Ekspor Pinang Biji Mencapai Rp. 5 Triliun. OMAI Juga Memiliki Potensi Besar Masuk Pasar Global
Tanggal Posting : Sabtu, 9 April 2022 | 14:07
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 219 Kali
Ekspor Pinang Biji Mencapai Rp. 5 Triliun. OMAI Juga Memiliki Potensi Besar Masuk Pasar Global
Hingga kini, OMAI telah diresepkan oleh lebih dari 17.000 dokter Indonesia, dan dokter manca negara.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Menurut Presiden Jokowi, pada tahun 2021, ekspor Pinang Biji di seluruh Tanah Air mencapai lebih dari Rp. 5 triliun. Jumlah tersebut merupakan angka yang sangat besar dan memberikan pendapatan yang sangat baik bagi para petani.

Di sektor Obat Herbal, Indonesia juga memiliki potensi yang besar untuk diekspor ke pasar global, karena obat herbal tersebut sudah melalui uji klinis sehingga terbukti khasiatnya, yaitu Obat Modern Asli Indonesia, Kategori Fitofarmaka.

Potensi ini, juga perlu mendapat atensi dari pemerintah, agar ke depan makin banyak komoditas alami Indonesia masuk ke pasar dunia.

Pada Kamis, 7 April 2022, Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Iriana Joko Widodo melepas komoditas Pinang Biji untuk diekspor ke Pakistan.

Menurut Presiden, Pinang Biji adalah komoditas yang dibutuhkan di sejumlah negara dan Provinsi Jambi merupakan salah satu provinsi penghasil pinang di Indonesia.

Di seluruh Tanah Air ada 152 ribu hektare lahan kita yang ditanami pohon Pinang, dan 22 ribu hektarenya berada di Provinsi Jambi. Ini komoditas ekspor yang banyak dibutuhkan di Thailand, Iran, India, China, Pakistan.

Sebanyak tujuh kontainer Pinang Biji seberat 126 ton dengan nilai ekonomi mencapai Rp. 4,069 miliar, dilepas oleh Kepala Negara untuk diekspor ke Pakistan. Kementerian Pertanian mencatat ekspor komoditas pinang Jambi pada Januari s.d. Maret 2022 sebanyak 17.174 ton dengan nilai mencapai Rp. 416,4 miliar.

"Kita harapkan ini akan menjadi salah satu juga komoditas unggulan kita kalau kita kelola dengan manajemen modern, manajemen yang lebih baik," tandasnya.

Peluang Besar OMAI Menembus Pasar Global

Jokowi dan Ferry Soetikno 2019

Keterangan Foto: Presiden RI., Joko Widodo saat berkunjung ke Booth Dexa Group pada Event IAID (Indonesia Africa Infrastructure Dialogue) 2019 mendapat penjelasan dari Pimpinan Dexa Group, Ferry Soetikno. Dexa Group merupakan Pioner Produsen Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang sukses dipasarkan di Indonesia dan pasar global. Foto: Dok. Dexa Group.

Dexa Group merupakan pioner produk obat herbal yang teruji klinis (Fitofarmaka) yang kini dikenal luas sebagai Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). 

Dexa Group memiliki total 48 jenis produk dari bahan alami, terdiri atas 26 Obat Herbal Terstandar (OHT) dan 22 Fitofarmaka.

Pengembangan OMAI di Dexa Group telah dimulai pada tahun 2005. Produk OMAI yang dihasilkan Dexa Group telah mendapat dukungan penggunaannya oleh dunia kedokteran. Hingga kini telah diresepkan oleh lebih dari 17.000 dokter di Indonesia, dan manca negara.

OMAI sudah diresepkan oleh para dokter di ASEAN, antara lain: di Filipina dan Kamboja.

Total OHT yang terdaftar di Badan BPOM sebanyak 99 nomor izin edar (NIE), dan total jumlah Fitofarmaka terdaftar berjumlah 35 NIE. 

Pemerintah sebetulnya telah memberikan dukungan memasukkan OMAI ke dalam panduan  tatalaksana penanganan pasien COVID-19, yaitu Informatorium OMAI yang diterbitkan oleh Badan POM.

Namun, pengembangan ke depan akan sangat bergantung pada penguatan hilirisasi dengan memasukkan OMAI ke dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jika ini dilakukan, maka pasar Fitofarmaka akan terbuka, sehingga memberi stimuli lebih banyak investasi dan pengembangan OMAI.

Potensi biodiversitas Indonesia yang tercatat nomor dua di dunia, akan menjadi potensi ekspor obat herbal yang lebih besar di masa darang. Sebanyak 10 persen dari total spesies tumbuhan di dunia ada di Indonesia.

Akan tetapi, saat ini Indonesia masih menduduki peringkat ke-19 pengekspor obat herbal dunia atau sekitar 0,61 persen.

Indonesia tertinggal jauh dibandingkan Belanda yang berada di peringkat ke-3 dengan persentase ekspor 6,05 persen.

Pengembangan fitofarmaka atau OMAI sangat mungkin untuk menggantikan bahan baku obat (BBO) kimia yang lebih dari 90 persen masih diimpor.

Ketergantungan industri farmasi yang tinggi terhadap BBO impor menjadikannya rentan jika terjadi guncangan eksternal, seperti dialami pada awal masa pandemi COVID-19.

Hilirisasi OMAI ke dalam JKN, akan membuka peluang OMAI tidak saja berkembang di pasar dalam negeri, namun juga akan berkembang pesar ke pasar global. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: