Catatan Awal 2023: Kemandirian dengan Pemanfaatan Obat Teruji Klinis di Pelayanan Kesehatan
Tanggal Posting : Minggu, 1 Januari 2023 | 09:53
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 94 Kali
Catatan Awal 2023: Kemandirian dengan Pemanfaatan Obat Teruji Klinis di Pelayanan Kesehatan
Formularium Fitofarmaka, Peta Jalan Obat Herbal Digunakan di Pelayanan Kesehatan

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Sejatinya upaya Kemandirian Obat Nasional telah secara sistematis diprogramkan, setidaknya dalam satu dasawarsa ini.Hasrat Indonesia yang semakin mandiri dibidang Kefarmasian, sudah menjadi perhatian dari para stakeholders terkait. Dari Pemerintah, Pengusaha, Periset-Akademisi, Komunitas Kesehatan dan Media!

Berikut ini Catatan Kemandirian Farmasi Indonesia oleh Founder JamuDigital, Karyanto.

Pandemi COVID-19, bolehlah kita sebut sebagai faktor pemicu disrupsi, bersamaan dengan era digital yang mampu mengubah terjadinya perubahan pola gaya hidup, dan sejumlah pranata kehidupan sosial lainnya.

COVID-19 menyadarkan kita semua, bahwa memiliki tubuh yang sehat dengan kemampuan imunitas tubuh yang baik- dapat menjadi perisai ketika ada penyakit yang belum ditemukan obatnya yang spesifik.

Saat awal-awal COVID-19 berjangkit, maka pilihan di seluruh dunia adalah meningkatkan sistem imun tubuh. Maka mendadak suplemen, herbal dan obat tradisional- seperti Jamu menjadi laris manis!

Bahkan, banyak produsen Jamu panen cuan karena mendadak omzetnya melejit. Brand Jamu ikut berkibar.

Indonesia sebagai negara mega biodiversitas, sudah seharusnya fokus dulu di dalam pengembangan obat yang berbasis dari kekayaan sumber daya alam! Dengan tetap, mengupayakan kemandirian sektor farmasi dari produk obat yang berbasis kimia- dengan catatan Indonesia belum kuat industri kimia dasarnya.

Jika fokus pengembangan obat herbal, maka sumber bahan bakunya melimpah, namun tetap memiliki problem dalam hal standarisasi sumber bahan baku obat alami, karena belum menjadikan kultivasi tanaman obat sebagai pondasi- pada aspek penyediaan bahan baku obat herbal.

Kementerian Kesehatan pernah menerbitkan buku "Mewujudkan Akses Dan Kemandirian Farmasi Dan Alat Kesehatan Yang Bermutu 2012-2018". Saat itu eranya Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek.

Dalam buku tersebut, Nila Moeloek menyebutkan bahwa Program Indonesia Sehat merupakan bentuk pelaksanaan Nawacita ke-5, dengan sasaran dari program ini adalah meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan.

Program Indonesia Sehat terdiri dari tiga pilar, yaitu: 1.Paradigma Sehat; 2. Penguatan Pelayanan Kesehatan; dan 3. Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan berperan dalam mendukung Program Indonesia Sehat, dalam hal menjamin akses, kemandirian dan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan.

Jadi, kemandirian sektor Kefarmasian, sudah menjadi program Kementrian Kesehatan sejak satu dasawarsa yang lalu.

Gaungnya terus menguat untuk mewujudkan Kemandirian Obat, Bahan Baku Obat, dan Alat Kesehatan. Salah satunya dengan dikeluarkannya INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 6 TAHUN 2016, Tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, Melibatkan 12 Kementerian dan Lembaga.

Lembaga negara tersebut agar mengambil langkah-langkah sesuai tugas, fungsi dan wewenang untuk mendukung percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan dengan tujuan:

  • Menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan alat kesehatan
  • Meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan
  • Mendorong penguasaan teknologi dan inovasi
  • Mempercepat kemandirian dan pengembangan produksi

Dari instruksi Presiden tersebut, maka Kementerian Kesehatan menetapkan 7 INSTRUKSI UNTUK KEMENKES:

  1. Menyusun dan menetapkan rencana aksi untuk pengembangan industri farmasi dan alkes
  2. Memprioritaskan penggunaan produk sediaan farmasi dan alkes dalam negeri melalui e-catalogue
  3. Memfasilitasi pengembangan industri farmasi dan alkes ke arah biopharmaceutical, vaksin, natural, dan Active Pharmaceutical Ingredients (API) kimia
  4. Menyederhanakan sistem dan proses perizinan
  5. Mendorong dan mengembangkan R&D sediaan farmasi dan alkes menuju kemandirian industri farmasi dan alkes
  6. Melakukan koordinasi dengan BPJS Kesehatan untuk memperluas faskes sesuai kebutuhan
  7. Mengembangkan sistem data dan informasi terintegrasi sesuai kebutuhan masyarakat, produksi, distribusi, pelayanan kesehatan serta industri farmasi dan alkes

Urgensi Kemandirian Obat, Bahan Baku Obat dan Alat Kesehatan

Peluang Industri Kesehatan di Indonesia. Tahun 2030: Jumlah kelas menengah di prediksi akan berjumlah 135 Juta jiwa, Tahun 2019: Target seluruh penduduk Indonesia (260 Juta jiwa) akan menjadi anggota BPJS. Tahun 2019:  Nilai dari pasar industri kesehatan Indonesia akan bernilai USD 21 Miliyar. 72% industri farmasi dikuasai perusahaan lokal. Akan tetapi, 95% bahan dasar berasal dari impor.

Transformasi Industri Farmasi & Prioritas Produksi Bahan Baku. Transformasi Menjadi Industri Farmasi Berbasis Riset. Rencana Bisnis Overview bisnis yang akan atau sedang dilaksanakan, milestone dan timeline bisnis, analisis dan feasibility study, permodalan, skema produksi/riset/ kerjasama/joint-venture/public-private partnership, skema pembiayaan, forecast, dan hal lain yang diperlukan.

Impor (API/Active pharmaceutical ingredients & Eksipien), Formulasi, Manufaktur, Distribusi menjadi R&D Intermediate, Uji Klinis, API, Formulasi, Manufaktur, Distribusi.

Industri Farmasi Indonesia yang Memproduksi Biopharmaceuticals Dan Bahan Baku Obat-Kimia (Api Chemicals). Biopharmaceuticals & Biosimilar: Dexa Medica (Fraksi protein bioaktif), Kalbe Farma (EPO, GCSF, Stem-Cell, Konsentrat, rekombinan protein), Biofarma (Vaksin), Combiphar (EPO, produk rekombinan), Efion (EPO, EGF, Somatropin), Etana (EPO, Bahan baku EPO, GCSF).

Bahan Baku Kimia: Kimia Farma (Atorvastatin, Simvastatis, Rosuvastatin, Clopidogrel, Pantoprazole, Esomeprazole, Rabeprazole, Lauroyl, Lysine, Arginine Nitrate, Arginine a-ketoglutarate, Milk, Thistle, Thiamine Dilaurylsulfate, 1,2 Hexanediol, Ceramide), Amarox (Telmisartan, Valsartan, Moxifloxacin, Clopidrogel, Olanzapin, ARV untuk Hepatitis C dan hepatitis B).

Formularium Fitofarmaka, Peta Jalan Obat Herbal Digunakan di Pelayanan Kesehatan

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/1163/2022 Tentang Formularium Fitofarmaka. Latar Belakang Formularium Fitofarmaka. Keadaan masyarakat Indonesia di masa depan atau visi yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan dirumuskan sebagai: "Indonesia Sehat 2025".

Dalam Indonesia Sehat 2025, lingkungan strategis pembangunan kesehatan yang diharapkan adalah lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat jasmani, rohani maupun sosial, yaitu lingkungan yang bebas dari kerawanan sosial budaya dan polusi, tersedianya air minum dan sarana sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan, serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang memiliki solidaritas sosial dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa.

Perilaku masyarakat yang diharapkan dalam Indonesia Sehat 2025 adalah perilaku yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan; mencegah risiko terjadinya penyakit; melindungi diri dari ancaman penyakit dan masalah kesehatan lainnya; sadar hukum; serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat, termasuk menyelenggarakan masyarakat sehat dan aman (safe community).

Pengembangan dan peningkatan produksi fitofarmaka perlu didukung dengan peningkatan penggunaan fitofarmaka. Penggunaan fitofarmaka dan obat herbal terstandar di fasilitas pelayanan kesehatan telah diatur dalam Permenkes No. 21 tahun 2016 tentang Penggunaan Dana Kapitasi JKN untuk Jasa Pelayanan Kesehatan dan Dukungan Biaya Operasional pada FKTP Milik Pemda.

Selain itu, penggunaan fitofarmaka dan obat herbal terstandar di fasilitas pelayanan kesehatan dapat melalui pemanfataan dana alokasi khusus, terakhir melalui Permenkes No. 3 tahun 2022 tentang Petunjuk Operasional Penggunaan Dana Alokasi Khusus Fisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2022.

Formularium Fitofarmaka dilaunching oleh Kementerian Kesehatan pada 31 Mei 2022, menjadi pedoman secara legal penggunaan obat herbal Fitofarmaka di Pelayanan Kesehatan dengan menggunakan dana DAK (Dana Alokasi Khusus).

Penyediaan Fitofarmaka Berdasarkan Formularium Fitofarmaka di fasilitas pelayanan kesehatan mengoptimalkan penggunaan dana DAK, dana kapitasi, APBD dan sumber dana lainnya.

Pelayanan fitofarmaka di fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan oleh Apoteker atau tenaga teknis kefarmasian (TTK) di sarana pelayanan kefarmasian menggunakan daftar fitofarmaka dalam Formularium Fitofarmaka. Fitofarmaka tersebut dicantumkan dalam katalog elektronik yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Manfaat Formularium Fitofarmaka: 1. Menetapkan penggunaan Fitofarmaka yang aman, bermutu, berkhasiat, dan terjangkau. 2. Mengoptimalkan pemanfaatan Fitofarmaka. 3. Menjadi acuan untuk perencanaan kebutuhan obat tradisional pada Dana Alokasi Khusus (DAK).

OMAI Diresepkan Dokter Indonesia dan Dokter Manca Negara

Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) adalah Obat Herbal yang sudah melalui uji pra klinis dan uji klinis dikategorikan Fitofarmaka- yang kemudian populer di sebut Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) Fitofarmaka.

Kami mengidentifikasi, mengekstrak, dan menguji biomolekul yang berasal dari kekayaan alam biodiversitas asli Indonesia. Kemudian, kami membuat ekstrak bahan alam yang sangat berharga tersebut menjadi obat-obatan herbal yang sangat aman dan efektif.

Industri farmasi yang menjadi pioner riset OMAI, yang kemudian memproduksi dan memasarkan adalah Dexa Group. Saat ini, Dexa Group memiliki 19 produk OMAI- kategori Fitofarmaka dan Obat Herbal Terstandar (OHT), yang merupakan hasil inovasi penelitian di Pusat Riset OMAI Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences- yang dipimpin oleh Prof. Dr. Raymond Rubianto Tjandrawinata.

Produk OMAI Dexa Group telah diresepkan oleh ribuan dokter Indonesia dan dokter berbagai negara-khususnya dokter di kawasan ASEAN.

Produk OMAI terbuat dari bahan alam Indonesia, diriset oleh saintis Indonesia, diproduksi dan dipasarkan oleh perusahaan Indonesia. Dengan TKDN yang sangat tinggi, OMAI dapat menjadi lokomotif kemandirian obat berbasis bahan alam Indonesia.

Pemanfaatannya di dalam Sistem Kesehatan Nasional-BPJS Kesehatan tentu akan membuka peluang OMAI Fitofarmaka yang sudah melalui uji klinis ini menjadi pilar resiliensi kefarmasian nasional.

Depok, 1 Januari 2023


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU, NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2023. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: