Badan POM: Bijak Membeli OT Online Masa Pandemi
Tanggal Posting : Jumat, 28 Mei 2021 | 08:38
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 466 Kali
Badan POM: Bijak Membeli OT Online Masa Pandemi
Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito, saat webinar Bincang-Bincang Seputar Penggunaan Obat Tradisional Aman Selama Masa Pandemi, Kamis, 27 Mei 2021.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Peminat obat tradisional dalam memelihara daya tahan tubuh semakin meningkat di tengah pandemi COVID-19 ini. Pertumbuhan demand obat tradisional yang semakin menanjak harus disertai dengan penggunaan secara bijak oleh masyarakat dalam memilih produk yang dipromosikan dan diedarkan, terutama melalui penjualan online.

Sebagaimana diketahui, peredaran obat tradisional secara daring meningkat tajam selama pandemi, sehingga klaim dan promosi yang berlebihan juga dapat dengan mudah meluas di tengah masyarakat. Menyikapi hal ini, Badan POM senantiasa melakukan upaya pelindungan kesehatan masyarakat agar terhindar dari kesalahan penggunaan produk obat tradisional.

Salah satunya melalui webinar Bincang-Bincang Seputar Penggunaan Obat Tradisional Aman Selama Masa Pandemi pada Hari Kamis, 27 Mei 2021, yang mengangkat tema “Bijak Menggunakan Obat Tradisional yang Diedarkan Secara Online pada Masa Pandemi”.

Webinar ini menghadirkan narasumber dari internal Badan POM, yaitu Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito; Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Reri Indriani; serta beberapa narasumber ahli lainnya, antara lain Ketua Indonesia e-Commerce Assosiation (IdEA) Bima Laga; Praktisi kesehatan dr. Purwantyastuti dan dr. Dewi Selvina Rosdiana; serta Public Figure Indi Barends. Acara dipandu langsung oleh Kemal Mochtar selaku Master of Ceremony (MC).

“Di masa pandemi ini, penggunaan obat herbal telah menjadi alternatif tersendiri, namun harus juga disadari oleh masyarakat sebagai konsumen dan diedukasi oleh tenaga kesehatan bahwa terdapat aspek keamanan yang harus diperhatikan pada pengunaan obat tradisional,” ungkap Kepala Badan POM kepada peserta webinar.

Berdasarkan data perizinan Badan POM tahun 2020, terlihat adanya peningkatan jumlah permohonan pendaftaran produk obat tradisional untuk memelihara daya tubuh sebesar 131,14% dibandingkan dengan tahun 2019. Secara khusus, data registrasi produk obat tradisional ke Badan POM di masa pandemi menunjukkan kenaikan lebih dari 2 kali lipat dibanding pada masa sebelum pandemi.

Tren tersebut menggambarkan peningkatan kebutuhan masyarakat akan penggunaan obat tradisional yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga membantu dalam mencegah infeksi virus. Hal ini berbeda dengan masa awal pandemi, ketika pemahaman terhadap virus masih minim dan pengetahuan terkait manfaat penggunaan produk obat tradisional di masa pandemi masih terbatas.

Berlatarbelakang keterbatasan supply produk dan proyeksi besarnya demand masyarakat pada saat itu, Badan POM memberikan rekomendasi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terhadap pemasukan beberapa obat tradisional impor sebagai donasi untuk percepatan penanganan pandemi, melalui Sistem Layanan Perizinan Tanggap Darurat pada Aplikasi Indonesia National Single Window (INSW).

“Di awal pandemi, terdapat obat tradisional yang diperbolehkan untuk masuk ke Indonesia sebagai obat donasi dengan ketentuan pre-market yang ketat, yaitu hanya boleh diedarkan melalui fasilitas Kesehatan, tidak diperjualbelikan, dan hanya dapat digunakan di bawah pengawasan dokter. Sekalipun produk tersebut mengandung substansi yang tidak perlu mendapatkan pengawasan dokter,” urai Kepala Badan POM.

Salah satu contohnya adalah produk Lianhua Qingwen Capsules (LQC), yang secara terbatas telah memiliki rekomendasi pemasukan produk dari Badan POM. Akan tetapi, dari hasil pengawasan terhadap distribusi dan penggunaan produk donasi tersebut, diketahui bahwa kepatuhan pihak pendonasi dalam memenuhi komitmen terhadap persyaratan masih rendah.

Hal tersebut juga ditandai dengan temuan penandaan pada produk donasi yang tidak sesuai persyaratan rekomendasi, adanya kegiatan jual-beli terhadap produk tersebut, dan pelaporan efek samping produk LQC donasi oleh tenaga kesehatan akibat penandaan yang tidak sesuai persyaratan rekomendasi.

Selain itu, berdasarkan hasil evaluasi keamaan dan manfaat yang dilakukan Badan POM bersama dengan tenaga ahli dan asosiasi profesi, produk LQC Donasi tidak terbukti dapat menahan laju keparahan (severity), tidak menurunkan angka kematian, serta tidak mempercepat konversi swab test menjadi negatif.

Sebaliknya, produk tersebut justru berisiko bagi kesehatan penggunanya, baik karena kandungan bahannya maupun kesalahan penggunaan. Menindaklajuti hasil evaluasi dan aspek risiko-manfaat terhadap LQC Donasi, Badan POM telah memutuskan untuk menghentikan rekomendasi terhadap pemasukan produk herbal donasi tersebut.

Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan melalui Penjelasan Badan POM RI Tentang Penghentian Produk Herbal Donasi Lianhua Qingwen Capsules (LQC) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 di Indonesia, yang diunggah melalui website Badan POM pada tanggal 22 Mei 2021.

Akan tetapi, ada pula produk LQC yang telah memperoleh izin edar dari Badan POM dan hingga saat ini masih boleh beredar dan digunakan di Indonesia. Indikasi penggunaan yang disetujui adalah membantu meredakan panas dalam yang disertai tenggorokan kering dan membantu meredakan batuk.

Terkait hal ini, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Reri Indriani memberikan penjelasan singkat bagi masyarakat untuk mengenali produk LQC legal dengan produk LQC Donasi yang sudah dihentikan rekomendasinya.

“Produk LQC yang legal dan memiliki izin edar dari Badan POM menggunakan penandaan dalam Bahasa Indonesia karena kewajiban pemilik izin edar adalah bahwa produk yang diedarkan harus memiliki penandaan dalam Bahasa Indonesia dan mencantumkan Nomor Izin Edar dari Badan POM,” tambahnya.

“Sementara produk LQC Donasi, yang saat ini sudah dihentikan rekomendasinya, menggunakan penandaan dalam Bahasa kanji dan juga diwajibkan untuk mencantumkan label “Tidak untuk Dijual” pada kemasannya. Ini cara mudah untuk membedakannya,” terang Reri Indriani.

“Selain itu, kami juga menemukan produk LQC ilegal yang bukan donasi, yang penandaan pada kemasannya juga menggunakan Bahasa Kanji. Temuan ini kemudian kami tindak lanjuti dengan penindakan”, lanjut Reri Indriani lagi.

Di akhir sesinya, Kepala Badan POM memberi petuah bahwa anggapan obat tradisional selalu aman belum tentu benar. Meski relatif aman, obat tradisional juga berpotensi menyebabkan efek yang tidak diinginkan. Kepanikan masyarakat dan ketidaktahuan akan penggunaan obat tradisional yang benar, dapat menyebabkan terjadinya kesalahan penggunaan yang berisiko bagi kesehatan.

“Tanggung jawab kita bersama untuk mencegah dan meningkatkan awareness masyarakat terhadap bahaya penggunaan obat tradisional yang tidak memenuhi syarat keamanan, khasiat, dan mutu,” ujar Kepala Badan POM mengakhiri sambutannya. (Sumber Berita: https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/22374/Badan-POM-Ajak-Masyarakat-Bijak-Membeli-Obat-Tradisional-Online-di-Masa-Pandemi.html). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: