Badan POM-sebagai Tim Fornas Herbal, Mendukung Fitofarmaka Masuk JKN
Tanggal Posting : Jumat, 5 Maret 2021 | 08:18
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 603 Kali
Badan POM-sebagai Tim Fornas Herbal, Mendukung Fitofarmaka Masuk JKN
Mendorong revisi Permenkes No. 54 Tahun 2018 tentang Penyusunan dan Penerapan Formularium Nasional dalam Penyelenggaraan JKN, agar OMAI masuk Fornas.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Produk hasil penelitian obat bahan alam diharapkan dapat digunakan pada pelayanan kesehatan. Ini momentum sangat baik, dimana saat ini Pemerintah- Kemenkes sebagai leader, dan Badan POM sudah diminta sebagai salah satu Tim Konas Penyusunan Fornas (Formularium Nasional) Obat Herbal.

Apa yang menjadi kebutuhan di Fornas Herbal, yang dikaitkan dengan disease burden- ini akan sangat mempengaruhi riset-riset yang akan dilakukan, supaya matching antara kebutuhan dan supply dari riset/inovasi,  kalau tidak akan menghadapi valley of death- jalan buntu.

"Momen akan disusunnya Fornas Herbal menjadi turn point bagi riset obat herbal. Dengan terus adanya dorongan masuknya Fitofarmaka dalam JKN, akan meningkatkan demand. Tetapi juga harus mempertajam supply-nya. Jangan sampai sudah over supply tidak sesuai, dan juga tentang aspek mutu dan lain-lain," ungkap Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Badan POM, Dra. Reri Indriani, Apt., M.Si.

Hal tersebut dikemukakannya saat memberikan tanggapan pada "Rapat Kerja Nasional Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi Tahun 2021 yang diadakan oleh BPPT", Kamis, 4 Maret 2021- yang dilakukan secara virtual.

Badan POM mendorong dan mendukung upaya untuk adanya Fornas untuk OHT dan Fitofarmaka. Mendorong revisi Permenkes No. 54 Tahun 2018 tentang Penyusunan dan Penerapan Formularium Nasional (Fornas) dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan, agar OMAI masuk ke dalam Fornas. Memasukan OMAI ke dalam JKN. Mendorong pemanfaatan OMAI dalam sistem kesehatan nasional.

Demikian antara lain kesimpulan yang disampaikan Reri Indriani, setelah mempresentasikan makalah berjudul "Pengawalan Badan POM dalam Mendukung Riset Nasional di Bidang Obat dan Makanan".

Secara lengkap Kesimpulan tersebut, sebagai berikut:

1.Kebijakan melalui dukungan regulasi dan simplifikasi prosedur

2.Pemilihan jenis atau platform teknologi secara selektif, tepat sasaran, dan spesifik akan menciptakan produk-produk inovatif yang berdaya saing, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, sehingga diharapkan akan mendukung kemandirian bangsa.

Pemilihan herbal yang akan dibeli menjadi sangat penting, memperhatikan ketersediaan bahan baku teknologi ektraksi dan formulasi, scale up dari skala lab ke skala industri.

Pemilihan indikasi juga sangat penting, agar penelitian menghasilkan produk yang memang dibutuhkan oleh masyarakat dan tenaga kesehatan. Hasil riset produk riset diharapkan dapat bermanfaat bagi:

  • Pelaksanaan kebijakan pemerintah
  • Semua lapisan masyarakat sehingga mensejahterakan masyarakat
  • Industri dalam negeri seperti dapat diproduksi dan dikonsumsi digunakan oleh industri lainnya sehingga dapat meningkatkan PDB perkapita
  • Peningkatan daya saing bangsa seperti produk dapat diekspor dan penguatan SDM
  • Menumbuhkembangkan perekonomian negara RI.
  • Lingkungan artinya ramah tidak berdampak kerusakan lingkungan

3. Aspek komersialisasi. Dukungan terhadap produk inovatif tersebut untuk mempunyai legalitas perijinan (baik sebagai Jamu, OHT, maupun Fitofarmaka), agar produk-produk inovatif tersebut dapat dipasarkan lebih luas hingga meningkatkan ekspor sehingga meningkatkan daya saing produk.

Produk hasil penelitian bahan alam diharapkan dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan. Badan POM mendorong dan mendukung upaya untuk adanya formularium nasional untuh OHT dan Fitofarmaka.

Badan POM juga telah menginisiasi pembentukan Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka. Di dalam satgas ini terdapat Bidang pengembangan pelayanan kesehatan tradisional dan juga bidang produksi dan promosi Fitofarmaka yang diharapkan dapat membantu aspek komersialisasi produk hasil penelitian.

Dalam makalahnya dengan sub-judul "Pengembangan Obat Bahan Alam yang Berbasis Penelitian Ilmiah", Reri Indriani menjelaskan: Tantangan, Strategi Uji Klinik Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) & Peran Badan POM pada Pengembangan OMAI.

Tantangan Uji Klinik OMAI:

  • Kurangnya kesiapan serta pemahaman peneliti dan site penelitian untuk melaksanakan uji klinik sesuai dengan standar Good Clinical Practice (GCP)/Cara Uji Klinik yang Baik
  • Adanya regulasi terkait pelayanan kesehatan yang tidak dapat mengakomodir pasien sebagai subjek penelitian uji klinik
  • Terbatasnya fasilitas yang dimiliki RS/site uji- baik untuk laboratorium, sarana perawatan, dan lain-lain
  • Data uji pra klinik tidak sejalan dengan uji klinik yang akan dilakukan

Strategi:

  • Membentuk Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemnafaatan Fitofarmaka (KepMenkoPMK No. 22/2019)
  • Mendorong revisi Permenkes No. 54 Tahun 2018 tentang Penyusunan dan Penerapan Formularium Nasional (Fornas) dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan, agar OMAI masuk ke dalam Fornas
  • Memasukan OMAI ke dalam JKN
  • Mendorong pemanfaatan OMAI dalam Sistem Kesehatan Nasional

Peran Badan POM Pada Perkembangan OMAI:

  • Pendampingan penyusunan protokol uji dan pendampingan pelaksanaan uji klinik
  • Percepatan hilirisasi produk hasil riset
  • Penyusunan/revisi pedoman/regulasi terkait uji klinik dan uji pra klinik obat herbal
  • Coaching clinic
  • Pelatihan cara uji klinik yang baik (CUKB) bagi peneliti. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: