Insentif untuk Riset Pengembangan Industri Jamu dan Fitofarmaka
Tanggal Posting : Senin, 30 September 2019 | 06:01
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 379 Kali
Insentif untuk Riset Pengembangan Industri Jamu dan Fitofarmaka
Kepala Badan POM RI., Penny K. Lukito saat tampil di Program Selamat Pagi Indonesia- MetroTV, hari Sabtu, 28 September 2019, pukul 08.05 WIB.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Badan POM terus menyampaikan pesan tentang komitmennya untuk terus mendorong dan mempercepat pengembangan industri Jamu dan Fitofarmaka sebagai salah satu keunggulan daya saing Indonesia. Termasuk upaya memberikan sejumlah insentif bagi riset pengembangan industri Jamu dan Fitofarmaka.

Demikian antara lain, disampaikan oleh Kepala Badan POM, Penny K. Lukito dalam Program Selamat Pagi Indonesia di MetroTV, pada Sabtu, 28 September 2019 pukul 08.05 WIB. Pada acara wawancara khusus itu, membahas tema "Peran Strategis Badan POM dalam Mendorong dan Memperkuat Obat Tradisional Jamu dan Fitofarmaka."

Berikut ini, transkrip wawancara MetroTV dengan Kepala Badan POM, Penny K. Lukito:

Host MetroTV: Selamat pagi ibu Penny, baik ibu Penny terimakasih sudah menyambut saya dan rekan-rekan saya di kantor BPOM. Ibu kalau kita berbicara terkait dengan Satgas percepatan pengembangan dan pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka ini sebenarnya apa yang menjadi tujuan besar dan siapa stakeholders yang bergabung?

Penny K. Lukito: Selamat pagi, jadi alhamdulillah. Satgas ini baru saja ditandatangani oleh ibu Menko PMK, itu inisiasinya adalah dari Badan POM, dan kita sadari bersama bahwa dengan adanya sistem Jaminan Kesehatan Nasional beban pada pemerintah semakin besar. Beban BPJS dengan kebutuhan obat karena banyaknya penyakit-penyakit yang umumnya disebabkan oleh life style. Ini mengapa, sebenarnya ini adalah gaya hidup yang bisa dicegah.

Jamu adalah salah satu aspek yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat sebagai mendukung kesehatan. Juga selanjutnya apabila Jamu tersebut sudah berkualitas dan kemudian sudah ada pembuktian yang didampingi oleh BPOM dalam bentuk clinical trials itu bisa disebut menjadi Fitofarmaka. Jadi obat berbahan alam, itu kita perlu sama-sama lintas sektor. Untuk itu mengapa Kemenko PMK me-lead.

Walaupun inisiasinya dari Badan POM, karena kami menyadari posisi dari Badan POM yang juga sangat penting dikaitkan dengan tadi membuktikan dengan satu produk obat berbahan alam itu memenuhi aspek keamanan dan manfaatnya. Dan itu tidak bisa ’dimainkan’ oleh Badan POM sendiri. Kalau tadi bahan baku, riset yang sudah memenuhi syarat dan produsen nanti yang akan memproduksinya, dan disitulah nanti kita akan mempertemukan dalam suatu forum yang sifatnya lintas sektor.

Dan juga ada satu hal lagi yang penting, dimana yang harus dibangun. Untuk bisa memotivasi para produsen, peneliti dalam mengembangkan obat berbahan alam dan harus ada insentif yang diberikan oleh pemerintah. Salah satu insentif, contoh kami- Badan POM akan memberi insentif ada jalur hijau, akan ada pendampingan khusus untuk produk-produk obat berbahan alam ini.

Dan juga ada insentif yang dikaitkan dengan pajak, sehingga siapun perusahaan atau institusi yang melakukan riset akan dikurangi pajaknya. Tapi kita perlu juga adanya insentif yang memberikan demand semakin tinggi. Artinya adalah memasukkan dalam daftar obat yang akan dibiayai oleh JKN dalam Formularium Nasional yang masih harus kita buka. Dan ini adalah salah satu upaya kita ke depan.

Host MetroTV: Ok, berbicara mengenai kolaborasi, saya katakan, apakah Badan POM disini berkerjasama dengan Kemenriset-Dikti dalam hal riset?

Penny K. Lukito: Ya.. betul dan dorongan itu juga datang dari Kemenriset-Dikti dan banyak sekali penelitian-penelitian baik di perguruan tinggi di institusi-institusi riset, nah selama ini ada stigma yang dianggap panjang. Karena Badan POM terpisah. Itulah kenapa Satgas ini dengan demikian nanti mulai pada saat riset sudah didampingi oleh Badan POM tinggal percepatan nanti itu. Jadi mulai dari riset sampai nanti ke clinical trials dan aspek jaminan mutu sehingga bisa diproduksi secara komersiil dan kemudian juga sudah dipertemukan nanti siapa produsen yang nanti akan memproduksi. Dan itu sudah ada road map-nya yang besar, kedepan apa jenis-jenis herbal apa akan kita kembangkan.

Host MetroTV: dan kita lihat dari fungsi-fungsi Badan POM ini sendiri, masyarakat melihat Badan POM sebagai badan pengawas. Artinya fungsi pengawasan yang lebih diutamakan, kenapa sekarang sudah merambah lagi kepada fungsi pengembangan terhadap obat tradisional?

Penny K. Lukito: Oh ya itu sangat-sangat terkait. Tetapi tugas-tugas Badan POM sekarang bukan hanya tugas teknis, tetapi juga tugas kemanusiaan tentunya menjadi tugas Badan POM memastikan masyarakat mengkonsumsi hanya produk yang memiliki aspek aman dan berkhasiat, sehingga pendampingan keamanan semua produsen dalam industri obat tradisional ini hanya memproduksi obat yang aman untuk masyarakat.

Ini merupakan salah satu tugas Badan POM. Badan POM juga mendorong industri obat tradisonal tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, artinya mengisi kebutuhan masyarakat untuk obat tradisional yang akan kita bangun yang diisi oleh industri Jamu dan industri Fitofarmaka di Indonesia.

Dan juga sekarang banyak sekali produk-produk illegal. Produk-produk yang diselundupkan dan produk-produk yang dijual secara online. E-commerce yang juga memberikan resiko produk tersebut juga harus mendapat izin edar dari Badan POM. Kalau tidak mendapat izin edar dari Badan POM berarti produk tersebut illegal dan ada kemungkinan mengandung potensi bahan berbahaya dan merugikan kesehatan masyarakat Indonesia.

Host MetroTV: Selain pembentukan satgas, dan tadi ibu juga sedikit menyinggung mengenai pendampingan. Kira-kira upaya-upaya apalagi yang dilakukan oleh Badan POM dalam mendorong obat tradisional Indonesia dan Jamu agar mempunyai daya saing di negeri sendiri?

Penny K. Lukito: Jadi tadi yang sudah saya sampaikan tentang Fitofarmaka- obat yang berbahan alam yang harus dibuktikan dengan uji klinis. Di dalam satgas ini juga ada yang dikaitkan dengan Jamu. Kalau Jamu itu kan upaya preventif kesehatan. Dan itu pada umumnya pelaku usaha Jamu adalah UMKM, sehingga juga intervensi kita beda dengan Fitofarmaka. Untuk itulah, pendampingan satgas ini dilakukan. Nah untuk Jamu sendiri ini adalah untuk aspek preventif kesehatan ada banyak hal. Pertama adalah dikaitkan dengan regulasi, efisiensi kemudahan dalam perizinan terutama ini untuk UMKM.

Kami banyak sekali melakukan proaktif datang ke daerah, bekerjasama dengan pemerintah daerah, kita melakukan pendampingan teknis dan membuka meja pendaftaran disana. Membantu mereka dalam mendaftarkan dan membantu mereka dalam mendapatkan sertifikasi untuk mendapatkan prasarana dan bisa memproduksi Jamu yang aman dan bermutu tersebut. Dan disatu sisi kita juga berkerjasama dengan pemerintah untuk membangun demand. Kita membangun wilayah yang salah satunya ada tempat destinasi wisata Jamu dan itu kita sudah ada salah satu pilot project wisata jamu di Sukoharjo.

Satgas ini adalah satgas percepatan pengembangan dan pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka itu adalah payungnya. Karena pengembangan Jamu dan Fitofarmaka itu perannya banyak. Karena pengembangan Jamu dan Fitofarmaka banyak sekali lintas sektor. Semua program tersebut harus ter-link. Agar kita fokus untuk mendorong industri Jamu dan Fitofarmaka.

Host MetroTV: Ok bu, kalau kita berbicara obat tradisional Jamu atau Fitofarmaka, seperti negara Tiongkok atau India sudah terkenal, tapi kita merujuk dari data awal yang saya bacakan bahwa sumber daya alam kita sangatlah banyak, kalau saya contohkan ini ada di China, seperti acara The 2019 Traditional Chinese (Guansu) Medicine Industry Expo dan di Jepang juga apa yang dilakukan oleh Badan POM di sana?

Penny K. Lukito: Alhamdulillah kami dengan Jepang sudah berkomunikasi dan kami diundang dalam salah satu forum risetnya riset Internasional. Jadi dalam riset tersebut ada 25 negara dan juga salah satunya Universitas Hasanuddin- Indonesia juga masuk kedalam salah satu tim peneliti produk herbal mereka. Dan kami juga diundang untuk men-share pengalaman kita dan tentunya juga ada kerjasama penelitian antara Badan POM dengan industri di sana dan juga otoritas obat tradisional disana, jadi aspek penelitian.

Nah kalau dengan di China itu acara "The 2019 Traditional Chinese (Guansu) Medicine Industry Expo." Pertama-kalinya dalam sejarah produk obat tradisional Indonesia masuk ke dalam pasar China. Karena yang kita kenal kan China ada Traditional Chinese Medicine. Nah kita sudah dipercaya menembus pasar mereka. Dan kedepan harapannya China adalah sebagai target ekspor produk obat tradisional Indonesia. Dan jadi kita membangun di sini tidak hanya untuk kebutuhan kita tetapi untuk di ekspor keluar dan menciptakan destinasi-destinasi ekspor yang baru.

Host MetroTV: Baik kita sudah membahas banyak dari a-z bu, bagaimana upaya BPOM dalam mendorong obat tradisional untuk berdaya saing. Dan kalau kita kaitkan dengan industri yang sekarang. Sekarang industri kan sudah 4.0 di media sekarang industri 4.0 sudah banyak sekali digitalisasi. Apakah sekarang BPOM sudah mulai digitalisasi, dan apakah ini merupakan salah satu digitalisasi?

Penny K. Lukito: Ya betul, dan ini adalah salah satu digitalisasi yang dilakukan oleh BPOM. Kami juga banyak mengembangkan produk digitalisasi dibidang pengamanan, baik pre market dan post market. Sekarang sudah ada E-Registrasi yang transparan dan lebih cepat. Kami juga sudah memasang QR Code dalam produk-produk, dengan demikian konsumen juga bisa terlibat dalam pengawasan karena nanti bisa download aplikasi, scan kalau ada produk ada tidak barcodenya. Kalau tidak ada barcodenya pikir-pikir dulu nih.

Kemudian kalau dicek dulu mungkin juga barcodenya palsu, untuk transparasi dan akuntabilitas kami terus bisa menampilkan data-data pengawasan. Dimana nanti data-data ini menjadi juga alat kami untuk mengambil kebijakan. Apakah nanti menjadi sasaran kita sebagai target pengawasan kebijakan untuk mereview berbagai strategi atau program-program yang kita lakukan.

Host MetroTV: Baik ibu Penny singkat saja, apa yang menjadi harapan dan ekspektasi adanya satgas yang dibentuk ini, supaya nantinya obat tradisional Indonesia bisa dipercaya di negeri sendiri dan di negeri orang?

Penny K. Lukito: Ya tadi sudah kita sampaikan bahwa pengembangan Jamu dan Fitofarmaka sangat-sangat membutuhkan peran lintas sektor yang bersinergi. Mudah-mudahan dengan adanya satgas inilah bisa lebih dipercepat dan itu dibutuhkan kerja kita bersama. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2019. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: