![]() |
| Gerakan Melestarikan Jamu, Warisan Budaya Bangsa perlu terus digemakan diseluruh penjuru Indonesia. |
JamuDigital.Com. PIONER MEDIA ONLINE & MARKET PLACE JAMU INDONESIA. Untuk menjaga agar Jamu sebagai warisan budaya dan aset bangsa Indonesia tetap lestari, diadakan "Gerakan Melestarikan Jamu sebagai Warisan Budaya Bangsa" di GOR Satria Purwokerto, Jawa Tengah, pada Jumat, 21 Februari 2020 yang dihadiri oleh Bupati Banyumas, Ir. Achmad Husein dan pejabat setempat.
Kegiatan ini merupakan salah satu program dalam rangka Hari Ulang Tahun Kabupten Banyumas- Jawa Tengah ke-449 pada tahun 2020 ini, dan juga langkah awal sosialisasi pengembangan wisata kesehatan menuju Banyumas yang bermartabat, sehat dan sejahtera. Demikian dijelaskan oleh Mochamad Subechan, Ketua Umum PPUIN, dan Pimpinan Griya Sehat Nektaria Honey kepada Redaksi JamuDigital.Com.
Jamu sebagai warisan budaya leluhur sudah tidak perlu diragukan lagi khasiat dan manfaatnya, sebelum ilmu kedokteran dikenal di negeri ini. Jamu sudah dikenal sejak abad ke-8. Dokumentasi tertua tentang jamu terdapat pada relief Candi Borobudur pada tahun 772 SM.
Pada relief tersebut ada gambar orang yang sedang mengulek menggunakan cobek serta seorang tabib yang sedang mengobati dan memijat seseorang. Selain itu banyak kitab-kitab yang berisi tentang obat-obatan tardisional seperti Serat Centhini serta beberapa lontar yang ada di beberapa wilayah Nusantara.
Berita Terkait: Problema Mengembangkan Wisata Kesehatan
BeritaTerkait: Sinergi PPUIN Menyehatkan Masyarakat
Tradisi minum jamu diperkirakan telah ada sejak tahun 1.300 pada zaman Kerajaan Mataram. Walaupun jamu dapat juga digunakan sebagai pengobatan, tetapi tradisi ini lebih kepada menjaga kesehatan, mencegah penyakit dengan menerapkan kebiasaan sehat dan digunakan sebagai ramuan untuk menjaga dan merawat kecantikan. Bukti-bukti telah terpahat erat pada batu relief di beberapa candi maupun prasasti peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia, Mochamad Subechan menambahkan.

Keterangan Foto: Bupati Banyumas, Ir. Achmad Husein (bertopi) ikut menyemarakkan minum Jamu bersama untuk Melestarikan Minum Jamu di Indonesia.
Jamu Brand Indonesia
Sangat disayangkan, seiring dengan makin pesat dan majunya perkembangan jaman terutama kemajuan ilmu medis, sedikit banyak telah membuat eksistensi jamu sebagai minuman kesehatan dan penyembuhan semakin tergerus. Hal ini sangat dipengaruhi dengan bermunculannya aneka produk minuman kesehatan modern baik yang berlabel tradisional maupun kimia generik.
Munculnya aneka minuman kesehatan modern dengan berbagai kemasan yang menarik dan iklan yang sangat persuasif di berbagai media dan mampu menawarkan kepraktisan ini telah mengalihkan ketertarikan masyarakat pada jamu. Masyarakat lebih banyak percaya pada aneka minuman kesehatan modern yang menawarkan aneka khasiat mulai dari penyembuh penyakit, sampai penambah stamina. Meskipun tidak ada jaminan minuman kesehatan yang ditawarkan itu benar-benar alami, berkhasiat atau tidak.
Demikian juga industri obat tradisional di Indonesia masih tertinggal dari negara lain seperti Tiongkok dan India. Tiongkok yang hanya memiliki 13.000 jenis tanaman obat, mampu membuat lebih dari 100.000 resep obat tradisional. Indonesia sebagai negara yang memiliki sekitar 30.000 jenis tanaman obat, seharusnya memiliki lebih banyak resep obat tradisional dengan potensi nilai industri yang jauh lebih besar dibandingkan negara lain.
Walaupun sudah banyak bukti bahwa beberapa ramuan jamu teruji secara klinis, namun hingga saat ini masih banyak kalangan yang apriori terhadap jamu. Dipelopori oleh Badan Litbangkes dan Komisi Nasional Saintifikasi Jamu, melalui penelitian berbasis pelayanan, dengan mengambil ribuan sampel yang berpusat di Klinik Hortus Medicus Tawangmangu, dan dibantu berbagai klinik saintifikasi jamu yang tersebar di seluruh Indonesia, telah dibuktikan secara ilmiah, beberapa ramuan jamu, terbukti bermanfaat dan mempunyai efek mengurangi dan menyembuhkan gangguan kesehatan, menyehatkan serta aman bagi manusia.
Pemerintah Republik Indonesia telah mencanangkan "Jamu Sebagai Brand Indonesia" pada tahun 2008, yang dinyatakan oleh Presiden RI. ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Kemudian Presiden RI., Jokowi pada awal masa kepemimpinannya, juga menyatakan bahwa beliau menggunakan jamu untuk memelihara kesehatannya.
"Sayangnya implementasi dari seruan dan tauladan yang diberikan oleh dua Kepala Negara tersebut, belum sepenuhnya diiukti oleh masyarakat luas," ujar Mochamad Subechan. Redaksi JamuDigital.Com.








