Herbal Indonesia, Saatnya Menjadi Bagian Sistem Kesehatan Nasional
Tanggal Posting : Jumat, 11 September 2020 | 07:22
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 198 Kali
Herbal Indonesia, Saatnya Menjadi Bagian Sistem Kesehatan Nasional
Webinar Pasar Herbal Depok pada Kamis, 10 September 2020. Sidik Mulyono,Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika- Depok dan Karyanto, Founder JamuDigital

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Potensi Obat Herbal Indonesia kini sudah saatnya untu dijadikan dari bagian arus utama Sistem Kesehatan Nasional, mengingat potensi sumber bahan alam untuk obat berlimpah, sehingga dapat menjadi penopang kemandirian nasional.

Demikian antara lain disampaikan oleh Karyanto, Founder JamuDigital saat menjadi pembicara pada webinar "Pasar Herbal Depok" pada Kamis, 10 September 2020 yang diselenggarakan oleh KTF Depok.

Sebagai guest speaker adalah DR. Sidik Mulyono, B.Eng., M.Eng (Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Kota Depok Jawa Barat. Pembicara lainnya yaitu Henny Purnamawati (Jampi Jawi) dengan moderator: Harjianto (Founder KTF).

Pada masa pendemi COVID-19 ini, karena belum ada obat dan vaksinnya, maka meningkatkan daya tahan tubuh- salah satunya dengan memanfaatkan tumbuhan obat dijadikan alternatif unggulan dari masyarakat dunia.

Mengutip data Georgian National Investment Agency tahun 2011, Karyanto menyebutkan bahwa pasar global tanaman obat sekitar USD 60 Miliar. Ini pasar yang besar, dan potensi Indonesia untuk dapat mengekspor obat herbal sangat terbuka luas. Mengingat di Indonesia ada sekitar 9.600 spesies tanaman obat yang terindikasi berkhasiat obat.

Sarjana Farmasi Alumni UGM ini menambahkan bahwa pasar obat tradisional Indonesia pada tahun 2022 sekitar Rp 13,2 Triliun dengan pertumbuhan sekitar 9,8 persen setiap tahun. "Jumlah ini akan meningkat signifikan, jika obat herbal Indonesia dapat masuk dalam Sistem Kesehatan Nasional. Masuk dalam Formularium Nasional. Obat herbal Indonesia masuk dalam skema BPJS," tegasnya.

Jika ini terjadi, Karyanto mengungkapkan ekonomi kerakyatan akan bangkit, sebab petani tanaman herbal akan makin semangat menanam tumbuhan obat, karena kebutuhan nasional meningkat pesat. Pabrik herbal yang sebagian besar UMKM juga akan bergairah memproduksi untuk kebutuhan pengobatan nasional. "Apalagi jika potensi ekspor obat herbal dijadikan projek unggulan oleh pemerintah. Mantab sekali ini," urai Karyanto.

Dari pengalamannya sebagai pengelola media online JamuDigital, yang sering bertemu berbagai stakeholders herbal Indonesia, bahwasannya produk herbal Indonesia sudah dipercaya oleh profesi kesehatan tidak saja di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.

Ditengah COVID-19 ini, Badan POM juga merilis buku panduan penggunaan obat-obat herbal OMAI yang dapat dijadikan pilihan oleh masyarakat. "Saya mengapresiasi langkah ini. Juga Pak Menteri Kesehatan yang sudah terbuka diberbagai media nasional untuk mendukung mengembangkan obat bahan alam asli Indonesia yang kini dikenal sebagai OMAI (Obat Modern Asli Indonesia)," Karyanto mengingatkan.

Berita Terkait: Daftar Obat Modern Asli Indonesia 2020         

Karyanto JamuDigital

Sidik Mulyono mengatakan sangat senang adanya daring bertajuk "Pasar Herbal Depok" ini. Bahasa Inggrisnya "Depok Herbs Market". Jadi tidak ada kesan kalau Jamu itu terbelakang. "Kita kan juga sudah go international juga ya. Apalagi Pak Karyanto bilangkan...Jamu Mendunia itukan tagline yang paling bagus," ungkap Sidik Mulyono semangat.

Semoga produk UMKM Jamu Depok, lanjutnya dapat dimonetasikan, tentunya di era digital ini- kita tidak menggunakan cara-cara lama, sehingga kita dapat berpromosi dengan menggunakan koneksi internet. Bahkan kalau kita lihat, jumlah pengguna internet sekarang ini dua kali lipat dari jumlah penduduk.

"Tentunya ini menjadi peluang dan tantangan bagi Bapak/Ibu sekalian. Peluangnya adalah media sosial menjadi media promosi dan ini sangat potensial sekali bagi kita untuk memanfaatkannya. Sehingga ini termasuk media promosi yang sangat murah, apabila kita mempunyai akses tersebut," Sidik Mulyono menambahkan.

Henny Purnamawati mengisahkan bisnis Jamu Gendongnya meningkat selama masa pandemi ini. Dan akan terus berkreasi menjajakan Jamu racikannya. "Kendalanya Jamu racikan ini tidak tahan lama, dan kami tidak memakai bahan pengawet. Jadi harus menyediakan Jamu yang segar kepada konsumen," ungkapnya sambal menunjukkan Jamu Kunyit Asem- yang termasuk banyak disukai berbagai kalangan. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: