Dari Lockdown ke Herd Immunity: Model Indonesia
Tanggal Posting : Rabu, 27 Mei 2020 | 06:39
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 387 Kali
Dari Lockdown ke Herd Immunity: Model Indonesia
Lima Faktor tentang penyebab terjadinya proses herd immunity. Masing-masing negara memiliki karakter yang berbeda.

JamuDigital.com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Pandemi COVID-19 di Indonesia sedang memasuki fase baru, dimana mulai disiapkan fase: new normal di berbagai wilayah dengan mulai membuka sejumlah fasilitas publik- seperti pusat perbelanjaan. Masyarakat harus tetap disiplin menjalankan social distancing karena pandemi ini- sebenarnya belum berakhir.

Berikut ini, artikel berjudul "Perubahan Strategi Dari Lockdown ke Herd Immunity: Model Indonesia" yang ditulis oleh Randy R. Wrihatnolo- yang dimuat di www.farmasetika.com (https://farmasetika.com/2020/05/26/perubahan-strategi-dari-lockdown-ke-herd-immunity-model-indonesia/)

MIT Technology Review menerbitkan artikel menyatakan pada dasarnya ada 3 cara untuk menghentikan pandemi Covid19 untuk selamanya.

Pertama: melibatkan pembatasan pada pergerakan manusia. Variasinya mulai pembatasan ringan, sampai terberat yang dikenal lockdown. Tujuannya untuk menghentikan transmisi virus sepenuhnya. Namun, ini sulit mengingat pandemi telah berjangkit di 178 Negara dan di Indonesia sudah menyebar di 34 provinsi dan 154 kabupaten/kota.

Kedua: penggunaan vaksin. Tujuannya melindungi semua orang. Tetapi vaksin Covid-19 masih perlu dikembangkan dan tampaknya tidak tersedia cukup dalam waktu dekat.

Ketiga: herd immunity. Tujuannya membiarkan orang tertular sampai mendapatkan kekebalan virus. Jika virus terus menyebar, pada akhirnya banyak orang yang akan terinfeksi dan jika mereka bertahan hidup maka menjadi kebal sehingga wabah akan hilang dengan sendirinya, karena kuman menemukan semakin sulit untuk menemukan inang yang rentan.

Kasus Indonesia. Strategi lockdown model Indonesia yang disebut PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dinilai kurang berhasil dilakukan di Indonesia maka strategi akan dialihkan ke arah herd immunity. Setelah Idul Fitri Pemerintah bisa jadi tidak lagi meng-update jumlah yang tekena Covid-19. Per 23 Mei 2020 ini yang terdeteksi sudah 22 ribu lebih, ditambah yang PDP, ODP, dan OTG sudah mencapai 500 ribuan orang.

Kemungkinan dalam waktu dekat akan diberlakukan herd immunity, artinya menyerahkan rakyat pada seleksi alam, yang kuat bertahan kemudian immun, yang lemah akan wafat dengan sendirinya.

Herd Immunity Menjadi Pilihan Terakhir. Dari berbagai sumber herd immunity mengacu pada situasi dimana cukup banyak orang dalam satu populasi yang memiliki kekebalan terhadap infeksi sehingga dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Sambil menunggu vaksin, yang tidak mungkin dalam waktu dekat karena paling cepat 1 tahun. Maka pilihan terakhir adalah menerapkan strategi herd immunity dengan cara menginfeksi penduduk secara langsung, yaitu dengan membiarkan sampai 70% populasi terinfeksi Covid19 sehingga akan mendapatkan kekebalan antibodi secara alami.

Dari kemungkinan infeksi ini hanya 2 hal yang akan terjadi, yaitu: 1. Individu akan bertahan hidup, kebal terhadap penyakit; atau, 2. Individu akan wafat karena tidak kuat.

Herd immunity yang pelan-pelan akan dilakukan -meski nantinya tidak akan dibilang herd immunity secara langsung- tapi kita akan mulai merasakannya. Ketika itu yang sadar paham betul arahnya herd immunity, yang tidak sadar akan mengira Covid-19 sudah selesai padahal masih membara.

Herd Immunity Model Indonesia. Perlahan strategi herd immunity sudah menerap di beberapa wilayah di Indonesia. Pertokoan, area pasar, transportasi dibuka walau dengan protokol kebersihan dan kesehatan yang tinggi. Lalu perlahan sekolah mulai dibuka. Perlahan perkantoran dan aktivitas massal mulai diperbolehkan aktif kembali.

Herd immunity mempunyai dampak negatif dan positif. Dampak negatifnya: 1. Akan kehilangan penduduk lebih dari separuh populasi; 2. Hal menyebabkan kematian massal; 3. Sehingga akibatnya rumah sakit dan fasilitas kesehatan akan super kewalahan.

Dampak positifnya: 1. Pandemi akan cepat berakhir; 2. Situasi melahirkan terbentuknya individu baru yang lebih kebal, beradaptasi dengan penyakit baru; dan 3. Perkembangan perekonomian tidak terhambat.

Sehingga akan muncul individu "baru" yang kuat, dengan gaya hidup yang bagus, berdaya tahan tubuh yang baik, maka akan kebal dengan penyakit Covid19 ini. Sebaliknya, individu yang tidak punya sistem kekebalan tubuh baik dengan faktor resiko penyakit penyerta (komorbid) maka akan tereliminasi alias wafat.

Bertahan di Masa Herd Immunity. Terdapat beberapa cara agar bisa bertahan menjadi individu "baru" selama herd immunity.

Pertama: PERUBAHAN GAYA HIDUP. Individu memulai perhatian besar pada kebersihan, membiasakan berolahraga, mengkonsumsi makan makanan dan minuman sehat, dan mulai rajin mengasup vitamin.

Kedua: HIDUP SEHAT. Individu harus mengubah lingkungan hidup menjadi lebih sehat. Pembiasaan pemakaian masker, menghindari kerumunan, sering mencuci tangan memakai sabun atau hand sanitizer, dan juga menjaga lingkungan lebih higienis. Akhirnya, perlahan manusia Indonesia akan berevolusi menjadi manusia "baru" yang berhasil mengalami seleksi alam menjadi lebih adaptif.

Sumber:

  • Hellosehat: https://hellosehat.com/coronavirus/covid19/apa-itu-herd-immunity/
  • Tempo: https://dunia.tempo.co/read/1345310/swedia-terapkan-herd-immunity-virus-corona-bagaimana-hasilnya/full?view=ok
  • Detik.com: https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-5026521/malam-takbiran-pasar-di-surabaya-ramai-pembeli-yang-abai-dan-tak-bermasker

Penulis : Randy R. Wrihatnolo (Tulisan sepenuhnya merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak membawa nama dan/atau mencerminkan pandangan institusi manapun). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: