Ingat ! 4 Penilaian Resiko Yang Perlu Diketahui Untuk Menghadapi Ancaman Kesehatan Saat Berwisata
Tanggal Posting : Jumat, 23 September 2022 | 08:52
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 1121 Kali
Ingat ! 4 Penilaian Resiko Yang Perlu Diketahui Untuk Menghadapi Ancaman Kesehatan Saat Berwisata
Generasi Milenial Berwisata Bersama Sahabatnya (Dok.UGM-ObatNews)

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Kami bukan hendak menakuti atau mencegah anda untuk pergi berwisata. Yang perlu kami sampaikan pergi berwisata sebetulnya bisa mengancam kesehatan Anda.

Pada Minggu (10/7), Kagama Health dan sejumlah organisasi lain mengadakan webinar yang berjudul ’Berwisata dengan Aman Untuk Semua Usia - Tinjauan Kesehatan’. 

Salah satu pembicara adalah dosen Ilmu Penyakit Dalam FKKMK UGM, dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D., Sp.PD-KPTI. Dokter Yanri mengatakan terdapat berbagai penyakit saat berwisata dari infeksi dan non-infeksi, yang mengancam wisatawan kalau tidak waspada.

Penyakit-penyakit infeksi dan gejala yang sering terjadi saat berwisata antara lain ialah diare dan masalah gastrointestinal, hepatitis A, malaria, dengue fever/ demam berdarah, infeksi parasit, tuberkolosis, tipes, dan meningitis atau radang selaput otak. 

"Karena itu, salah satu kewaspadaan yang perlu dilakukan adalah mengantisipasi higienis-sanitasi di warung-warung dikunjungi," tutur Dokter Yanri dalam web UGM.  Sementara penyakit non-infeksi neurologis seperti altitude sickness dan decompression sickness. 

Altitude sickness atau mountain sickness adalah penyakit yang ditemui saat melakukan kegiatan pendakian gunung. Altitude sickness (AS) merupakan kumpulan gejala yang terjadi ketika mendaki atau berjalan ke daerah yang lebih tinggi.

Penyakit AS karena kita melakukan pendakian terlalu cepat tapi badan belum punya cukup waktu beradaptasi terhadap tekanan udara dan kadar oksigen rendah. Decompression sickness biasa didapati oleh para penyelam scuba. Penyakit ini muncul ketika tubuh melewati perubahan tekanan air terlalu cepat.

Hal ini mengakibatkan nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang menyumbat pemburuh darah dan jaringan organ. Gejalanya bervariasi tergatung dari lokasi terjadi penyumbatan, misalnya nyeri sendi, pusing, tubuh lemas, sesak nafas. 

Untuk menjaga kesehatan selama berwisata, dokter Yanri menyarankan untuk melakukan risk assessment atau penilaian risiko sebelum melakukan perjalanan. Ada empat bentuk risiko yang harus kita nilai yaitu risiko destinasi, risiko moda transportasi, risiko riwayat penyakit, dan risiko intervensi. 

1.Kita harus mengetahui risiko-risiko penyakit di daerah tujuan wisata kita.

Misalnya, apakah daerah tersebut merupakan endemik malaria ?

Sedang musim apa dan bagaimana cuaca disana ?

Bahaya-bahaya apa saja yang mungkin ditemukan disana ?. 

2.Kita harus jeli terhadap moda transportasi digunakan.

Moda transportasi bisa mengakibatkan kondisi medis dengan berbagai keparahan.

Contohnya, mabuk darat/laut, fobia, nyeri telinga  atau sinusitis. risiko kecelakaan, luka, macet yang harus benar-benar dipertimbangkan. 

3. Kita harus peka terhadap kondisi tubuh apakah mempunyai riwayat penyakit tertentu. 

Hal itu harus benar-benar dipahami sehingga saat melakukan perjalanan dapat mencegah risiko penyakit kambuh. 

4. Untuk mencegah risiko penyakit di daerah destinasi, kita bisa melakukan berbagai bentuk vaksinasi, atau meminum obat tertentu, seperti vaksinasi yellow fever.

Di titik ini, kita harus mewaspadai kondisi tubuh yang tidak toleran kepada vaksinasi dan obat-obatan. Oleh karena itu, perlu pembahasan dan pemahaman bersama antara dokter dan orang yang hendak melakukan perjalanan wisata alam. (Sumber Berita: https://www.obatnews.com/healthy-tourism/pr-4463906373/ingat-4-penilaian-resiko-yang-perlu-diketahui-untuk-menghadapi-ancaman-kesehatan-saat-berwisata?page=3 ).


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU, NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2024. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: