Kabar dari Brunei: Kisah Diaspora Indonesia, Sukses Ngebranding Menu Bakso
Tanggal Posting : Rabu, 11 Januari 2023 | 08:50
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 178 Kali
Kabar dari Brunei: Kisah Diaspora Indonesia, Sukses Ngebranding Menu Bakso
Karyanto, Founder JamuDigital di depan Kedai Makan As Salihah, Brunei Darussalam bersama Mas Adi (paling kanan) diaspora Indonesia pengelola Kedai Makan As Salihah.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Ada moment yang satu rasa, ketika kita sedang di manca negara- lantas bersua dengan orang Indonesia yang sedang meraih ’mimpinya’ di negara orang. Dialah diaspora Indonesia.

Mulai dari pelajar, mahasiswa, pebisnis, menjadi pengajar atau pekerja di negara orang. Begitu bertemu dengan orang Indonesia, mendadak menjadi saudara. Langsung akrab dan saling berbagi informasi, dan sering berlanjut dengan saling tolong-menolong.

Demikian pula, saat saya berkunjung ke Brunei Darussalam. Bertemu dengan diaspora Indonesia dan kemudian saling membantu dan semoga berlanjut untuk saling menguatkan dalam berbagai aspek yang sangat mungkin untuk berlanjut kerjasama.

Begitu tiba di Brunei pada 9 Januari 2023, malam harinya saya membaca buku "Meraih Mimpi Ke Luar Negeri, 71 Kisah Sukses Diaspora Indonesia di Brunei," karya Efri Yoni Baikoeni (2017), setelah menemukannya di internet.

Menariknya, buku ini menampilkan prolog yang ditulis oleh Prof. Dr.M Jandra Hj.Mohd.Djanan, Guru Besaar Tamadun Islam, Universitas Teknologi Malaysia Johor Baru dengan judul: "Bermimpin Hari ini, Kenyataan Hari Esok?." Mengawali Bab 1, Sekilas Perjalanan Warga Indonesia ke Brunei.

Prof. Jandra menulis diawal Prolognya: "Setiap orang sebenarnya adalah unik dan berpeluang untuk sukses. Hampir semua kesuksesan itu dimulai dari sebuah mimpi. Mimpi artinya cita-cita atau target yang sangat ingin diraih dalam hidup ini. Tapi benarkah mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok?"

"Mimpi beda dengan panjang angan-angan. Mimpi artinya menginginkan sesuatu di masa depan," tulis Prof. Jandra lebih lanjut.

"If you will do something, you will be dream" (Jika ingin melakukan sesuatu, kamu harus bermimpi). If there’s will, there’s a way (Dimana ada kemauan, pasti ada jalan)!

Sungguh tepat Prolog dari Prof. Jandra ini, untuk dijadikan pemicu andrenalin para Diaspora Indonesia yang mencoba mewujudkan mimpinya di negara orang- yang terkadang sangat jauh jaraknya dari Indonesia, beda bahasa, beda budaya, dan beda tatanan sosialnya.

Ke Brunei Ngebranding Bakso, Bermimpi Sukses Hari Esok

Kedai Makan As Salihah Brunei

Keterangan Foto (dari Kiri-Kanan): Mas Adi, Ustadz Hatak (keduanya diaspora Indonesia), Sri Ratna, Karyanto (Founder JamuDigital), di Kedai Makan As Salihah, Brunei Darussalam. Mencoba menu vaforit As Salihah adalah Bakso Indonesia- yang dikelola oleh Mas Adi (Alumni Teknologi Pertanian UGM)!

Saya mendarat di Brunei Darussalam, pada Senin, 9 Januari 2023, setelah penerbangan dari Jakarta, transit di Kualalumpur sekitar 2 jam, kemudian melanjutkan terbang ke Brunei.

Tiba di bandara Brunei International Airport, Bandar Seri Begawan, saya sudah dijemput oleh Ustadz Hatak (pria yang berasal dari Jawa Timur- yang sudah puluhan tahun di Brunei)- yang saya kenal sekitar dua tahun lalu, saat saya menjadi pembicara tentang herbal-secara daring di Indonesia dan beliau menjadi salah satu peserta dari Brunei.

Sejak itu, kami berbagi informasi tentang potensi mengembangkan pasar herbal di Brunei, dengan mimpi dapat memasukkan produk herbal Indonesia ke Brunei. Mulailah kami menata mimpi untuk suatu ketika produk herbal yang saya produksi dapat dipasarkan oleh ustadz Hatak di Brunei.

Akankah mimpi itu, esok akan menjadi kenyataan? Biarlah kami berpasrah diri pada Allah, dengan ikhtiar yang semampu kami dapat dilakukan.

Sejatinya, saya ke Brunei dalam rangka kegiatan JamuDigital & Krida Sehat Channel untuk melakukan observasi peluang-peluang Jamu untuk dipasarkan ke berbagai penjuru dunia. Karena saya sudah punya produk herbal Kapsul NOSTEO dan minyak boreh NOKILIR- untuk kesehatan Tulang, Otot dan Sendi, maka selama di Brunei ini, saya coba menganalisa bagaimana peluang pasar dan proses perijinannya.

Keesokan harinya, pada Selasa, 10 Januari 2023, pukul 10 pagi waktu Brunei, saya dikenalkan dengan mas Adi oleh ustadz Hatak. Mas Adi ternyata alumni Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sebagai sesama alumni UGM, saya dari Fakultas Farmasi UGM, mas Adi almuni Fakultas Teknologi Pertanian, Jurusan Teknologi Industri Pertanian UGM, Angkatan 1990 dan lulus Tahun 1998- pertemua yang kali pertama langsung akrab bersapa.

Saat mas Adi masuk kuliah UGM (1990), saya pada tahun itu diwisuda sebagai Sarjana Farmasi. Saya juga termasuk paling lama lulus saat kuliah di Farmasi UGM. Masuk tahun 1981, baru lulus Sarjana Farmasi tahun 1990, karena saya cuti kuliah 4 tahun, menjadi wartawan di Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat Group Yogyakarta. 

Karena mendapat panggilan menjadi wartawan di harian ekonomi Bisnis Indonesia di Jakarta, maka saya tidak melanjutkan Progam Profesi Apoteker di Farmasi UGM.

Setelah sesaat ngobrol-ngobrol di ruang tamu di hotel dimana saya menginap di kawasan Bangunan Begawan Pehin Dato Hj Md Yusof Simpang 88, Kiulap BE1518, Brunei Darussalam, kami (Saya, Ustadz Hatak, Mas Adi)- kami beranjak menuju Kedai Makan As Salihah- dimana Mas Adi mengelola kedai makan dengan menu makanan dan minuman Indonesia. Salah satu menu favoritnya adalah Bakso.

Kedai As Salihah ada di kawasan pertokoan Jalan Pemancha, Bandar Seri Begawan Brunei Darussalam.

Varian Baksonya juga lengkap: Bakso Malang ($B 5- 5 dolar Brunei), Bakso Tetelan ($B 5), Bakso Biasa ($B 4), Bakso Beranak ($B 6), Bakso Granat ($B 6), dan Bakso Berubut ($B 5). Selain menu aneka bakso, juga ada menu makanan lain, seperti: Nasi Goreng, Kwegor, Mihun Ayam Penyet, Mie Ayam.

Saya memilih untuk mencicipi Bakso Beranak (di dalam Bakso yang ukuran besar- ada bakso kecil-kecil dan telur burung puyuh). Minumannya saya memilih Tongkat Ali Panas.

Istri saya pesan Bakso Berubut dan minum Jus Lemon-Wortel. Ternyata Bakso Berubut itu, Bakso yang ditambahin potongan rebusan jerohan babat sapi. Padahal istri saya, kurang suka jerohan sapi! Hmmmm....tertarik nama, tanpa tanya apa isi menunya, jadilah salah pilih.

Bakso dan kuahnya habis dimakan oleh istri saya, hanya rebusan jerohan babatnya yang tidak di makan.

Ustadz Hatak pesan Bakso daging halus, dan minum lemon tea. Siang itu, kami bertiga mencoba menu Bakso Kedai Makan As Salihah yang dikelola oleh Mas Adi. Terasa di Indonesia.

"Susah-susah kuliah di UGM, kini jadi juragan bakso di Brunei," saya bergurau dan disambut ketawa mas Adi dan ustadz Hatak...!

Malam harinya, saya minta Mas Adi untuk mengisahkan perjalannya jadi ’juragan’ Bakso di Brunei, padahal dia lulusan UGM. Masih nyambung sih...kalau disambung-sambungkan, kan beliau ambil jurusan Teknologi Industri Pertanian.

Tapi saya jamin, tidak ada mata kuliah memproduksi bakso, dan bagaimana teknologi pengolahannya.....he he...he...he...!

Ini kisah mas Adi kepada saya:

Awal mula ada penerimaan pekerja asing di Kementerian Sumber-Sumber Utama dan Pelancongan di Jabatan Pertanian. Kebetulan jurusan yang dibutuhkan sama dengan jurusan saya Teknologi Industri Pertanian. Tapi sebenarnya saya mendaftar sudah terlambat, dan ada surat balasan kalau pendaftaran sudah ditutup. Mulai dari situ saya berkunjung ke Brunei.

Kemudian diajak bergabung di AS-SALIHAH SDN BHD. Fokus awal impor produk rumah tangga Kerupok. Pekerjaan saya disitu menangani: Anual report, Administrasi, Import.

Peluang pasar produk Indonesia di Brunei cukup besar, karena hampir 80 % produk di Brunei dari impor.

Dan karena banyak pekerja Indonesia di Brunei, so produk Indonesia laku dijual di Brunei. Apalagi daya belinya juga masih tinggi.

Banyak pekerja Indonesia di Brunei menjadi pangsa pasar kami awalnya, untuk pekerja Indonesia. Produk kami semakin lama semakin dikenal untuk orang-orang tempatan, sekarang banyak juga penduduk tempatan yang menyukai produk-produk kami, Mas Adi melanjutkan kisahnya.

Nah, Bakso makanan kas orang Indonesia. Karena di Brunei banyak orang Indonesia, maka untuk pasarnya agak mudah. Inilah awal mula mas Adi memasarkan bakso produksinya di kedai makanan yang dikelola sendiri, dan dijual juga kepada kedai makanan lain- yang juga menyediakan menu bakso.

"Saya liat di restoran banyak juga orang-orang Brunei/tempatan yang sudah mulai menyukai bakso," papar mas Adi dalam pesan WA-nya.

Sebelum ke Brunei, mas Adi pada saat awal lulus dari UGM sempat mengajar di SMA Islam 1 Yogyakarta. Mengajar pelajaran matematika dan fisika selama 2 tahun. Kemudian bisnis Warnet di Yogjakarta. Pernah bekerja di provider internet. Sempat mendaftar jadi dosen di sebuah universitas dan diterima, tetapi tidak jadi bergabung. Setelah itu, menjadi diaspora Indonesia di Brunei dan kini membaksokan warga Brunei agar gemar makan bakso.

Mengutip buku "Meraih Mimpi Ke Luar Negeri, 71 Kisah Sukses Diaspora Indonesia di Brunei," Bab 3, Kisah Sukses Diaspora Indonesia di Brunei, ada dikutip dari Hamka:

"Janganlah takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah kedua."

Sukses selalu rekan-rekan diaspora Indonesia di Brunei Darusslam..dan jangan lupa bahagia! Bikin Bangga Indonesia. Brunei Darussalam, 11 Januai 2023.

Kabar dari Brunei, 9-15 Januari 2023.

Karyanto, Founder JamuDigital & Krida Sehat Channel


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU, NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2023. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: