Kabar dari Brunei: Mengenalkan NOSTEO dan NOKILIR Kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Brunei
Tanggal Posting : Jumat, 20 Januari 2023 | 06:14
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 176 Kali
Kabar dari Brunei: Mengenalkan NOSTEO dan NOKILIR Kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Brunei
Duta Besar Republik Indonesia untuk Brunei Darussalam, Dr. Sujatmiko mendapat penjelasan khasiat NOSTEO dan NOKILIR dari Direktur PT Global Jamu Indonesia, Karyanto, di Brunei, pada 14 Januari 2023.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Ketika saya berkunjung ke Brunei Darussalam pada periode 9-15 Januari 2023, saya membeli buku tentang herbal yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan, tahun 2005- disebuah klinik pelayanan pengobatan tradisional.

Buku tersebut berjudul "Perubatan Herba Masyarakat Melayu Brunei", karya Mas Irun Alli. Pada sinopsis yang terdapat pada sampul belakang (blurb) dituliskan:

Kemajuan saintifik dalam perubatan moden hari ini tidak bermakna yang masyarakat Melayu katani sama sekali telah menyisihkan amalan rawatan dan perubatan tradisional.

Perubatan Herba Masyarakat Melayu Brunei mendedahkan beberapa jenis rawatan perubatan yang dipusakai oleh orang Melayu Brunei sejak zaman-berzaman. Kajian ini memuatkan yang masyarakat Melayu Brunei mengaplikasikan dua jenis preskripsi iaitu secara fizikal dan spiritual.

Misalnya ubat kasar ialah aing masak, dan ubat halus ialah aing bertawari, dan ia adalah preskripsi ubat untuk merawat penyakit. Orang pandai mengubati berperanan penting untuk menyediakan ubat-ubatan tradisional dan penerimaan masyarakat hari ini terhadap orang pandai mengubati merupakan pemangkin aktiviti perubatan tradisional. Hasil kajian membuktikan ubat tradisional telah berjaya menyembuhkan penyakit kronik.

Kini pilihan adalah terletak pada kita sama ada memilih rawatan tradisional atau moden, sementelah salah satu rawatan yang telah dicuba tidak menunjukkan keberkesanannya.

PERUBATAN TRADISI adalah salah satu warisan masyarakat Melayu Brunei. Variasi dalam kaedah perubatan yang masih terdapat dan juga diketahui serta diamalkan oleh masyarakat Melayu Brunei ialah seperti berurut kampung, mandi-mandian, air bertawari, berpancar, bergilir, berbakam, dan aing masak.

Hal ini, selaras dengan ungkapan Dk Nurolaini, Wakil Dekan Universitas Brunei Darussalam dalam studinya menemukan lebih dari 62% warga Brunei menganggap obat tradisional sebagai bentuk obat paling aman.

Dia melakukan penelitian berdasarkan kuesioner untuk mengetahui persepsi, sikap, pengetahuan dan praktik warga Brunei tentang penggunaan obat-obatan tradisional.

Hal diatas, dipublikasikan oleh salah satu media lokal Brunei- yang mengutip sebuah studi ilmiah: menyatakan adanya prevalensi tinggi penggunan obat tradisional di Brunei meskipun sistem kesehatan gratis yang disediakan oleh kesultanan.

Studi ini ditujukan kepada total 2.400 pasien secara acak yang datang ke puskesmas dan rumah sakit di seluruh negeri, yang memiliki rentang usia antara 16-85 tahun.

Dari total responden, lebih dari 62 persen dari peserta yang dirasakan obat tradisional menjadi bentuk yang aman dari obat dikarenakan terdiri dari sumber-sumber alam dan telah digunakan selama beberapa generasi.

Hal diatas, seperti dikutip Bisnis.com dari Xinhua Minggu (27/3/2016), bahwa lebih dari 400 pasien sepakat bahwa obat-obatan tradisional dapat dengan mudah ditemukan di toko-toko khusus dan supermarket di kesultanan.

Sementara itu, penelitian ini juga menunjukkan 59% atau 1.396 warga Brunei telah menggunakan beberapa bentuk obat tradisional sepanjang hidup mereka, dengan mayoritas pengguna mereka dari kelompok usia yang lebih tua (56 tahun ke atas).

Mengenalkan Herbal Indonesia, Menjajagi Besaran Potensi Pasar

Al Hatak dan NOSTEO NOKILIR

Keterangan Foto: Ustadz Al Hatak- diaspora Indonesia yang sudah lebih dari 20 tahun di Brunei- menjajagi peluang pemasaran herbal Indonesia bersama Karyanto, Direktur PT Global Jamu Indonesia di Brunei Darussalam, 9-15 Januari 2023.

Saya sempat berbincang-bincang dengan Lisha, owner Toko Herbal- dibawah bendera Perusahaan Nur Alisha Jaya Brunei Darussalam, yang berada satu kawasan dengan hotel Alafiah- dimana saya menginap- berada di Bangunan Begawan Pehin Dato Hj Md Yusof Simpang 88, Kiulap BE1518, Brunei Darussalam pada Kamis, 12 Januari 2023.

Toko Herbal Nur Alisha terbilang cukup lengkap, kendati ukuran tokonya tidak terlalu besar. Sebagian besar produk herbal yang dijual adalah produk herbal buatan Malaysia, dan beberapa saja yang berasal dari Indonesia.

Ini tentu peluang besar, bagi obat herbal Indonesia untuk dipasarkan di Brunei Darussalam. Di kawasan ini, ada 5 toko yang menjual aneka herbal- berjejer satu deret dengan Hotel Alafiah.

Menurut Lisha yang sudah lebih 5 tahun membuka Toko Herbal ini, pasar herbal di Brunei cukup menjanjikan.

Sekedar pembanding, harga obat herbal di Brunei secara umum hampir tiga kali harganya dibandingkan dengan harga herbal sejenis di Indonesia. Nilai kurs mata Brunei dibandingkan Indonesia, pada saat saya berada di Brunei (9-15 Januari 2023), 1 Ringgit Brunei/Dolar Brunei= sekitar Rp.11.800.

Dan tentunya, pengaruh dari daya beli masyarakat Brunei yang lebih tinggi dari daya beli masyarakat Indonesia. Harga makanan di Brunei, juga sekitar 3 kalinya dengan harga makanan di Indonesia.

Inilah potensi pasar yang patut dipertimbangkan, kendati memang populasi negara Brunei-jumlah penduduk pada tahun 2019, hanya sebanyak 459.500 orang (244.500 laki-laki dan 215.000 perempuan).

Pada Sabtu pagi, 14 Januari 2023, saat saya bertemu dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Brunei Darussalam, Dr. Sujatmiko- saat bermain bulutangkis bersama Diaspora Indonesia (MBCI-Majelis Badminton Cinta Indonesia) di Brunei- saya memperkenalkan produk herbal inovasi Indonesia yaitu Kapsul NOSTEO dan Minyak Boreh NOKILIR.

Ditemani Ustadz Al Hatak, saya menjelaskan profil produk herbal NOSTEO dan NOKILIR- yang diluncurkan di Indonesia pada Desember 2021. Kini sudah diresepkan pada dua rumah sakit di Indonesia, yaitu di Surakarta dan di Grobogan. Keduanya berada di Jawa Tengah.

Kepada Duta Besar Republik Indonesia di Brunei, Dr. Sujatmiko saya sampaikan "Semoga teman-teman diaspora Indonesia di Brunei dapat membantu menguruskan ijin pemasaran NOSTEO dan NOKILIR di Brunei dan kemudian memasarkannya."

Ketika di Brunei, saya juga sempat berkunjung di Kantor Darusysyfa Warrafahah (DSR)- Komunitas Terapis Perubatan Nabi yang berlokasi di Kampong Sungai Matan , Jalan Kota Batu, BD1917, Negara Brunei Darussalam.

Saat saya berkunjung di DSR, sedang ada anak kecil yang sedang diterapi diantarkan oleh Bapak dan Ibunya. Di Kantor DSR juga dijual aneka herbal.

Kabar dari Brunei, 9-15 Januari 2023.

Karyanto, Founder JamuDigital & Krida Sehat Channel


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU, NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2023. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: