat Jepang terhadap buku itu. Apa buku itu- juga laris manis diburu untuk memilikinya...? Karena nama asli Ratna Sari dewi adalah Naoko Nemoto...?

Madame D’Syuga di Toko Buku Hiroshima

Buku yang berisi kumpulan foto-foto dari kolaborasi antara Ratna Sari Dewi- yang tubuhnya rela dilukis (body painting) dengan tinta warna-warni oleh Teruki Kobayasi, dan setelah lukisan selesai, kemudian dipotret oleh fotografer Hideki Fujii, untuk diabadikan dalam berbagai pose ekspresif.

Saat proses pembuatan buku itu, Ratna Sari Dewi sudah berusia 53 Tahun! Pemotretan dilakukan di Jepang, Eropa dan Bali. Syuga  berasal dari kata ’syu’ yang berarti excellent dan ’ga’ yang berarti ellegance.

Ketika hari kedua, saya dan beberapa wartawan pada malam hari- mulai mengatur agenda diluar kegiatan utama: Ya, paling menyusuri lokasi-lokasi yang tidak jauh dari hotel! Tidak berani jauh-jauh, karena memang tidak diperbolehkan panitia, dan juga sudah lelah seharian menyusuri indahnya kota Hiroshima.

Hampir setiap hari, kami mengunjungi 2 hingga 3 destinasi wisata. Kegiatan biasanya berakahir pada sekitar jam 4 sore. Sehingga pada jam 5 sore sudah sampai di hotel. Selanjutnya agendanya istirahat, menunggu dinner dan esok harinya dilanjutkan lagi menyusuri berbagai lokasi wisata.

Usai mandi, beberapa wartawan janjian kumpul di lobby, ada yang mulai jalan kaki disekitar hotel. Ada yang duduk-duduk saja di lobby, sambil mengobrol nunggu makan malam. Ada yang sekedar lihat-lihat suasana di luar hotel. Ada yang ke toko buku, nah ini geng saya..hehehe.

Saya bersama teman satu kamar, wartawan dari Malaysia dan satu rekan dari Indonesia, pada sore hari-pada hari kedua, ingin mencari toko buku dekat hotel.

Saya lantas tanya ke resepsionis, apa ada toko buku yang tidak jauh dari hotel kami menginap. Resepsionis itu menunjuk arah depan hotel, ada toko buku kecil, jadi tinggal menyeberang.

Dan ada satu toko buku lagi, posisinya dari samping kanan hotel, jalan arak ke belakang, yang jaraknya lebih jauh dari toko buku yang di depan hotel.

Kami bertiga, akhirnya menuju toko buku yang di depan hotel. Setelah melihat-lihat, diseluruh rak-rak toko buku itu, tidak menemukan buku Madame D’Syuga. Namun, memang majalah yang berisi foto-foto vulgar dijual disini. Teman dari Malaysia... asyik membuka-buka beberapa majalah. Majalah seperti ini, tidak boleh beredar di Malaysia, Pak Cik. Kata dia, kepada kami.

Saya tidak pernah bilang pada rekan itu, bahwa saya sedang hunting Madam D’Syuga. Jadi dikira, saya mengantar dia ke toko buku....ha.ha..ha.

Hari ini, hunting kami gagal menemukan dan melihat buku Madame D’Syuga. Karena sudah waktunya jam makan malam, kami bertiga kembali ke hotel untuk dinner bersama teman-teman wartawan lainnya.

Esok harinya, kami bertiga setelah mengikuti kegiatan dari pagi hingga sore, kami mencari lokasi toko buku yang disamping hotel. Tetap semangat. Pak Cik saya lihat juga semangat...

Lumayan agak jauh ternyata lokasi toko bukunya Namun toko buku yang ini lebih besar, dan juga menjual alat-alat perlengkapan sekolah dan mainan anak-anak. Biar keren, saya beli dulu oleh-oleh mainan anak-anak untuk putri saya. Jadi kalau nanti agak berlama-lama nyari-nyari dan lihat-lihat di rak-rak buku, penjual tokonya, welcome-welcome wae....

Setelah melihat-lihat di berbagai rak, di sisi kiri, di sisi kanan. "Nah ini dia, ada beberpa eksemplar buku Madame D’Syuga ditata di rak bawah," yes hunting buku berhasil, gumam saya.

Pak Cik, dari KL itu ...saya lihat masih asyik baca-baca majalah-majalah. Ya sudah...biarlah dia melanjutkan keasyikannya.

"Ok, Pak Cik. Baca dan lihat-lihat majalah itu sepuasnya," gurau saya setengah meledek. Tapi saya tidak memberi tahu ke dia, bahwa tidak jauh dari dia berdiri, tergeletak beberapa eksemplar buku Madame D’Syuga.

Mengamati sampul depannya, buku itu biasa-biasa saja. Setengah jam di toko buku itu, saya amati, tidak ada satu orangpun yang mencari buku Madame D’Syuga dan membelinya.

"Yuk Pak Cik, balik ke hotel kita makan, nanti ditunggu dan dicari temen-temen lainnya," ajak saya. Dan kami bertiga-pun kembali ke hotel.

Karyanto JamuDigital Hiroshima 2

Keterangan Foto: Founder JamuDigital, Karyanto saat bersama sejumlah wartawan dari negara Asia berkunjung ke Hiroshima (1994)

Malam itu, saya sempat kontak ke kantor Jakarta, untuk menanyakan apakah facsimile berita saya kemarin sudah diterima. Rekan yang menerima telepon mejawab, "Sudah. Beritanya hari ini, sudah terbit di halaman 1. Sudah ketemu buku Madame D’Syuga kamu Kar?" suaranya penuh semangat.

"Ah elu pingin tahu saja....! Udah ya, mahal nih pulsa nelpon dari Hiroshima ke Jakarta...," jawab saya senyum-senyum sendiri, sambil menaruh gagang telepon, dari ruangan yang digunakan untuk sambungan telepon ke luar negeri, yang berada tidak jauh dari ruang resepsionis hotel.

Nunggu ulasan foto-foto Madame D’Syuga ya...? Ingat surat SK No.KEP.104/JA/II/1993, 8 November 1993, dari Kejaksanaan Agung Republik Indonesia ya..!

Artikel berikutnya, tentang Upacara Sado-Tradisi Minum Teh ala Jepang- yang dipandu oleh gadis-gadis Hiroshima dengan balutan baju Kimono yang anggun dan ramah-ramah. Dilakukan disebuah taman yang asri, so...romantis dech...di sore hari dengan hembusan angin sepoi-sepoi! Founder JamuDigital, Karyanto.


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: