Dekan Farmasi UGM: Masa Depan Jamu Menjanjikan
Tanggal Posting : Jumat, 6 November 2020 | 07:23
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 205 Kali
Dekan Farmasi UGM: Masa Depan Jamu Menjanjikan
Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Agung Endro Nugroho, M.Si., Ph.D: Issue di bidang obat adalah kemandirian Bahan Baku Obat Nasional.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Masa depan Jamu menjanjikan, dengan memperhatikan langkah inovatif pengembangannya, antara lain: Inovasi pengembangan obat tradisional dan pengobatan tradisional, Peningkatan eksistensi obat bahan alam pada sistem pelayanan kesehatan, Pengembangan riset dan hilirisasi bahan alam terintegrasi, Penguatan konsep pentaheliks, dan Pencegahan faktor yang mengurangi pamor Jamu.

Demikian dikemukakan oleh Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Agung Endro Nugroho, M.Si., Ph.D., Apt. pada Webinar "Seminar Tumbuhan Obat Indonesia dan Pelayanan Kesehatan Tradisional, POKJANAS TOI ke-58, Perkembangan Obat Tradisional Indonesia di Era Society 5.0", pada Rabu, 4 November 2020.

Memaparkan makalah berjudul: "Masa Depan Jamu Indonesia", Prof Agung Endro Nugroho mengemukakan sejumlah permasalahan yang perlu perhatian pada pengembangan obat, yaitu:

  • Sebesar 95% bahan baku obat masih impor, meskipun Indonesia merupakan negara dengan biodiversitas terbesar kedua di dunia dan jumlah PTF sebanyak 270.
  • Belum ada obat komersial hasil proses sintesis dan saat ini hanya mempunyai 62 produk OHT dan 24 fitofarmaka, tidak semua diresepkan oleh dokter.
  • Hanya sekitar 300 spesies tanaman yang digunakan sebagai bagian dari penelitian dan pengembangan obat tradisional.
  • Studi dalam pengembangan produk alami atau herbal masih belum sepenuhnya komprehensif dan sistematis.
  • Sinergi antara Perguruan Tinggi, pemerintah dan industri masih belum optimal.
  • Pencampuran Obat Bahan Alam atau Obat Tradisional dengan Bahan Kimia Obat (BKO).
  • Perlu perubahan strategi dan inovasi dalam regulasi dan pengembangan obat bahan alam.

"Issue di bidang obat adalah kemandirian Bahan Baku Obat Nasional," ungkap Prof. Agung Endro Nugroho.

Berita Terkait: Peran Tenaga Kesehatan Pada Pengembangan OT 

Berita Terkait: Rekomendasi Perbaikan Sistem Pelayanan Kesehatan 

Langkah Inovatif Pengembangan Obat Tradisional, lanjut Prof, Agung Endro Nugroho, antara lain:

  • Inovasi pengembangan obat tradisional dan pengobatan tradisional (formulasi, teknologi, sediaan, penyajiaan, café jamu).
  • Percepatan atau inovasi registrasi dan birokrasi pada pendaftaran obat tradisional dan layanan lain (E-registrasi ASROT, pelayanan public dengan Online Single Submission)
  • Program percepatan fitofarmaka
  • Pengembangan riset dan hilirisasi obat tradisional atau bahan alam terintegrasi (pengembangan teaching industry, mini production laboratory)
  • Penguatan konsep pentaheliks (pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media)
  • Pencegahan hal-hal yang mengurangi pamor obat tradisional (pencampuran obat bahan alam atau obat tradisional dengan bahan kimia obat BKO)

Pengembangan ekosistem riset dan hilirisasi produk terintegrasi. Tri Dharma PT: Pendidikan & Kemahasiswaan, Penelitian, Pengabdian Masyarakat. Akselerator: Pusat Inovasi Akademik, Pusat Studi, Pusat Kajian/Group Riset, Laboratorium Riset Terpadu, Mini Factory Lab, Kolaborasi Interdisipliner.

Penunjang Hilirisasi Produk Implementasi Ilmu: Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi, Direktorat Pengabdian Masyarakat, Teaching Industry, Unsur lain.

Pencegahan hal-hal yang mengurangi pamor obat tradisional: Penambahan bahan baku obat (BKO) supaya efeknya cepat terasa tanpa melihat efek samping atau efek toksisnya. Ada pandangan bahwa efek obat tradisional adalah lambat sehingga secara market kurang menguntungkan. Jamu harus berbahan tumbuh-tumbuhan alami tidak boleh dicampur zat sintetis atau zat kimia.

Tantangan: Indonesia Penyedia Bahan Baku Herbal Terbesar Kedua di Dunia. Obat tradisional Indonesia masih sulit tembus ekspor, produk jamu dan obat tradisional asal Indonesia masih sulit menembus pasar ekspor.

Indonesia setidaknya memiliki 30.000 spesies tumbuhan obat dari total 40.000 spesies yang ada di seluruh dunia. Angka itu menunjukkan melimpahnya bahan baku untuk mengembangkan industri Jamu dan obat tradisional.

Namun, melimpahnya bahan baku Jamu belum membuat Indonesia leluasa menembus pasar ekspor, Prof. Agung Endro Nugoroho menegaskan. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: