Dokter Pelopor Resepkan OMAI, Fornas Khusus OMAI Sedang Dikaji
Tanggal Posting : Senin, 21 Desember 2020 | 17:54
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 207 Kali
Dokter Pelopor Resepkan OMAI, Fornas Khusus OMAI Sedang Dikaji
Dialog Nasional Efek COVID-19 Urgensi Ketahanan Sektor Kesehatan- diadakan KompasTV, pada Senin, 21 Desember 2020, dipandu Rosi Silalahi, Pemimpin Redaksi KompasTV.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) dapat menjadi solusi strategis mengurangi beban neraca perdagangan, untuk itu perlu gerakkan moral mengenalkan dan menggunakan OMAI. Secara regulasi, OMAI dimasukkan OMAI dalam sistem JKN, dan para dokter menjadi pelopor untuk meresepkannya.

Pemerintah kini juga sedang mengkaji untuk menerbitkan Formularium Nasional (Fornas) Khusus untuk OHT (Obat Herbal Terstandar) dan Fitofarmaka. Demikian intisari Dialog Nasional Efek COVID-19 Urgensi Ketahanan Sektor Kesehatan- yang diadakan oleh KompasTV pada Senin, 21 Desember 2020, dipandu oleh Rosi Silalahi, Pemimpin Redaksi KompasTV.

Menteri Riset dan Teknologi RI., Bambang Brodjonegoro menegaskan kunci pengembangan OMAI di masa depan ada dua: Pertama, secara regulasi dimasukkan ke dalam JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Kedua, Dokter Indonesia menjadi pelopor meresepkan obat herbal Fitofarmaka.

"Harus ada gerakkan moral untuk mengenalkan dan mendukung penggunaan OMAI," tegas Bambang Brodjonegoro.  Jika OMAI masuk JKN, lanjut dia, maka peluang dikenal, peluang dipakai/dikonsumsi akan meningkat, dan ini akan menjadikan demand OMAI meningkat. Maka para industri obat akan semangat melakukan riset karena pasarnya sudah jelas.

"OMAI juga akan menjadi cara strategis untuk mengurangi beban neraca perdagangan, juga adanya trend industri farmasi dunia yang sudah mulai menggunakan bahan baku herbal dalam memproduksi obat. Maka harus ada keberpihakkan pemerintah untuk memakai OMAI," tambahnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI., drg. Oscar Primadi, MPH mengatakan bahwa saat ini sedang dikaji Formularium Nasional (Fornas) Khusus-Fornas tersendiri untuk OHT dan Fitofarmaka.

Juga perlunya ada kurikulum khusus tentang OMAI yang dijadikan rujukan dalam pembelajaran pada  proses pendidikan para calon dokter dan juga dimasyarakatkan kepada khalayak luas.  Sebenarnya, ada Dana DAK dan Kapitasi JKN dapat dialokasikan untuk membeli OHT dan Fitofarmaka.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan- Kemenko Marves, Septian Hario Seto mengatakan dari sisi industri, dimasukan saja dulu OMAI dalam JKN, nanti akan fight dengan obat-obatan sintesa kimia.

"Minggu lalu sudah saya laporkan kepada Pak Menko Marves terkait permasalahan ini. Pak Menko mengusulkan, ini didorong saja dulu masuk. Jadi nanti diberikan kesempatan untuk produsen-produsen Fitofarmaka masuk ke dalam JKN," Septian Hario Seto memaparkan.

Karena kalau pintunya kita tutup dari awal, lanjut dia, tidak kita kasih masuk padahal level yang sama- pasti tidak dapat berkembang. Jadi rencananya, awal tahun 2021 Pak Menko Marves bilang akan mengadakan rakor khusus tentang hal ini.

Menristek dan OMAI

Berita Terkait: Flagship OMAI Masuk Sistem JKN dan Potensi Mendunia 

Berita Terkait: Buku Pedoman OMAI dan Herbal Saat COVID-19 

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam menjelaskan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong terwujudnya kemandirian dan peningkatan daya saing industri farmasi dalam negeri.

"Hal ini sejalan dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan yang menegaskan perlu segera diwujudkannya kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di bidang farmasi," ujarnya.

Deputi Bidang Pengawasan OT Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM, Dra. Reri Indriani, Apt., M.Si, menyebut sejumlah kendala OMAI, antara lain: Belum masuk Fornas, Kendala biaya riset yang besar, Kendala CUKB-Cara Uji Klinik yang Baik, Kendala ketersediaan bahan baku dari skala uji laboratorium menjadi scale up skala industri, dan dan tenaga kesehatan juga belum dikondisikan untuk memanfaatkan Fitofarmaka.

"Badan POM terus mengawal riset-riset fitofarmaka, antara lain melalui Satgas Fitofarmaka. Memberikan percepatan, namun tetap memperhatikan protokol," ujar Reri Indriani.

Anggota Komisi IX DPR RI., Anggia Erma Rini, MKM mengatakan bahwa pemanfaatan obat herbal, sangat dirasakan oleh para petani yang menanaman tanaman obat. Apalagi saat pandemi COVID-19 ini, petani yang menanam tanaman obat seperti Jahe Merah, Temulawak, Meniran sangat gembira karena panen mereka terjual laris.

Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM,FACP mengungkapkan jangan terlalu pesimis para dokter Indonesia tidak mau meresepkan obat herbal. "Kami senang meresapkan obat herbal Indonesia. Saya meresepkan OHT dan Fitofarmaka," ujarnya.

Para ketua-ketua perhimpunan doker sebagai key opinion leader (KOL), lanjut dia, siap membantu untuk kemandirian obat Indonesia. OMAI merupakan kata-kata yang tepat untuk memposisikan obat herbal, yang asli dari Indonesia. "Saya percaya, pada waktunya nanti, Fitofarmaka akan diterima oleh masyarakat dan dapat di ekspor."

Pendiri PDHMI, dr. Hardhi Pranata, Sp.S, MAR mengisahkan bahwa dokter-dokter yang memberikan resep obat herbal kepada pasien akan dinilai inovatif dan akan banyak didatangi pasien. Untuk itu, para dokter tidak perlu ragu meresepkan obat herbal.

Namun, memang diperlukan edukasi kepada para dokter tentang herbal medik, sehingga perlu adanya blok herbal dalam proses pembelajaran di fakultas kedokteran. "Pemilihan kata OMAI, merupakan strategi yang jitu dan cerdas, karena mengandung kata Obat Modern, dan Asli Indonesia. Saya harapkan OMAI ini dapat segera dimasukkan dalam JKN," tegas Dokter Hardhi.

Molecular Pharmacologist, Dr. Raymond Tjandrawinata menjelaskan trend penggunaan obat herbal oleh tenaga kesehatan diberbagai dunia terus meningkat, sayangnya di Indonesia masih sangat kecil. Untuk itu, selain OMAI dapat segera masuk ke dalam sistem JKN, maka perlu menambah Katalog OMAI- yang saat ini baru sekitar 80 produk, diharapkan pada setahun ke depan dapat menjadi 200 produk.

Di Jerman dokter-dokter yag meresepkan herbal sudah mencapai 50%, di Korea sudah sekitar 17-18%, di Taiwan sekitar 20%.

"Dengan makin banyaknya katalog produk OMAI, maka para dokter akan semakin banyak pilihan untuk meresepkan OMAI," ungkap Raymond Tjandrawainata. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: