Badan POM: Dua Skema Pengembangan Vaksin COVID-19
Tanggal Posting : Rabu, 2 September 2020 | 05:09
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 244 Kali
Badan POM:  Dua Skema Pengembangan Vaksin COVID-19
Keterangan Pers Kepala Badan POM dan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 di Istana Kepresidenan Jakarta,pada Selasa, 1 September 2020.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia terus berupaya melakukan percepatan penanganan COVID-19 termasuk pencarian, pengembangan, dan penyediaan obat dan vaksin.

Penny K. Lukito menjelaskan bahwa proses pencarian vaksin di Indonesia dilakukan melalui dua skema yaitu pengembangan vaksin merah putih secara mandiri dan juga kerja sama internasional pengembangan vaksin yang melibatkan Industri Farmasi di Indonesia.

"Badan POM sebagai otoritas pengawas obat dan makanan di Indonesia ikut serta berperan aktif dalam dua jalur pengembangan vaksin ini," jelasnya saat acara "Keterangan Pers Kepala Badan POM dan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19" di Istana Kepresidenan Jakarta,pada Selasa, 1 September 2020.

Proses pencarian vaksin COVID-19 dalam lingkup penelitian dan pengembangan terus dilakukan di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Berdasarkan data World Health Organizaton (WHO) hingga 28 Agustus 2020, tercatat terdapat 33 kandidat vaksin dalam tahap uji klinik dan 143 kandidat lain dalam tahap uji pra klinik di seluruh dunia.

Juru Bicara Pemerintah dalam Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito mengatakan bahwa WHO telah menetapkan pentingnya berbagi vaksin untuk mencapai kesembuhan global secara bersama. "WHO menetapkan bahwa vaksin COVID-19 adalah barang umum milik publik. Kerja sama dikembangkan oleh berbagai pihak di dunia termasuk Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan vaksin," ujar Wiku Adisasmito.

Penny K. Lukito menambahkan pada jalur pengembangan vaksin merah putih yang digawangi oleh Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Lembaga Eijkman, Badan POM telah membuat roadmap tahapan pengembangan vaksin yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan data preklinik, klinik, dan mutu.

"Peta jalan tersebut telah disampaikan kepada Menristek/ BRIN pada tanggal 14 Agustus 2020, yang kemudian akan ditindaklanjuti dengan FGD bersama stakeholder terkait membahas pengembangan vaksin tersebut. Diharapkan vaksin merah putih ini dapat memenuhi kebutuhan vaksin untuk program nasional pada awal tahun 2022 mendatang," ungkap Kepala Badan POM lebih lanjut.

Mekanisme pengembangan vaksin melalui kerja sama internasional yang dilakukan yaitu Sinovac bekerja sama dengan PT. Bio Farma, Genexine bekerja sama dengan PT. Kalbe Farma, dan Sinopharm (G42) bekerja sama dengan Kimia Farma.

Kepala Badan POM menyampaikan bahwa uji klinik untuk vaksin yang dikembangkan oleh Sinovac bekerja sama dengan Bio Farma telah dimulai sejak 11 Agustus 2020. Uji Klinik tersebut dilaksanakan oleh tim Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran dengan target subjek 1.620 orang.

"Badan POM melakukan pengawalan regulatori terkait pengembangan vaksin tersebut, dimulai dari penyusunan dan pemberian persetujuan protokol uji klinik, pengawalan pelaksanaan uji klinik, evaluasi hasil uji klinik untuk pemberian Emergency Use Authorization, dan persiapan sarana produksi di Bio Farma dalam melakukan transfer teknologi," jelasnya.

Berita Terkait: Badan POM Rilis Daftar OMAI 2020

BPOM dan Vaksi COVID

Kerjasama Internasional

Sementara itu, kerja sama internasional lainnya yang juga berjalan melibatkan perusahaan G-42 Uni Emirat Arab (UEA) dengan Sinopharm Tiongkok dan Kimia Farma Indonesia. Badan POM telah meninjau langsung proses pengembangan vaksin COVID-19 yang dibuat oleh Sinopharm dan uji klinik fase 3 yang dilakukan di UEA.

Peninjauan ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi data terkait pelaksanaan uji klinik dan berdialog dengan beberapa institusi dan perusahaan farmasi/ vaksin untuk membahas lebih lanjut kerja sama dalam pengembangan vaksin ini.

"Kami melihat uji klinis fase 3 dilaksanakan dengan sangat baik dan terorganisir. Terdapat beberapa aspek positif dalam pelaksanaan uji klinik ini antara lain partisipasi dari 22.000 peserta dengan keberagaman 119 kebangsaan. Keragaman populasi ini akan memberikan hasil uji klinik yang valid," tegas Kepala Badan POM.

Potensi kerja sama produksi ini perlu dimanfaatkan, mengingat Indonesia memiliki Bio Farma yang sudah melakukan ekspor ke lebih dari 150 negara. Selain itu, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga sudah menunjuk Indonesia sebagai Centre of Excellent dari vaksin dan bioteknologi. Indonesia menjadi lebih unggul sehingga bisa menyambut kerja sama ini untuk mengembangkan Industri Farmasi Indonesia.

"Kerja sama bukan hanya untuk mendatangkan vaksin, namun juga dalam pengembangan vaksin. Nantinya akan ada transfer teknologi, baik kerja sama dengan Sinovac ataupun Sinopharm," lanjutnya.

Dalam kerja sama disepakati terkait sharing data assessment report vaccine dari Sinopharm yang akan disampaikan G-42 pada September atau Oktober 2020. Hal tersebut akan mempercepat proses evaluasi data khasiat, keamanan, dan mutu vaksin Sinopharm sehingga akses vaksin akan lebih dipercepat. Badan POM akan memberikan dukungan langkah-langkah regulatori dalam rangka mengakselerasi akses vaksin COVID-19. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: