Kabar dari Jepang: Kampo Diajarkan di Fakultas Kedokteran
Tanggal Posting : Senin, 15 Maret 2021 | 07:11
Liputan : Redaksi JamuDiital.Com - Dibaca : 1200 Kali
Kabar dari Jepang: Kampo Diajarkan di Fakultas Kedokteran
Doktor Sofya Suidasari, M.Sc. Di Jepang mulai 2001, kurikulum ilmu kedokteran ditambahkan mata kuliah pengenalan pengobatan tradisional Kampo.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Pada tahun 2020, ilmu obat tradisional Kampo sudah diajarkan kepada 82 Perguruan Tinggi Ilmu Kedokteran di Jepang.

Kendati pendidikan dokter di Jepang berbasis western medicine- dan program ini yang mendapatkan lisensi sebagai dokter di Jepang, namun saat ini lebih 80% dokter di Jepang menggunakan obat tradisional Jepang-Kampo.

Sejarah Kampo juga mengalami pasang surut, bahkan pernah pada suatu masa Kampo ini seperti ’terlupakan’.

Untuk mendapat gambaran tentang praktek Kampo di Jepang, Founder JamuDigital, Karyanto berbincang dengan Doktor Sofya Suidasari, M.Sc. pada 14 Maret 2021.

Sofya Suidasari- perempuan kelahiran Yogyakarta ini sudah hampir 15 tahun tinggal di Jepang. Mendapat Gelar S-3: Doctor of Philosophy in Molecular Nutrition Hiroshima University, Dept. of Biofunctional Science and Technology (2013-2016).

Gelar S-2: Master of Science in Molecular Nutrition, Hiroshima University, Dept. of Biofunctional Science and Technology (2011-2013). Dan Bachelor of Agriculture in Food Science Hiroshima University, School of Applied Biological Science (2009-2011).

Doktor Sofya Suidasari, datang ke Jepang pertama kali pada 2004, saat mengikuti pertukaran pelajar tingkat SMU melalui Program AFS (American Field Service) selama 1 tahun. Setelah lulus SMUN 3 Yogyakarta (tahun 2005), diterima kuliah di UGM, Fakultas Pertanian Jurusan Hasil Pangan (TPHP).

Namun, Sofya Suidasari pada 2006 mendapatkab beasiswa pemerintah Jepang (monbukagakusho), dan melanjutkan Pendidikan hingga Jenjang S-3 Bidang Molecular Nutrisi di Hiroshima University, hingga lulus pada 2016.

Setelah itu, menerapkan keahliannya dengan  bekerja di Neutraceutical Industry, khususnya bidang dietary supplement. Berkecimpung di formulasi dan produksi dietary supplement, serta riset & bisnis development untuk ingredients, khususnya dietary supplement dan kosmetik.

Berikut ini, bincang-bincangnya:

Bagaimana sejarah Kampo yang pernah surut juga di Jepang? Kampo memiliki sejarah yang sangat panjang di Jepang, tetapi baru diakui (lagi) beberapa tahun terakhir setelah 100 tahun "terlupakan".

Kampo adalah teknik medis yang diperkenalkan dari China. Kampo merupakan pengobatan yang diperkenalkan dari China, tetapi sudah dikembangkan oleh Jepang menjadi pengobatan tradisional Jepang sendiri. Sedangkan pengobatan tradisional yang ada di China disebut Chuu-Igaku- Pengobatan Tiongkok.

Mengapa dikatakan Kampo pernah "terlupakan"? Kampo masuk Jepang dari China tahun 250 AD. Sedangkan, di tahun 1603 BC, pada dinasti Edo, pengobatan dari Eropa mulai masuk ke Jepang beserta dengan peradaban dan budaya Eropa.

Memasuki dinasti Meiji (tahun 1868 BC), budaya Eropa mulai masuk secara lebih luas ke Jepang termasuk ilmu pengobatannya. Dengan masuknya Eropa ke Jepang, tidak hanya membawa kebaikan, tetapi juga memicu peperangan di berbagai daerah. Akibat peperangan ini, banyak korban luka, dimana Kampo dianggap tidak dapat menyelamatkan para korban akibat peperangan ini.

Inilah awal mula dimana Kampo mulai "diragukan" sebagai sebuah teknik pengobatan oleh masyarakat Jepang. Di dinasti ini juga, pemerintahnya menerapkan sistem "Lisensi Dokter", dimana hanya dokter yang memiliki pengetahuan pengobatan Eropa yang dapat mengklaim bahwa dirinya adalah "dokter".

Dengan kata lain, dinasti Meiji adalah periode dimana Kampo mulai tidak memiliki "tempat" ("terlupakan") di masyarakat Jepang, tergeser oleh pengobatan Eropa.

Berganti dinasti, memasuki dinasti Showa (tahun 1926-1989), baru pergerakan untuk mengembalikan Kampo ke masyarakat Jepang mulai terlihat. Dibuktikan pada tahun 1967, ada 6 jenis obat Kampo yang masuk dalam daftar obat di Kementerian Kesehatan Jepang. Inilah sebabnya disebutkan, bahwa Kampo pernah "terlupakan" selama 100 tahun.

Selanjutnya tahun 1976, ada 60 jenis obat Kampo, dan tahun 2015 ada 148 jenis obat Kampo yang diakui Kementerian Kesehatan Jepang.         

Mulai tahun 2001, kurikulum ilmu kedokteran ditambahkan mata kuliah "pengenalan pengobatan tradisional Jepang". Di tahun 2017, ditambahkan lagi mata kuliah "Garis besar karakteristik obat Kampo, indikasi obat Kampo, dan tindakan farmakologis untuk obat Kampo".

Pada tahun 2020 ini, sudah diajarkan ilmu obat Kampo di 82 perguruan tinggi ilmu Kedokteran Jepang. Walaupun di lapangan, tetap dokter dengan ilmu pengobatan Eropa yang mendapatkan lisensi dokter di Jepang, tetapi saat ini 80% lebih dokter Jepang juga menggunakan obat Kampo sebagai pengobatan.

Sofya di UGM

Keterangan Foto: DR. Sofya Suidasari mendampingi Prof. Norihisa Kato (Dosen Pembimbingnya saat menempuh S-1, S-2, dan S-3) berkunjung ke Fakultas TP Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta (2016).

Obat Kampo sekarang bagaimana? Total formula Kampo, baik sebagai obat maupun non-obat yang di telah disahkan oleh Kementrian Kesehatan Jepang ada 298. Kampo non-obat ada 150 formula (bisa digunakan untuk dietary supplement ataupun makanan/minuman sehat).

Sedangkan Kampo khusus sebagai obat ada 4 formula, selebihnya 144 formula bisa dipakai baik sebagai obat maupun non-obat.

Contoh Kampo yang banyak digunakan sebagai obat: Kakkontou, terdiri dari: Maou (Ephedra), Keihi (cinnamon), Shoukyou (Zingiber officinale), Kakkon (Pueraria montana), Shakuyaku (Paeonia lactiflora), Taisou (Ziziphus jujuba), dan Kanzou (Glycyrrhiza).

Fungsinya: gejala masuk angin awal, pilek, inflamasi saluran pernafasan, sakit kepala, bahu kaku, nyeri otot, nyeri tangan dan bahu.

Kampo di mata generasi milenial Jepang? Kampo sebetulnya dapat digunakan sebagai pencegah penyakit dan menjaga Kesehatan (Kampo non-obat), seperti halnya jejamuan di Indonesia. Tetapi saat ini, ketika kita bicara tentang Kampo, pada umumnya masyarakat Jepang akan menghubungkannya dengan kampoyaku, kampou yang digunakan sebagai obat.

Oleh karena itu, dibanding dengan Jamu di Indonesia, yang semakin digemari dikalangan milenial, Kampo belum begitu masuk ke kalangan milenial. Banyak Kampo yang dikemas dalam bentuk dietary supplement, tetapi konsumennya kebanyakan berumur 40 tahun keatas maupun manula.

Kampo baru mulai "hidup" kembali dikalangan masyarakat Jepang. Kedepannya, ada kemungkinan seperti Jamu di Indonesia, yang akan berkembang dan masuk di kalangan milenial.

Pernah mencoba obat Kampo? Pernah. Saya dapat Kampo dari dokter di kehamilan pertama dan kedua ini. Kali ini saya dapat obat Shouseiryuutou, berfungsi untuk: badan dengan imunitas melemah, bronkitis, asma, alergi hidung, inflamasi saluran pernafasan, meriang, demam. Redaksi JamuDigital.Com

Contoh Kampo

Keterangan Foto: Gambar kanan contoh produk Kampo.

Referensi:

  • Essential Lecture on Kampo Medicine, Japan Council for Kampo Medical Education, Yodosha Publisher, Dec 2020.
  • PLAMED Plus Research and Development, https://www.plamedplus.co.jp/kmp/.


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: