Dampak Positif: OHT dan Fitofarmaka Masuk BPJS
Tanggal Posting : Rabu, 9 Desember 2020 | 09:44
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 667 Kali
Dampak Positif: OHT dan Fitofarmaka Masuk BPJS
OHT dan FF dapat masuk BPJS, jika ada goodwill dan perubahan evaluasi Formularium Nasional, agar OHT dan FF- local content >90% sebagai adjuvant/conjunction therapy pasien BPJS.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Banyak dampak positif jika OHT (Obat Herbal Terstandart) dan Fitofarmaka masuk pada sistem BPJS, antara lain: penigkatan demand, encouraging industri untuk riset, kemandirian obat dari bahan alam, kontribusi profit untuk produsen.

Demikian dipaparkan oleh Chief Business Development and R&D PT. Deltomed Laboratories, apt. Drs. Victor S. Ringoringo, S.E., M.Sc. khusus kepada Redaksi JamuDigital.Com pada Rabu, 9 Desember 2020.

Menurut Victor S. Ringoringo bahwa OHT dan Fitofarmaka dapat mengatasi gap yang tidak dapat diisi oleh jamu. Dengan adanya Uji Pra Klinik dan Klinik, maka clinical evidence sudah dapat digunakan sebagai preferensi oleh dokter. Tinggal bagaimana mengkomunikasikan hasil saintifik ini kepada profesi tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan.

"Sampai saat ini tidak ada kendala yang berarti dalam produksi OHT dan Fitofarmaka. Hanya saja concern Industri Obat Tradisional sangat mengandalkan supplai bahan baku/simplisia yang berkualitas. Sehingga standarisasi ekstrak dan produk jadinya dapat konsisten dipenuhi. Identifikasi kualitatif dan penetapan kuantitatif dari salah satu marker harus konsisten," ungkap apoteker Alumni Farmasi UGM ini.

Agar OHT dan Fitofarmaka dapat masuk BPJS, lanjutnya, harus ada goodwill dan perubahan sistem evaluasi Formularium Nasional/Fornas, agar OHT/FF yang local content- nya >90% dapat digunakan sebagai adjuvant/conjunction Therapy pasien BPJS.

Berita Terkait: Catatan Penting Potensi Obat Tradisional 

Berita Terkait: Presiden Jokowi, Jadikan Keragaman Hayati, Kebangkitan Industri Obat 

Banyak dampak positif, jika OHT dan Fitofarmaka masuk BPJS, antara lain:

  • Ada peningkatan sisi demand.
  • Meningkatkan turn-over.
  • Ada kontribusi profit bagi Industri Obat Tradisional
  • Encouraging Industri Obat Tradisional untuk terus meniliti dan mengembangkan OHT dan Fitofarmaka baru.
  • Ada jaminan dan peluang agar investasi yang besar dapat kembali dalam jangka pendek.
  • End-pointnya akan dapat mengisi kemandirian obat dari alam secara bertahap, sambil menunggu pengembangan dan kemandirian untuk API sintesa kimia.

"Secara bertahap dan pasti akan dicapai kemandirian nasional API dari bahan alam. Paling tidak bisa menghemat devisa karena ada substitusi sebagian kebutuhan impor dari produksi lokal bahan alam," tegasnya.

Tiongkok (TCM), India (Ayurveda), German, Finlandia dan beberapa negara Eropa lainnya termasuk relatif tinggi dalam penggunaan herbal medicines yang standaradized. Mungkin belum semuanya tergolong Fitofarmaka, mungkin masih sejajar OHT. Paling tidak safety profile/ toksisitasnya diketahui dan aman digunakan jangka pendek dan jangka panjang.

Selain itu, dalam pengamatan Victor S. Ringoringo bahwa Budidaya, panen, pasca-panen, standarisasi simplisia, dan suplai bahan baku obat tradisional yang kontinu perlu segera dibantu dan difasilitasi Pemerintah agar pengembangan Fitofarmaka dapat direalisasikan sesuai sasaran yang ditetapkan Pemerintah.

Pemilihan Fitofarmaka harus mempertimbangkan kelas terapi, besarnya pasar, tingkat kompetisi, serta harga yang bersaing. Sehingga pemilihan simplisia yang tepat, mudah didapat, harga ekonomis, merupakan faktor penting untuk menghasilkan produk Fitofarmaka dengan harga yang terjangkau dan bersaing.

Industri Obat Tradisional (IOT) harus secara strategis menentukan apakah akan berbisnis di segmen produk promotif dan preventif atau juga akan masuk ke segmen kuratif dengan produk Fitofarmaka.

IOT perlu mempertimbangkan untuk mengalokasikan dana investasi marketing yang memadai untuk aktivitas promosi ke tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan apabila memutuskan untuk mengembangkan produk Fitofarmaka.

"Penelitian dan Pengembangan Fitofarmaka memerlukan kolaborasi dengan institusi dan tenaga ahli yang kompeten untuk Uji Praklinik dan Uji Klinik. Oleh karena memerlukan biaya yang besar, sehingga perlu kolaborasi dengan kemitraan ABGCI," kata Victor S. Ringoringo. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: